Berdasarkan
peta sejaman, sesungguhnya baru Kota Djakarta dan Kota Padang yang menginisiasi
nama jalan (layaknya sekarang). Dalam peta-peta sejaman seperti Kota Semarang,
Kota Soerabaja, Kota Bandoeng dan Kota Buitenzorg ruas-ruas jalan belum ada
yang diberi nama. Untuk Kota Medan nama jalan baru muncul dalam peta Kota Medan
1895 (17 nama jalan). Padahal Medan baru ditetapkan sebagai ibukota
pemerintahan (Belanda) tahun 1875 setingkat kecamatan dengan menempatkan
seorang Controleur. Oleh karenanya penamaan nama jalan di Kota Medan ini (dalam
tempo 20 tahun) cukup drastis dari segi jumlah, sebab di Kota Padang pada Peta
Kota Padang 1915 baru terdapat 12 buah (bandingkan dengan peta Kota Padang 1879
sebanyak tiga buah). Kota Medan yang terus berkembang dengan perubahan yang
sangat cepat, pada peta Kota Medan 1915 nama jalan di Kota Medan sudah mencapai
77 buah (terbanyak kedua setelah Kota Batavia).
![]() |
| Peta Kota Medan, 1915 |
Kota Medan pada
tahun 1915 ditetapkan sebagai ibukota provinsi (Province Sumatra’s Oostkust).
Kota Medan sesungguhnya baru tahun 1875 ditetapkan sebagai ibukota kecamatan
(onderafdeeling), setelah lima tahun Deli Mij yang didirikan Nienhuys beroperasi. Saat itu Afdeeling Deli beribukota di Laboehan dan ibukota
Residentie Sumatra’s Oostkust di Bengkalis (Siak). Kota Padang sendiri sebagai
ibukota provinsi (Province Sumatra’s Westkust) bahkan sudah sejak tahun 1834.
Provinsi Sumatra’s Westkust terdiri dari tiga Residentie: Padangsche Benelanden
(ibukota di Padang), Padangsche Bovenlanden (ibukota di Fort de Kock) dan
Tapanoeli. Pada tahun 1875 Kota Padang Sidempoean adalah ibukota Residentie
Tapanoeli. Kota Padang Sidempoean saat itu adalah kota kedua terbesar di
Sumatra, bahkan Kota Medan sendiri saat itu masih sebuah kampung. Mengapa kota
Padang Sidempoean begitu besar relatif dengan kota-kota lain di Sumatra, karena
Kota Padang Sidempoean adalah ibukota Residentie (secara geografis setara
provinsi), tempat Residen berkantor. Di Kota Padang Sidempoean sudah terdapat
sekolah guru atau kweekschool (hanya ada dua sekolah guru di Sumatra selain di
Fort de Kock); juga terdapat sekolah Eropa, kelak menjadi ELS (sekolah Eropa
kedua selain di Padang). Di dalam Kota Padang Sidempoean terdapat empat sekolah
dasar negeri (di kota Padang baru dua buah). Saat itu di Sumatra’s Westkust,
dua garnisun militer Belanda terbesar di Kota Padang dan terbesar kedua di Kota
Padang Sidempoean (dalam rangka perang yang berlarut-larut melawan
Sisingamangaradja). Oleh karena itu, Kota Padang Sidempoean lebih cepat
berkembang jika dibandingkan Kota Fort de Kock (yang sama-sama ibukota
Residentie). Jarak yang dekat antara Kota Padang dengan Kota Fort de Kock
mengakibatkan orang-orang Eropa indeferen dan lebih memilih Kota Padang untuk
berbagai hal yang berbau Eropa. Di Residentie Tapanoeli, Kota Padang Sidempoean
menjadi pusat Eropa. Dalam perkembangannya, ibukota Residentie dipindahkan
(kembali) ke Sibolga dan pada tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dengan
Province Sumatra’s Westkust. Dalam perkembangan lebih lanjut saat Residentie
Sumatra’s Oostkust ditingkatkan menjadi provinsi (Province Oost Sumatra) tahun
1915 yang beribukota di Medan, sebaliknya Province Sumatra’s Westkus
dilikuidasi dan diturunkan menjadi setingkat residentie (West Sumatra).
Akibatnya, Kota Medan semakin pesat berkembang (kota terbesar kedua setelah
Kota Batavia), sebaliknya Kota Padang semakin melambat dan Kota Padang
Sidempoean lebih lambat lagi perkembangannya (orang Padang Sidempoean yang
dulunya berorientasi ke Kota Padang kemudian beralih ke Kota Medan (yang juga
disusul kemudian orang Fort de Kock). Orang-orang Padang Sidempoean memainkan peran dalam coast to coast ini (Sibolga di west dan Medan di Oost); kemudian orang-orang Padang Sidempoean dan Fort de Kock secara bersama-sama memainkan peran signifikan dalam coast-to-coast yang baru (diperluas) dari Medan (di oost) ke Padang (di west).
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.











