*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Beberapa hari lalu nama Sekolah Tinggi Teknil Delft (sekarang
TU Delft) menjadi perhatian para netizen Indonesia. TU Delft merupakan
universitas teknologi tertua dan terbesar di Belanda, menempati peringkat ke-47
dunia dalam QS World University Rankings 2026. Fokus utamanya mencakup teknik
sipil, teknologi air, hingga kedirgantaraan. Bukan tentang hal itu, tetapi
tentang salah satu alumninya. Artikel ini membicarakan tentang sejarah orang
Indonesia di TU Delft sejak alumni orang Indonesia pertama 132 tahun yang lalu. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Alumni Delft University of
Technology (TU Delft) asal Indonesia memiliki kontribusi besar dalam bidang
teknik dan teknologi, didukung oleh jaringan organisasi resmi di Indonesia. TU
Delft Chapter Indonesia merupakan wadah resmi bagi para alumni di Indonesia
untuk berjejaring dan berkolaborasi. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft
berperan sebagai jembatan bagi mahasiswa aktif dan calon alumni, rutin
mengadakan acara budaya dan akademik. Para lulusan TU Delft juga tergabung
dalam payung besar Ikatan Alumni PPI (IAPPI) yang sering berkolaborasi dengan
lembaga seperti BRIN. Banyak tokoh Indonesia lulusan TU Delft yang berkiprah di
pemerintahan, akademisi, dan industri teknik: Bimo Sasongko: Menjabat sebagai
Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (2020-2023) dan aktif dalam jaringan alumni TU
Delft. Made Tri Ari Penia Kresnowati: Salah satu akademisi ternama yang
tercatat dalam daftar alumni. Oetarjo Diran: Tokoh penerbangan Indonesia yang
dikenal luas sebagai pakar kedirgantaraan. Pangeran Poerbojo: Tokoh sejarah
Indonesia yang menempuh pendidikan di sana. Dwi Hartanto: Pernah menjadi
mahasiswa doktoral di TU Delft sebelum terlibat dalam kasus klaim prestasi yang
tidak akurat. Dwi Sasetyaningtyas: Alumni penerima beasiswa yang baru-baru ini
menjadi perhatian publik terkait status kewarganegaraan dan pengabdian
pasca-studi (AI
Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali
ke tanah air dan berjuang? Seperti disebut di atas, para alumni TU Derlft kini
menjadi perhatian, tetapi sejak temnpo doeloe sudah banyak orang Indonesia
studi di Delft seperti Tan Tjioen Liang lulus tahun 1894, Sarengat (1920), Han
Tiauw Tjong (1920), Soerachman (1922) dan seterusnya. Lalu bagaimana sejarah para alumni Teknik Delft (TU Delft) kembali
ke tanah air dan berjuang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional,
mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Para
Alumni Teknik Delft (TU Delft) Kembali ke Tanah Air dan Berjuang; Tan Tjioen
Liang, Raden Sarengat, Han Tiauw Tjong, Raden Soerachman, dkk
Technische Universiteit
Delft (TU Delf) tempo doeloe bermula dari sekolah industri Industrie-School te
Delft yang dibuka pada tahun 1842. Saat ini Edward Douwes Dekker di Indonesia
(baca: Hindia Belanda) mengadvokasi penduduk Angkola Mandailing dari
orang-orang Belanda yang rasis dalam menjalankan praktek penjajahan di afdeeling
Angkola Mandailing. Edward Douwes Dekker saat itu sebagai Controleur di
afdeeling Natal. Banyak penduduk Angkola Mandailing yang tidak tahan terhadap
kekejaman Koffiestelsel lalu mengungsi ke wilayah pantai termasuk di Natal.
Saat inilah Edward Douwes Dekker bereaksi dan memberi advokasi kepada para
pengungsi. Akibat tindakan Edward Douwes Dekker Gubernur Pantai Barat Sumatra
memecatnya dari jabatan Controleur lalu dihukum dengan tahanan rumah selama
satu tahun di Padang.
Algemeen Handelsblad, 25-02-1842: ‘Sekolah
Industri di Delft. Amsterdam, 23 Februari Rencana yang diumumkan untuk
mendirikan Sekolah Teknik di Delft telah menarik perhatian luas. Banyak yang
merasakan kebutuhan akan peningkatan pendidikan teknik di negara ini; tetapi
orang-orang juga bertanya-tanya bagaimana kaum muda yang dididik di Delft akan
menemukan pekerjaan yang sesuai. Industri tentu saja berada dalam kesulitan
besar di negara kita; dan siapa pun yang mempertimbangkan populasi besar
kota-kota kita, yang menderita kekurangan pekerjaan, seharusnya tidak
menginginkan populasi ini diberi pekerjaan; bukan hanya pekerjaan, seperti di
rumah-rumah amal dan rumah kerja, seperti memungut tali dan merajut kaus kaki;
tetapi pekerjaan yang menguntungkan seperti yang disediakan oleh pabrik-pabrik yang
berkembang. Siapa pun yang mengenal orang dan negara tidak yakin bahwa industri
yang berkembang adalah sumber dukungan terbesar bagi perdagangan domestik dan
luar negeri. Perdagangan luar negeri. Oleh karena itu, sangat diinginkan agar
industri dapat berkembang di negara kita. Tetapi akankah itu terjadi? Sangat
diragukan. Ada banyak alasan untuk keraguan ini: pertama, pajak tinggi, upah
mahal, sementara kebalikannya terjadi di negara-negara pesaing. Kedua, negara
kita kecil. Ketiga, bea impor dan ekspor, yang seharusnya melindungi industri,
sangat rendah di sini dibandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya; namun
perdagangan menunjukkan bahwa bea tersebut masih terlalu tinggi. Keempat,
semangat penduduk kaya sangat menentang semua industri. Kelima, hampir semua
perusahaan industri di negara ini telah gagal; dan yang bertahan pun jauh dari
kata berkembang. Keenam, baik pemerintah maupun bangsa tidak memiliki gagasan
yang kuat tentang nilai industri, atau tentang bagaimana mempromosikannya
secara efektif; kita hanya perlu mempertimbangkan perubahan yang konstan dan
tiba-tiba dalam sistem bea impor dan ekspor, baik di sini maupun di Jawa, dan
opini serta keinginan yang bertentangan di surat kabar umum. Karena semua ini
dan banyak sebab lainnya, yang terlalu panjang untuk disebutkan, situasi di
negara kita terkait industri sangat memprihatinkan. Namun, jika negara kita
ingin bertahan, industri harus menjadi salah satu perhatian utama, baik bagi
bangsa maupun pemerintah. Menurut penulis, masa depan tanah air terutama
bergantung pada hal ini. Atau, apa akibatnya ketika jumlah pengangguran dan
orang yang tidak memiliki pekerjaan terus bertambah, ketika orang-orang sakit
menderita beban yang begitu berat sehingga kegembiraan hidup, seolah-olah,
hilang? Tidakkah akan tiba saatnya ketika sisa-sisa kaum borjuis semakin
hancur, ketika beberapa pemilik modal kaya yang tersisa, yang kosmopolitan,
akan meninggalkan negara ini, dalam banyak hal kurang beruntung, untuk menetap
di daerah yang lebih istimewa? Tetapi sekarang, sekolah Delft; akankah sekolah
itu memenuhi kebutuhan yang ada? Apa yang akan dilakukan kaum muda ketika
mereka meninggalkan sekolah? Tidak ada kesempatan untuk mendirikan pabrik;
tidak ada pendanaan; tidak ada pelindung; formalitas yang tak berujung; tidak
ada perlindungan hukum. Tidak, sekolah Delft bisa menjadi baik dan unggul jika
negara kita, seperti Prancis, seperti Uni Pabean, memiliki unsur-unsur untuk
melihat sebuah industri lahir. Namun sekarang, karena segala sesuatunya
berkonspirasi untuk menghambat perkembangan unsur-unsur menguntungkan yang
disediakan oleh lokasi dan perdagangan bagi industri, sangat dikhawatirkan
bahwa pada akhirnya, sekolah hanya akan berfungsi untuk membangkitkan ilusi dan
menyebabkan kekecewaan besar di antara sejumlah anak muda yang berprestasi.
Janganlah kita lupakan dalam keseluruhan masalah ini bahwa keberadaan dan
perkembangan pabrik adalah cara alami dan terbaik untuk menciptakan
keterampilan teknis. Peningkatan keterampilan teknis adalah konsekuensi yang
diperlukan dari industri manufaktur yang berkembang. Di Inggris, tidak ada
kebutuhan akan sekolah teknik. Sekolah-sekolah teknik tersebut mungkin berguna,
tetapi mereka tidak dapat menciptakan industri manufaktur, dan kecerdasan para
guru maupun para peserta magang tidak akan menciptakan atau membangunnya’.
Sekolah di Delft tersebut
juga disebut School van industrie en handel te Delft (lihat Arnhemsche courant,
02-03-1842). Sekolah tersebut diharapkan menerjemahkan seluruh jangkauan
penelitian di tanah kita melalui pendidikan teknik, di luar pelatihan teknik
dan politeknik. Sementara itu di Delft sendiri sudah ada Koninklijke Akadcmij
te Delft. Sekolah teknik yang baru tersebut kemudian diintegrasikan dengan Koninklijke
Akadcmij te Delft. Sekolah teknik tersebut yang merupakan satu-satunya di
Belanda dengan berbagai hambatan akhirnya menemukan jalannya sebagai sekolah
tinggi yang berkualitas di Belanda. Sekolah teknik di Delft mulai mendapat perhatian
di parlemen (Tweede Kamer).
Delftsche courant, 11-12-1860: ‘Akademi Delft. Meskipun
kami telah memberikan laporan yang sangat akurat dalam edisi sebelumnya tentang
apa yang dikatakan mengenai Akademi Delft dalam pertemuan Majelis Rendah
Parlemen pada hari Rabu tanggal 2, kami menganggap tidak berlebihan, mengingat
pentingnya masalah ini bagi kami khususnya, untuk melaporkan secara verbatim
apa yang dapat dibaca dalam Suplemen Staatscourant, sebagai laporan resmi dari
jalannya sidang di Majelis Rendah Parlemen (Tweede Kamer), Bapak Wiütgons: “Sehubungan
dengan apa yang baru saja dikatakan, saya ingin menyampaikan beberapa patah
kata mengenai pendidikan teknik tinggi; maksud saya akademi di Delft. Dari
pihak saya, saya ingin mendesak Pemerintah untuk tidak mengabaikan kepentingan
akademi ini, dan untuk melaksanakan usulan yang diajukan oleh dewan akademi
kepada Menteri Dalam Negeri dan Koloni, sejauh mereka menganggap usulan ini
sesuai dengan kepentingan umum dan tujuan akademi. Tuan-tuan, ini adalah
masalah yang telah tertunda selama bertahun-tahun; Dan sangatlah diharapkan
agar tindakan diambil dan peraturan ditetapkan untuk perluasan dan
peningkatannya. Dalam salah satu dokumen yang dikeluarkan oleh Majelis ini,
sebuah celaan ditujukan kepada akademi ini, lebih khusus lagi kepada mereka
yang menyelesaikan studi mereka di sana; sebuah celaan yang tidak berdasar dan
tidak pantas. Saya berani mengatakan bahwa kehidupan di Delft dijalani dengan
baik dan penuh dengan pembelajaran yang berkualitas, dan bahwa, tentu saja
dibandingkan dengan akademi lain, tidak ada yang buruk yang dapat dikatakan
tentangnya. Tetapi kesalahannya terletak pada pembagian mata pelajaran. Ini
perlu ditangani. Kaum muda sedang dibawa ke lautan yang tak terbatas. Regulasi
yang tepat terhadap pendidikan itu sendiri bahkan lebih diperlukan; sudah
saatnya proposal yang diajukan kepada Pemerintah oleh dewan akademi
dipertimbangkan, dan perhatian Pemerintah diarahkan kepada proposal tersebut. .
Ini terlepas dari peraturan pendidikan tinggi atau menengah, yang mungkin
dibuat, dan jika kita menghargai manfaat nyata yang melekat pada lembaga
tersebut, yang dapat memiliki konsekuensi yang sangat besar dan bermanfaat bagi
masa depan negara, maka saya percaya saya dapat dengan sungguh-sungguh meminta
Menteri untuk memfokuskan perhatiannya pada pendidikan teknik tinggi yang
diberikan di sekolah politeknik di Delft, dan tidak takut akan peningkatan
pengeluaran, yang akan menghasilkan buah yang begitu melimpah di masa depan’.
Saat akademi di Delft telah
direspon pemerintah untuk diupgrade,
seorang siswa lulusan sekolah dasar (ELS) di Jogjakarta berangkat ke Belanda
bersama Residen Soerakarta yang akan cuti dua tahun ke Eropa. Siswa tersebut yang
merupakan cucu Sultan Jogja bernama Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke Belanda.
Pada tanggal 24 Juni 1864 FN Nieuwenhuijzen dan keluarga serta Ismangoen Danoe
Winoto berangkat dari Batavia dengan kapal uap Java menuju Belanda via
Singapoera (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 29-06-1864).
Sebelum Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke
Belanda, sudah ada satu siswa pribumi yang telah berhasil studi di Belanda.
Sati Nasoetion alias Willem Iskander atas biaya sendiri berangkat ke Berlanda tahun
1857. Pada tahun 1860 Willem Iskander lulus sekolah guru di Haarlem. Setelah
kembali ke tanah air, pada tahun 1862 Willem Iskander mendirikan sekolah guru
di Tanobato, Mandailing. Pada tahun 1864 Inspektur Pendidikan Pribumi CA van
der Chijs mengunjungi sekolah guru di Tanobato. Dalam laporan pendidikan tahun
1864 CA van der Chijs menyimpulkan sekolah guru di Tanobato adalah yang terbaik
dari dua sekolah guru lainnya yang berada di Soerakarta (didirikan tahun 1852)
dan di Fort de Kock (didirikan tahun 1856). Surat kabar mengutip laporan
tersebut, yang kemudian menjadi heboh di Jawa. Berbagai kritik bermunculan,
bahwa pemerintah tidak becus dalam meningkatkan mutu pendidikan pribumi. Saat
inilah Ismangoen Danoe Winoto berangkat studi ke Belanda. Kritik terus bergulir.
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
14-11-1868: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah perjuangan.
Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari kita
memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa, harus
belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan
(sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun
sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah
terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola
bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’. Tanggapan pemerintah
sangat lamban, sementara sekolah guru Tanobato terus menghasilkan guru-guru
berkualitas, sekolah guru yang asli yang berada di tangan seorang guru yang ahli.
Baru pada tahun 1874 memberangkatkan tiga guru muda ke Belanda atas biaya
(beasiswa) pemerintah untuk melanjutkan studinya (seperti yang pernah diraih
Willem Iskander). Tiga guru muda tersebut adalah Raden Soerono dari Soerakarta,
Raden Sasmita dari Bandoeng, dan Barnas Loebis dari Tapanoeli. Untuk menjadi
pembimbing tiga guru muda tersebut, ditunjuk Willem Iskander yang juga diberi
beasiswa untuk meningkatkan studinya lagi di Belanda. Oleh karena sekoilah guru
di Tanobato ditutup. Willem Iskander diharapkan sepulang studi menjadi direktur
sekolag guru yang baru di Padang Sidempean yang akan dibuka pada tahun 1879.
Willem Iskander adalah kakek buyut Prof Andi Hakim Nasoetion, rektor IPB Bogor
(1978-1987).
Ismangoen Danoe Winoto di
Belanda tidak studi dalam keguruan, tetapi studi sekolah umum (HBS). Ismangoen
Danoe Winoto tampaknya tidak menemui kesulitan dalam studi. Hal serupa ini juga
dulu pernah dialami oleh Willem Iskander. Setelah lulus HBS, Ismangoen Danoe
Winoto melanjutkan studi ke Akademi di Delft. Akhirnya tahun 1875 Ismangoen
Danoe Winoto lulus studi (lihat De standaard, 15-07-1875).
Lulusan akademi di Delft berhak diangkat sebagai
pejabat pemerintah (Ambtenar) di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto dan
kawan-kawan diangkat Menteri Koloni sebagai pegawai pemerintah di Hindia
Belanda berdasarkan tanggal 28 Agustus (lihat Algemeen Handelsblad,
02-09-1875). Namun seiring dengan kelulusan Ismangoen Danoe Winoto dan
penempatannya muncul isu yang mana Ismangoen Danoe Winoto yang berpendidikan
lisensi Eropa/Belanda tetapi tidak bisa menjadi pejabat di lingkungan
Eropa/Belanda di Hindia Belanda (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-12-1875).
Ismangoen Danoe Winoto, sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku, pejabat
pemerintahan hanya diperuntukkan untuk orang Eropa/Belanda. Orang pribumi di
Hindia Belanda meski memiliki pendidikan lisensi Eropa/Belanda hanya dapat
diangkat di pengadilan (Landraad) atau pejabat di lingkungan penduduk pribumi.
Ismangoen Danoe Winoto meradang.
Willem Iskander di Belanda
menyelesaikan studinya pada akhir tahun 1875. Namun Willem Iskander sangat bersedih.
Mengapa? Tiga guru muda yang dibawanya pada tahun 1874 hanya tinggal satu orang
dan belum selesai studi. Barnas Loebis meninggal dunia meninggal dunia pada
bulan Juni 1875. Sementara Raden Soerono yang sakit berat, menurut dokter harus
dibawa ke wilayah tropis untuk penyembuhannya. Namun Raden Soerono meninggal di
tengah pelayan dan dikuburkan di Port Said (terusanb Suez).
Di tengah kesedihan Ismangoen Danoe Winoto (mendapat
penolakan untuk jabatan di pemerintahan di Hindia Belanda karena bukan orang
Belanda) dan Willem Iskander (karena kehilangan dua abak bimbingnya) di
Belanda, secara alamiah mereka berdua menemukan jodohnya. Willem Iskander
menikah dengan gadis Belanda pada tanggal 20 Januari 1876. Sehari kemudian pada
tanggal 21 Januari 1876 Ismangoen Danoe Winoto menikah dengan CH van Steeden
tanggal 28 Januari di Borculoo(Algemeen Handelsblad, 29-01-1876). Ismangoen
Danoe Winoto alumni akademi di Delft setelah 10 tahun meninggalkan kampung
halaman kembali ke kampung halaman di Hindia Belanda. Ismangoen Danoe Winoto
berlayar dengan kapal Amalia (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant,
20-03-1876). Surat kabar yang terbit di Semarang De locomotief: Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 12-05-1876 mengutip berita dari surat kabar di
Singapoera The Strait Times bahwa yang mendapat pesan telegram dari Prancis
bahwa kapal Amalia yang mana diantara penumpang terdapat Ismangoen Danoe Winoto
berlayar dari Prancis (Marseille) menuju Batavia via Terusan Suez dan
Singapoera. Disebutkan di dalam manifes kapal ini Ismangoen Danoe Winoto tidak
sendiri tetapi dengan istri.
Ismangoen Danoe Winoto
adalah pribumi pertama lulusan Delft. Meski mendapat resistensi atas
kualifikasi pendidikannya (akademi) di jabatan pemerintahan di Hindia Belanda, Ismangoen
Danoe Winoto tetap kembali ke tanah air untuk berpatisipasi pada bangsanya yang
tengah berada di bawah penjajahan Belanda. Ismangoen Danoe Winoto sendiri
dengan gelar pendidikannya sebagai alumni Delft (yang di Belanda dianggap
sangat berkualitas) dapat saja diterima bekerja di Belanda atau negara-negara
lain di Eropa, tetapi Ismangoen Danoe Winoto tetap ingin pulang ke tanah
airnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Tan
Tjioen Liang, Raden Sarengat, Han Tiauw Tjong, Raden Soerachman, dkk: Semua
Kembali ke Tanar Air, Tapi Mengapa Kini Ada yang Tidak Kembali?
Lantas apa gunanya
mempelajari masa lalu? Yang jelas apa yang pernah terjadi di masa lalu menjadi
bahan refleksi untuk menentukan masa depan yang diinginkan. Tanpa mempelajari
sejarahnya, tidak akan bisa melihat positioning yang sebenarnya, yang justru dengan
mengatahui positioning itu sangat menentukan bagaimana sejarah dapat
dilanjutkam dalam mengejar ambisi masa depan yang dapat dicapai. Mengenal
bangsanya, akan lebih memahami kemana arah yang dituju dalam pembangunan
bangsa. Ismangoen Danoe Winoto, alumni Delft tahun 1875 telah menunjukkan
tekadnya.
Sejak Ismangoen Danoe Winoto, lulus di akademi di
Delft tahun 1875, tidak ada lagi orang non-Eropa asal Hindia (baca: Indonesia)
yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda. Boleh jadi karena
lulusan perguruan tinggi di Belanda bagi orang pribumi akan menghadapi
tantangan di dunia kerja (karena harus menggeser posisi rasis orang-orang Belanda).
Namun guru-guru pribumi tetap dikirim ke Belanda untuk melanjutkan studi.
Tampaknya hanya lulusan guru-guru pribumi di Belanda yang tidak mendapat
resistensi di Hindia Belanda. Hal itu karena lulusan guru-guru tersebut akan
mengajar di sekolah-sekolah non Eropa di Hindia (guru untuk sekolah pribumi).
Lulusan terakhir guru pribumi di Belanda adalah JH Wattimena yang diberitakan lulus
sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat
Algemeen Handelsblad, 07-04-1884).
Disebutkan dari 14 kandidat yang diuji oleh Universiteit Amsterdam empat siswa
dinyatakan lulus, salah satu diantaranya JH Wattimena (dari Amsterdam). Dalam
hal ini orang pribumi asal Hindia dapat bersaing dengan orang Belanda di
sekolah guru di Belanda. JH Wattimena kembali ke tanah air. Dalam manifes kapal
yang diberitakan Algemeen Handelsblad, 06-09-1884 terdapat nama JH Wattimena.
Kapal Prins van Oranje yang ditumpangi JH Wattimena berangkat dari Amsterdam
menuju Batavia pada tanggal 6 September 1884. Sekali lagi, dalam daftar
penumpang ini tidak ada nama pribumi selain JH Wattimena. Ini menunjukkan bahwa
sejauh itu, orang pribumi ke Belanda adalah suatu prestasi atau pengalaman
sendiri. Di Batavia, JH Wattimena sudah barang tentu menghadap Gubernur
Jenderal, sebagaimana dulu tahun 1861 Willem Iskander menghadap Gubernur
Jenderal sepulang dari Belanda. Tidak lama kemudian, sebelum kapal yang membawa
JH Wattimena tiba di Ambon sudah keluar beslitnya untuk ditempatkan sebagai
guru di Kweekschool Ambon (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 04-11-1884). Setelah JH Wattimena kembali ke tanah air di Ambon,
selesai sudah perjuangannya menempuh studi, jauh ke negeri Belanda.
Dalam perkembangannya,
kritik orang-orang Belanda dari paksi golongan humanis di Hindia, mulai
menunjukkan hasil. Satu yang penting bahwa di Hindia Belanda sudah diizinkan,
dengan kuota tertentu untuk pribumi dan Cina memasuki sekolah menengah umum
(HBS). Ini mengindikasikan bahwa lulusan HBS di Hindia dapat melanjutkan studi
ke perguruan tinggi di Belanda (di Hindia Belanda belum ada perguruan tinggi).
Seperti disebut di atas, Ismangoen Danoe Winoto pada tahun 1864 harus berangkat
ke Belanda untuk studi lebih lanjut (di HBS). Mengapa? HBS pertama di Hindia
baru dibuka pada tahun 1865 (KW III School) di Batavia. Di sekolah HBS di
Batavia inilah kemudian orang non Belanda (pribumi dan Cina) diizinkan untuk
bersekolah dengan kuota. Dua siswa non Eropa yang studi di HBS (KW III School)
di Batavia kemudian melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Belanda, yakni Oei
Jan Lee dan Tan Tjioen Liang.
Kehadiran Oei Jan Lee di Belanda telah membuat
heboh. Surat kabar besar Algemeen Handelsblad memperhatikannya. Dalam Algemeen
Handelsblad, 13-12-1881 kehadiran Oei Jan Lee adalah orang Cina yang pertama di
Belanda yang dikomentari dengan sedikit reaktif yang memberi peringatakan bagi
siswa-siswa Belanda. Disebutkan jika Oei Jan Lee berhasil menjadi pengacara
maka orang-orang Cina akan memilihnya sebagai pengacara dan itu menjadi alarm
bagi pengacara Belanda; dan juga jika Oei Jan Lee ini semakin banyak maka itu
akan mengurangi peluang mahasiswa dan lulusan hukum Belanda berkarir di Hindia.
Menurutnya dampaknya tidak terasa sekarang, tetapi akan terlihat nanti. Seperti
halnya dulu Ismangoen Danoe Winoto yang “dibully”, Oei Jan Lee juga dibully
orang-orang Belanda yang rasis. Oei Jan Lee tampaknya tidak peduli. Pada tahun
1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di Rjiksuniversiteit te
Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan mendapat
gelar sarjana hukum (lihat Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage,
15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan studi ke
tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar doktor
bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889).
Tidak seperti Oei Jan Lee
yang memilih studi di bidang hukum (ujian masuk perguruan tinggi bidang ilmu
social di Belanda). Tan Tjioen Liang lebih memilih di bidang teknik (ujian
masuk bidang IPA). Tan Tjioen Liang sendiri sudah berada di Belanda (lihat
Delftsche courant, 11-12-1883). Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar
Tjoen Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang
menyelesaikan HBS lima tahun di Batavia pada tahun ini.
Di Belanda masih ada guru-guru muda, nama yang
terakhir adalah JH Wattimena yang diberitakan lulus sekolah guru di Amsterdam
dan mendapat akta guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad, 07-04-1884).
Tentu saja nama Ismangoen Danoe Winoto sangat dikenal luas di Hindia sebagai
pejabat pemerintah dan diketahui sebagai orang pribumi pertama berpendidikan
tinggi alumni Belanda (di Delft). Tan Tjoen Liang sudah pula mengetahuinya
sebelum mendaftar ujian masuk perguruan tinggi di Belanda (sebagaimana pernah
dialami oleh Ismangoen Danoe Winoto satu decade yang lalu). Tentu saja Tan Tjoen
Liang sudah membaca berita di surat kabar dimana Oei Jan Lee dibully oleh
orang-orang Belanda yang rasis. Sementara itu, Ismangoen Danoe Winoto setelah
kembali ke tanah air pada tahun 1876 hanya dipinggirkan sebagai pegawai
fungsional di secretariat Negara. Jabatan Ismangoen Danoe Winoto pada tahun
1884 ini hanya diberi sebagai Wakil Inspektur Pendidikan Pribumi karena sebagai
pribumi tidak diberi hak sebagai Kepala (meski pangkatnya sudah memenuhi). Posisi
Wakil Inspektur baru dibuat pertama kali karena Ismangoen Danoe Winoto. Seperti
disebut di atas, Kantor Inspektur Pendidikan Pribumi didirikan pada tahun 1863
dimana orang pertama yang mengisinya adalah Mr CA van der Chijs (yang menemukan
sekolah guru Tanobato sebagai yang terbaik di Hindia Belanda). Tan Tjoen Liang,
seperti halnya Oei Jan Lee tidak peduli dengan perundungan bagi orang Non Eropa
tersebut.
Pada
tahun 1887 Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi (overgangs-examen) di
Polytechnische School di Delft (lihat Delftsche courant, 15-06-1887).
Disebutkan sore ini di Polytechnische School di Delft diketahui hasil ujian
transisi berdasarkan art 61, art 62, art 63, art 64 dan art 65. Nama-nama yang
lulus ujian sarjana kedua (tweede gedeelte) art 64 (werktuigkundig ingenieur)
antara lain Tan Tjoen Liang. Sekitar 100 mahasiswa yang lulus ujian transisi
pada art yang berbeda-beda hanya Tan Tjoen Liang yang bernama non
Eropa/Belanda. Tinggal selangkah lagi Tan Tjoen Liang mendapat gelar insinyur
mesin.
Namun setelah itu nama Tan Tjoen Liang
menghilang, yang diduga kerena ayahnya meninggal dan kembali ke Hindia di
Buitenzorg. Di HBS Semarang, Raden Mas Oetojo lulus ujian akhir (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 08-06-1891). Disebutkan
berita yang diterima dari surat kabar di Batavia, ujian akhir HBS sebanyak
empat siswa lulus dimana Raden Oetojo dengan nilai 119 sebagai rangking kedua. Jika
menghitung mundur lima tahun, jika dan hanya jika R Oetojo lancar studi, besar
kemungkinan Oetojo diterima di HBS Semarang tahun 1886. Bandingkan dengan Oei
Jan Lee lulus HBS di KWS Batavia tahun 1883. Sejauh yang dapat ditelusuri,
orang pribumi pertama yang sekolah di HBS adalah R Oetojo. Pada saat Raden
Oetojo lulus tahun 1891 di HBS Semarang, pada tahun ini Raden Kartono diterima.
Setelah
beberapa tahun Tan Tjoen Liang kembali ke Belanda untuk menyelesaikan
pendidikan di Delft dan berhasil menjadi insinyur mesin pada tahun 1894. Raden
Kartono menyelesaikan studi di HBS Semarang pada tahun 1896 dan kemudian
langsung berangkat ke Belanda dan diterima di Polytechnische School di Delft.
De avondpost, 30-12-1896: ‘Menyusul
keputusan Gubernur Jenderal, menyamakan Tan Tjoen Liang, seorang Cina setara
dengan orang Eropa, majalah Insulinde baru-baru ini menyatakan: ‘’Pasti ada
cukup alasan untuk membuat orang Cina ini menjadi orang Eropa, seperti yang
terjadi pada Oei Jan Lee, pengacara yang memperoleh gelar doktor di Belanda.’
Memang, ada alasan yang sangat memadai disini. Yakni, Insulinde menulis sebagai
berikut: “Tan belajar di Delft dengan dua langkah. Ia adalah putra mendiang
kapten Cina di Buitenzorg, Tan Goan Piauw. Setelah lulus ujian kandidat untuk
insinyur mesin di Delft, dia harus berhenti sekolah dan kembali ke Buitenzorg,
dimana dia harus berperilaku lagi sesuai dengan kebiasaan orang Cina. Setelah
harta warisan pamannya Tan Pauw dipisahkan, ia memiliki kekuatan untuk kembali
ke Delft dan melanjutkan studinya yang terhenti. “Dalam daftar terbaru
dari nama-nama yang tergabung ‘Asosiasi Insinyur Sipil’ di Delft, yang berisi
insinyur, lulusan Sekolah Politeknik’, ditemukan (pada baris No. 911) bahwa
pada tahun 1894 diploma Insinyur Mesin diperoleh oleh Tan Tjoen Liang’.
yang meraih gelar sarjana teknik di Polytechnische School di Delft. Ismangoen Danoe Winoto
sebelumnya baru sampai tingkat diploma (akademi Delft) di bidang pemerintahan.
Lantas bagaimana dengan gelar sarjana pendidikan? Belum ada. Willem Iskander sebelumnya
baru setingkat akademi keguruan (acta LO). Di Belanda sendiri sudah ada perguruan
tinggi keguruan untuk tingkat sarjana (acta MO).
Lembaga pendidikan di Belanda dan di
Hindia Belanda berkembang dengan caranya sendiri-sendiri, mulai dari sekolah
menengah hingga bertransformasi menjadi perguruan tinggi. Setelah berkembang
Technische School dibentuk Polytechnische School (di Delft) dimana nama-nama
Tan Tjoen Liang dan Raden Kartono). Demikian juga dengan sekolah guru
kweekschool di Belanda kemudian dibentuk Rijskweekschool di Leiden Seperti kita
lihat nanti dimana nama Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan Rijskweekschool
di Leiden. Sekolah perdagangan (Handelschool) dengan dibentuknya
Handelshoogeschool) dimana nama Sjamsi Widagda. Di Delft Polytechnische School
ditingkatkan statusnya menjadi Technischehoogeschool te Delft. Di Wageningen
Landbouwschoool kemudian dibentuk Landbouwhoogeschool; di Utreht sekolah
kedokteran hewan (Veeartsenchool) menjadi Veearsenhoogeschool (dimana nama
Sorip Tagor Harahap). Demikian seterusnya seperti Geneeskundigehoogeschool dan
Rechthoogeschool. Dalam konteks inilah kemudian di Belanda sejulah perguruan tinggi
(hoogeschool) disatukan membentuk universitas seperti Universiteit te
Amsterdam, Universiteit te Leiden, Universiteit te Delft. Idem dito di Hindia
Belanda sekolah guru (kweekschool) menjadi Hogere Kweekschool; sekolah
kedokteran Docter Djawa School di Batavia ke STOVIA (1902) dan NIAS (1915) dan
Geneeskundigeschool (GHS) tahun 1927, Rechtschool di Batavia sejak 1907 menjadi
Rechthoogeschool (RHS) tahun 1924; dan Techische School menjadi Technische
Hoogeschool di Bandoeng tahun 1920; serta Veeartsenschool di Buirtenzorg tahun
1907 menjadi Ned. Indie, Veeartsen School tahun 1928. Sejumlah
hoogeschool/faculteit yang ada di Hindia Belanda pada tahun 1940 dibentuk
Universiteit van Ned. Indie.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










