*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Indie
Weerbaar (Pertahanan Hindia Tangguhh) di Batavia adalah sebuah gerakan dan komite pertahanan yang dibentuk pada Juli 1916 . Gerakan ini digagas oleh Gubernur Jenderal JP van Limburg Stirum
sebagai respons atas pecahnya Perang Dunia I (1914). Pemerintah Hindia Belanda khawatir
wilayah Hindia Belanda akan mendapat serangan dari luar, mengingat kekuatan militer
resmi KNIL sangat terbatas. Pemerintah ingin merangkul penduduk pribumi. Apakah ini awal permulaan negara Indonesia? Sejarah Catur di Indonesia

Nama Indonesia diadopsi mulai tahun 1917: Het Indonesisch Verbond van
Studeerenden (Persatuan Mahasiswa Indonesia) adalah organisasi mahasiswa yang
didirikan di Belanda pada tahun 1917 untuk menyatukan mahasiswa asal Hindia yang
tertarik pada Hindia. Namun, organisasi payung tersebut terbukti tidak mampu
menjembatani perbedaan ideologis dan politik yang mendalam antara berbagai
kelompok mahasiswa dan berhenti beroperasi pada tahun 1923. Persatuan ini
berfokus pada mahasiswa Belanda yang mempersiapkan karier kolonial di kepulauan
tersebut, serta mahasiswa dari Hindia itu sendiri. Organisasi-organisasi besar
seperti Indische Vereeniging dan asosiasi Tionghoa-Hindia Chung Hwa Hui
bergabung. Ketua pertama adalah JA Jonkman. Peran sekretaris-bendahara dipegang
oleh HJ van Mook. Organisasi ini menerbitkan majalah Hindia Poetra sebagai
organ resminya. Meskipun sebagian besar mahasiswa Belanda memiliki pandangan
moderat atau konservatif terhadap koloni tersebut, Indische Vereeniging
mengalami radikalisasi sejak awal tahun 1920-an menuju kemerdekaan penuh.
Ketegangan ini menyebabkan berakhirnya aliansi pada tahun 1923 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Indie
Weerbaar di Batavia dan Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda?
Seperti disebut di atas, ada dua gerakan yang terjadi berurutan yakni
Pemerintah Hindia Belanda ingin merangkul penduduk pribumi untuk mempertahankan
negara (Indie Weerbaar, 1916) dan mahasiswa-mahasiswa Belanda ingin bersatu
dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi dan Cina di Belanda (Het Indonesisch Verbond
van Studeerenden, 1917). Lantas bagaimana dengan EFE Douwes Dekker, Tjipto
Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat? Lalu bagaimana sejarah Indie
Weerbaar di Batavia dan Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Deepublish

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Pertahanan Indonesia Tangguh (Indie
Weerbaar) di Batavia; Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat
Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Jika sejarawan gagal
memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri
akan menciptakan imajinasi sendiri. Demikianlah
yang terdapat dalam narasi sejarah Indonesia masa kini. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ sezaman.
Belanda
dan Jerman dalam banyak aspek dapat dikatakan lebih dekat satu sama lain
daripada berjauhan. Berada di daerah aliran sungai (DAS) yang sama: sungai Rhein,
Belanda di hilir Belanda (di bawah-Nether-land) dan di hulu Jerman (di atas-Deutsch-land).
Orang Inggris menyebut penduduk di dua wilayah rendah itu Deutsch. Dalam hal
inilah orang Inggris menyebut orang-orang dari daratan Eropa Barat Laut yang
bahasanya mirip dengan Jerman (Deutsch). Kata diutisc dipakai dahulu untuk
membedakan bahasa rakyat biasa dari bahasa Latin yang dipakai kaum terpelajar. Sejak
abad ke-17 sebutan Deutsch ini hanya dipakai untuk warga negara Belanda saja (Deutsch
atau Dutch). Pada saat orang Belanda menjadi pelaut (menguasai navigasi
pelayaran) dan bahkan hingga sudah menguasai Hindia Timur (baca: Indonesia), pengetahun
dan teknologi dari Jerman turut memajukan Belanda. Hal itulah mengapa banyak
keahlian (dan orang) yang terdapat di tubuh VOC berasal dari Jerman seperti senjata,
militer, percetakan dan sebagainya sebagaimana kemudian direpresentasikan pada
nama-nama Dr FW Jung Huhn dan De Muller (dua ahli geologi pertama di wilayah
Hindia Belanda). Pelaut-pelaut Belanda yang sudah mulai mencapai Jepang, kerajaan
Jepang kemudian lebih percaya Belanda dari pada Portugis, karena tingkat pengetahuan
dan teknologi Belanda yang pada akhirnya Kerajaan Jepang mengusir Portugis dari
Jepang dan pada tahun 1641 menjadikan Belanda satu-satunya yang dapat berdagang
di seluruh wilayah Jepang. Seperti di Indonesia (baca: Hindia Belanda),
pengaruh Belanda di Jepang sudah tertanam berabad-abad hingga pada tahun 1861
seorang dokter Belanda Nagasaki membawa sejumlah pemuda Jepang untuk belajar
((kuliah) di Belanda. Bersamaan dengan itu, kerajaan Jepang juga mengirim
utusan untuk pembuatan kapal-kapal perang di Belanda untuk dikirim ke Jepang.
Salah satu mahasiswa yang belajar teknologi kapal, kemudian yang akan membawa
kapal perang itu ke Jepang. Namun para sarjana Jepang memahami bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi tinggi berada di Jerman yang kemudian mengalihkan
perhatian Jepang ke Jerman. Untuk mendukung itu rute pelayaran langsung antara
Jerman dan Jepang (dan sebaliknya) dibuka. Dampaknya cepat terasa, Jepang
menjadi maju pesat dalam segala bidang, bahkan sudah mencapai level Belanda
(hanya dalam tempo singkat 40 tahun sejak 1861). Pada masa inilah orang-orang
Jepang sudah mulai masuk secara deras ke wilayah Indonesia (baca: Hindia
Belanda) dengan barang-barang industrinya. Pada tahun 1903 konsul Jepang sudah
ditempatkan di Batavia, kemudian ditambah lagi di Soerabaja dan Manado lalu kemudian
menyusul di Medan (perluasan dari perwakilan Jepang di Singapura). Melihat
semua itu, orang Belanda di Indonesia “molohok”. Sejak ini pula orang-orang
Belanda di Indonesia mulai khawatir, bahwa kekuatan asing (Jerman) tidak hanya
terjadi di Belanda (Eropa), juga kekuatan asing di Asia timur (Jepang) juga
terjadi di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Orang-orang terpelajar Belanda di
Belanda, yang memiliki minat kepada Indonesia (baca: Hindia) mulai menyadarinya
sehingga Vereeniging Oost en West didirikan di Den Haag tahun 1899 dan
Vereeniging Moederland en Koloniën didirikan di Den Haag pada tahun 1901. Mahasiswa-mahasiswa
Indonesia di Belanda mulai dirangkul mereka seperti Dr Abdoel Rivai, Baginda
Djamaloedin, Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, Dr Ph Laoh, Hoesein
Djajadiningrat dan lainnya. Selanjutnya dengan semakin menguatnya penetrasi
Jepang di Hindia dan semakin kuatnya dorongan sebagian orang Belanda untuk mengangkat
derajat orang pribumi di Indonesia (dalam konteks politik etik dan politik
kerjasama), orang-orang terpelajar Indonesia, terutama yang studi di Belanda sangat
memahami dinamika yang terjadi. Soetan Casajangan, mahasiswa keguruan di
Belanda menginisiasi membangun persatuan diantara mahasiswa Indonesia dengan
didirikannya organisasi mahasiswa pribumi Indische Vereeniging pada tahun 1909.
Sejak inilah orang-orang Indonesia yang semakin banyak yang studi di Belanda mulai
menyadari bahwa peta geopolitik Indonesia telah berubah. Gerakan-gerakan
intelektual orang Indonesia pun mulai bermunculan dalam konteks politik.
Gerakan-gerakan intelektual orang Hindia (orang pribumi dan Indo Eropa)
yang dalam konteks politik yang pertama adalah Studiefonds Indische Vereeniging
di Belanda dan kemudian disusul dengan meunculnya partai politik Indische
Partij di Indonesia. Dua gerakan intelektual ini muncul sebagai respon terhadap
ketidakadilan yang semakin menganga. Dua gerakan intelektual ini dengan sadar
berjuang untuk menuntut hak yang sama bagi semua bangsa “coklat” dan “putih”. Soetan
Casajangan, mantan ketua Indische Vereeniging dan yang telah memiliki akta guru
MO (pendidikan keguruan tertinggi di Belanda—kira-kira sarjana pendidikan IKIP
pada masa ini) sebagai pengajar bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool
di Haarlem dan Rotterdam diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien
(Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia
Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan
pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan
makalah 18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan
pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya.
Geachte
Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).
“…saya
selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada ibu pertiwa
tidak pernah luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk
langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan
(yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak
juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri
kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan
pendidikan yang lebih tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam
berpidato ini ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya
(melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)”.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Soetan Casajangan saat berpidato itu
mewakili bangsanya. Berabad-abad orang Belanda “menghisap” kekayaan alam dan
jerih payah orang Indonesia, hingga tahun 1911 baru tujuh orang pribumi yang
sarjana (guru hanya satu orang, Soetan Casajangan sendiri) atas biaya sendiri tanpa
dukungan pemerintah (perguruan tinggi/universitas hanya ada di Belanda).
Tidak
adanya respon pemerintah selama ini, bahkan setelah Soetan Casajangan berpidato
di forum Vereeniging Moederland en Kolonien di Belanda (beritanya ada surat kabar
dan naskah pidatonya tersebut diterbitkan oleh Vereeniging Moederland en
Kolonien di Belanda, lalu Soetan Casajangan mulai mencari jalan keluar menyasar
para donator di Belanda (non-pemerintah). Soetan Casajangan yang dibantu oleh Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja
Soangkoepon mulai merintis pembentukan dana studi (Studiefonds). Sementara itu
di Indonesia (baca: Hindia), pada bulan Agustus 1912 terjadi revolusi di tubuh
Indische Bond (organisasi orang-orang Indo Eropa) di Batavia yang kemudian terbentuk
Indische Partij (dengan memilih pusatnya di Bandoeng). Pada bulan Oktober EFE
Douwes Dekker mengajak Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (di Kepandjen, Malang) untuk
ikut bergabung Indische Partij. Soetan Casajangan di Belanda, pada tanggal 19 Desember 1912 diundang oleh Vereeniging Oost en
West cabang Amsterdam untuk berpidato. Soetan Casajangan membawakan makalah
dengan judul “Een en ander ter bevordering van den vooruitgang van
Nederlandsch-lndie (Hal-hal lain untuk mempromosikan kemajuan Hindia Belanda). Pada pertemuan yang diadakan di Bandoeng pada tanggal 25 Desember 1912, Indische
Partij secara resmi dididirikan yang mana di dalam badan pengurus pusat nama Dr
Tjipto Mangoenkoesoemo duduk sebagai wakil ketua sementara yang menjadi ketua Indische
Partij adalah EFE Douwes Dekker. Sekretariat dipimpin oleh JG van Ham dan bendahara
GP Carli. Suatu komite dibentuk untuk mempersiapkan statuda (AD/ART). Pidato
Soetan Casajangan dimuat pada jurnal/majalah Het koloniaal weekblad; orgaan der
Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 2, 09-01-1913. Intinya guru Soetan
Casajangan menunjukkan betapa pentingnya pendidikan untuk pembangunan, untuk
seluruh Hindia Belanda. Selain anak-anak, Soetan Casajangan juga ingin pendidikan
bagi orang tua, terutama di bidang pertanian, peternakan, dan perdagangan. Hanya
dengan demikian, menurut Soetan Casajangan bangsa Belanda yang kecil (penduduk
sedikit wilayah sempit di Eropa) akan berdiri tegak (bermartabat) di hadapan
wilayah Indonesia yang besar (penduduk banyak wilayah luas di Asia). Isi pidato
Soetan Casajangan tersebut diapresiasi oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dengan
beberapa komentar kritis yang dimuat pada surat kabar De expres, 12-02-1913.
Setelah pendirian Studifonds di Belanda dan diundang
oleh Vereeniging Oost en West cabang Amsterdam untuk pada
tanggal 19 Desember 1912, Soetan Casajangan menulis artikel
yang kemudian diterbitkan pada tanggal 11 Februari di surat kabar di Hindia
dengan judul ‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia!’ yang pada intinya Soetan
Casajangan meminta dukungan dari Hindia Belanda dengan menyatakan ‘untuk memohon
kesediaan Anda, bangsa Belanda, untuk berkorban. Anda, warga negara Belanda dan
asosiasi yang memiliki badan hukum, tentu siap untuk mengumpulkan dana untuk
tujuan: “Memungkinkan penduduk pribumi di Belanda untuk memperoleh
perkembangan dalam hal-hal yang paling penting: pendidikan, perdagangan, dan
pembangunan”, dalam dana pendidikan (studiefonds), yang darinya biaya
dapat ditutupi untuk memberikan pendidikan tingkat yang lebih tinggi kepada
beberapa penduduk pribumi di Belanda setiap tahun, dan yang juga berfungsi
untuk peningkatan dan perluasan sekolah di Hindia Belanda. Di Hindia terdapat
keinginan untuk pembangunan yang lebih besar, untuk pendidikan yang lebih baik
oleh ribuan penduduk pribumi, yang mana Belanda selama berabad-abad telah
bekerja sama untuk memberi manfaat bagi Belanda dan orang Belanda secara
materi.
Dengan jutaan penduduk
pribumi sebagai teman, kepemilikan Insulinde dijamin untuk Belanda; Dengan
jutaan penduduk pribumi sebagai lawan yang acuh tak acuh atau, lebih buruk
lagi, sebagai lawan yang tidak puas, pada akhirnya akan terbukti mustahil bagi
Belanda kecil untuk mempertahankan kepemilikannya terhadap musuh asing atau
domestik yang kuat. Memanfaatkan arus tersebut di antara penduduk pribumi pada
waktu yang tepat dan memberikan arahan, saat ini, merupakan tugas besar dan
benar-benar bersejarah yang diemban oleh Belanda. Soetan Casajangan mengingat
kan “bahwa rakyat Belanda, akan merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda
tahun ini; semoga tahun 1913 ini menjadi awal kebebasan spiritual dan
kebangkitan spiritual bakat-bakat yang tertidur dari ribuan warga Belanda di
Hindia Belanda. Siapa pun di antara pembaca artikel ini, yang diterbitkan di
surat kabar Belanda yang paling banyak dibaca, yang merasa simpati terhadap
upaya ini, hendaknya mereka mempertimbangkan: “Setiap orang Belanda
memiliki kepentingan di Belanda dan bahwa hegemoni Belanda terletak di Hindia,
hendaknya mereka menunjukkan hal ini dengan mengirimkan kartu nama mereka
kepada R Soetan Casajangan Sp, Copemicusstraat 131, Den Haag, sehingga
pertemuan pertama untuk pembentukan komite dan dewan dapat diadakan sesegera
mungkin”.
Dalam artikel tersebut Soetan Casajangan tidak hanya
menyindir orang-orang Belanda, Soetan Casajangan juga terkesan telah memberi
sinyal ancaman bagi orang-orang Belanda. Artikel Soetan Casajangan itu
ditanggapi secara dingin di Hindia, tetapi berbagai macam reaksi muncul di
Belanda. Boleh jadi orang-orang Belanda di Hindia lebih memperhatikan isu
tentang statute Indische Partij.
Sementara
itu di Hindia, statuta atau permohonan badan hukum Indische Partij resmi
ditolak oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Idenburg pada tanggal 4 Maret
1913. Setelah pengurus Indische Partij melakukan revisi pada statute mereka, Gubernur
Jenderal Hindia Belanda Idenburg kembali mengeluarkan surat keputusan penolakan
yang memperkuat keputusan pertama pada tanggal 11 Maret 1913’. Tamat sudah
Indische Partij.
Soetan Casajangan juga mengirimkan artikel dengan topic
yang sama yang dimuat oleh surat kabar Het vaderland, 12-03-1913 dengan memberi
judul yang sama ‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia!’. Soetan Casajangan dalam
arikelnya juga juga mengutip pernyataan ATN Engelenberg, yang sedang cuti,
berbicara dengan tepat, dengan kata-kata berikut: “Hendaknya Belanda
memperhatikan, “bahwa pengorbanan demi Hindia ini juga merupakan “investasi
yang baik, karena “dengan itu tangan antara Belanda dan Hindia dapat
diperkuat…“Semoga Kekaisaran menjadi satu rumah sejati bagi “semua bangsa dan
semua agama yang dicakupnya, sehingga pada saat cobaan “semua berdiri
bahu-membahu untuk “menangkal bahaya”. Soetan Casajangan dalam artikelnya juga
membuat suarat D Soesman kepada editor surat kabar tersebut, yang pada intinya
menyatakan: “Apa lagi pertahanan terbaik bagi wilayah kita yang indah?”
“Pendidikan umum dan pengasuhan yang baik dan bijaksana bagi warga Hindia.
Biarlah warga Belanda yang berpendidikan tinggi dan berpikiran baik menunjukkan
bahwa mereka sangat memahami apa yang menjadi kepentingan negara mereka dan apa
yang perlu dilakukan untuk kerajaan-kerajaan tersebut”.
Soetan Casajangan
melanjutkan: Dan sebagai orang Batak pribumi, saya dengan senang hati akan
mendukung kata-kata orang Eropa yang berwibawa ini, para ahli tentang Hindia
dan kondisi disana, dengan keyakinan dan pengalaman saya yang diperoleh selama
bertahun-tahun tinggal di antara penduduk pribumi, bahwa penduduk pribumi saat
ini mengharapkan peningkatan moral dari Belanda, yang akan memungkinkan mereka
untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan di mana pun, yang akan
memberi mereka kemakmuran praktis yang lebih besar dan, dalam arti ideal,
membuat mereka “lebih manusiawi”. Minat dan perhatian tanpa disengaja
dari penduduk pribumi adalah faktor terbaik yang dapat dibayangkan untuk
mengamankan Hindia bagi kita. Lagipula, di sekolah kita mengamati bahwa hasil
pendidikan sangat bagus ketika minat dan perhatian tanpa disengaja dari para
siswa hadir. Dengan demikian, kita hanya perlu memastikan bahwa metode dan
bahan pengajaran itu baik. Oleh karena itu, kita hanya perlu memastikan bahwa
minat dan perhatian itu harus dimanfaatkan. Lebih lanjut: Jika ia memiliki
perkembangan itu, ia akan mempertimbangkan sendiri agama apa yang akan
dianutnya dan bangsanya. Betapa tugas yang “besar” bagi “Bangsa
yang kecil!”. “Biarlah Belanda sekarang menunjukkan kebesarannya, “dalam
segala hal yang dapat dilakukan oleh negara kecil!” Jumlah penduduk pribumi
yang, dengan mengatasi berbagai rintangan, datang untuk menyelesaikan
pendidikan mereka di Belanda di sekolah-sekolah Belanda semakin meningkat; dan
ini tentu akan menjadi jauh lebih besar jika pengorbanan finansial yang besar
tidak sering menjadi penghalang. Keinginan penduduk pribumi untuk lebih banyak
sekolah, untuk pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, semakin tumbuh
setiap hari. Jika sekolah dasar pertama-tama diorganisir dengan benar dan
didasarkan pada sekolah-sekolah Eropa, maka lembaga pendidikan menengah dan
tinggi akan muncul dengan sendirinya. Tidakkah rakyat Belanda benar-benar ingin
menjangkau penduduk pribumi? Biarlah tahun 1913, Tahun Yubileum yang akan
datang, juga menjadi Tahun Yubileum bagi warga Belanda keturunan cokelat di
Hindia Belanda, di mana warga tersebut dapat menjadi saksi atas dukungan yang
diberikan dari Belanda untuk mengangkat mereka melalui pendidikan tinggi ke
keadaan “kebebasan” spiritual. Pendirian dan pembukaan berbagai
lembaga pendidikan di Hindia Belanda hanya dapat dilakukan selama
bertahun-tahun; Namun, Belanda memiliki banyak sekolah yang bagus, di mana
terdapat banyak kesempatan bagi para pemimpin di bidang pendidikan, pertanian,
dan perdagangan untuk menerima pendidikan yang lengkap di bidang tersebut.
Baiklah, warga Belanda! Di antara penduduk pribumi terdapat kebutuhan dan
keinginan besar akan pendidikan yang lebih tinggi, terutama bahasa Belanda,
pengetahuan tentang pertanian dan peternakan, serta pengetahuan komersial.
Teguhlah, warga Belanda! Sekarang, melalui bantuan keuangan, penduduk pribumi
dapat memperoleh pengetahuan dan pengembangan tersebut di Belanda! Kita hanya
perlu berpikir bahwa, jika setiap orang bersedia membayar sebagian kecil dari
pajak yang harus dibayar di negara ini, dengan mempertimbangkannya sebagai
kontribusi sukarela untuk peningkatan kesejahteraan kita… Saudara-saudara di
Hindia, melalui pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, juga sebagai tanda
kemurahan hati Belanda yang terkenal luas, atau mungkin oleh sebagian orang
sebagai pengakuan atas kehormatan yang lebih terkenal, kita dapat memiliki
fondasi yang kuat untuk pendirian: “LEMBAGA ABADI UNTUK PERSATUAN DAN
KEMAJUAN” (yang akan diberikan sebagai uang muka tanpa bunga kepada para
siswa dengan jaminan asuransi jiwa), kemudian penduduk pribumi tersebut,
setelah kembali ke Hindia, akan menyebarkan pengetahuan yang diperoleh di
antara penduduk, dan imbalannya juga akan dipetik seratus kali lipat oleh
kalian, para pemuda Belanda, melalui penghargaan, rasa hormat, rasa syukur, dan
pengabdian yang tulus dari penduduk pribumi terhadap Kekaisaran Belanda, yang
akan disebut “sesungguhnya”: “BELANDA YANG LUAR BIASA” dan
terdiri dari provinsi-provinsi di Eropa dan di Hindia, hanya satu Kekaisaran
yang ada. Di mana, baik di sini maupun di tempat lain, perkembangan yang lebih
besar dan kemakmuran yang lebih besar memerlukan kebutuhan yang lebih besar dan
daya beli yang lebih besar, bimbingan itu juga secara tidak langsung akan
menguntungkan Belanda dan perusahaan-perusahaan Belanda. Investasi dalam
pendidikan menghasilkan bunga yang tak ternilai’.
Soetan Casajangan menulis artikel singkat yang dikirim kepada editor surat
kabar Het vaderland yang kemudian diterbitkan pada edisi 25-03-1913. Isinya
antara lain untuk menyampaikan respek kepada editor yang sebelumnya telah
memuat artikelnya. Soetan Casajangan juga menyampaikan sudah ada respon yang
diterima dan bahkan simpati dari para petinggi kerajaan. Ini mengindikasikan
bahwa artikel Soetan Casajangan di surat kabar telah menyebabkan sebagian mata dan
telingan orang Belanda mulai terbuka.
Het
vaderland, 25-03-1913: ‘WARGA BELANDA! UNTUK RAKYAT INDONESIA!. Kepada Editor yang terhormat! Saya
dengan senang hati akan memanfaatkan keramahan Anda untuk kedua kalinya untuk
memberikan penjelasan lebih lanjut tentang beberapa bagian dari rencana yang
telah saya kembangkan. Saya memang telah menerima berbagai ungkapan simpati,
termasuk dari Yang Mulia Ibu Suri; dari Yang Mulia Pangeran Belanda; dari Yang
Mulia mantan Gubernur Jenderal JB van Heutsz, dll., dan studiefonds tersebut
kemungkinan besar akan didirikan. Saya hanya berharap dapat meningkatkan jumlah
kontributor melalui surat ini. Pada tahun 1913, tahun Yubileum Belanda,
menyisihkan sejumlah dana sekali untuk membiarkan kegembiraan itu bergema bagi
saudara-saudara kita di Hindia untuk kepentingan langsung kita sendiri tentu
bukanlah permintaan yang berlebihan; mereka ingin belajar bahasa Belanda,
gerbang menuju pembangunan, dorongan untuk lebih, untuk peradaban “Belanda”,
semakin lantang terdengar. Jika, untuk sementara waktu, dana yang akan dibentuk
hanya memungkinkan beberapa penduduk asli untuk menjadi guru—dan kemudian
cabang layanan lain akan disiapkan di Belanda—maka itu sudah akan membuka
kemungkinan bagi ratusan penduduk asli untuk memperoleh peradaban yang lebih
besar yang diinginkan dari salah satu dari mereka sendiri. Pendidikan dasar
adalah yang utama, fondasi dari perkembangan total; baru kemudian, dan melalui
itu, pendidikan menengah atau tinggi selanjutnya. Dengarkan bagaimana HJD
Apituley, seorang dokter Hindia, baru-baru ini mengungkapkan pendapatnya di
Amsterdam: “Untuk menjadikan perempuan pribumi sebagai pendidik yang layak bagi
anak-anaknya, sekolah diperlukan, di samping bimbingan dan kasih sayang dari
orang Belanda. Kembangkan pikiran dan hati perempuan Jawa, dan Anda akan
memiliki generasi Jawa yang baik. Jika Anda melihat tangan yang terulurkan
kepada Anda dari Hindia untuk dukungan, jangan menolaknya karena dia berkulit
cokelat; maka penduduk asli akan menghormati Belanda, karena hati ibunya
mendorongnya untuk melakukannya. Maka akan benar-benar ada Belanda yang Agung
di Asia” dan KWB, 20-03-1913. “Baiklah, wahai warga Belanda dari semua kalangan
dan tingkatan, janganlah ragu-ragu; jika Anda ingin berjabat tangan dengan
kami, bantulah, melalui kontribusi finansial, agar warga asli pertama dapat
dikirim tahun ini juga, 1913, untuk mempelajari budaya Belanda di Belanda dan,
setelah menyelesaikan studinya, membawanya kepada sesama warga Belanda di
wilayah Belanda di Insulinde. Pertemuan pertama para peserta akan segera
berlangsung. Semoga pembentukan dana dan pengangkatan administrator di negara
ini dapat diselesaikan sepenuhnya pada tanggal 30 April 1913. Setiap orang yang
bersimpati pada rencana ini—terutama para wanita dan pria Ind—dan yang belum
menunjukkannya hingga sekarang, sekali lagi meminta saya untuk mengirimkan
kartu nama, setelah itu setiap orang akan menerima undangan ke pertemuan
pendirian pertama. Karena pepatah mengatakan: “Banyak hal kecil
menghasilkan satu hal besar”. Terima kasih, Ed., atas ruang yang
diberikan. Hormat saya, R. SOETAN CASAJANGAN S.p. Copernicusstraat 131, Den
Haag’.
Demikian seorang guru Soetan Casajangan berjuang untuk bangsanya dengan
caranya sendiri, cara seorang guru. Lantas bagaimana dengan Indische Partij
setelah statunya ditolak pemerintah? Seperti disebut di atas, di dalam Indische
Partij pribumi diwakili oleh dokter Tjipto Mangoengkoesoemo.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Het Indonesisch Verbond van Studeerenden di Belanda: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, Nationaal Indische Partij (NIP) –
Sarekat Hindia (SH), 1919
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










