Sejarah

Sejarah Malang (49): Radio di Malang Sejak Kapan Bermula? Gelombang SW Era RRI, Kini Radio Kota FM dan Radio Streaming


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini

Dalam artikel-artikel sebelum ini, telah
dideskripsikan bagaimana aksara Latin diintroduksi termasuk di wilayah Malang. Dengan
pendidikan populasi penduduk dengan penggunaan aksara Latin lalu terbentuknya
pers (produk cetakan, brosur, majalah dan surat kabar) di Malang yang menjadi
dunia baru dalam dunia komunikasi (massa). Sementara itu, teknologi telegraf
segera diintegraskan dengan penemuan teknologi radio yang kemudian terbentuk
komunitas pendengar radio yang melahirkan siaran radio sebagai substitusi atau komplemen
majalah/surat kabar.


Mengulik Perkembangan Sejarah Berdirinya RRI Malang pada Momen Hari Radio
11 September. Suryo Eko Prasetyo. Sabtu, 11 September 2021.
Mengutip laman
resmi RRI, pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya RRI pada 11 September
1945. Berdirinya RRI tidak dapat dilepaskan dari keberadaan stasiun-stasiun
radio di era itu. Generasi pertama stasiun radio ada di Malabar, Jawa Tengah,
sejak 1925. Lima tahun setelah itu, terbentuk Nederland Indische Vereniging
Radio Amateur. Stasiun radio pertama berdiri bernama BRV di Batavia.
Selanjutnya stasiun radio Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij
(NIROM) di Batavia. Pada masa pendudukan, Jepang mengakuisisi stasion radio
milik Belanda. Selain untuk memberikan informasi, siaran radio juga berfungsi
sebagai propaganda Jepang ke masyarakat Indonesia. Jawatan radio swasta
akhirnya dibekukan dan disatukan dalam satu komando Hoso Kanri Kyoku, pusat
radio siaran dan berkedudukan di Djakarta. Cabang-cabangnya yang dinamakan Hoso
Kyoku terdapat di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang,
Surabaya, dan Malang. Bom Hiroshima dan Nagasaki dan berkat informasi radio, Indonesia
segera merealisasikan kemerdekaanya 17 Agutus 1945. Hoso Kyoku akhirnya
dihentikan siarannya pada 19 Agustus 1945. Masyarakat Indonesia yang aktif di
radio menyadari radio alat diperlukan pemerintah Republik Indonesia. Perwakilan
stasiun radio eks Hosu Kyoku berkumpul di gedung Raad Van Indje Pejambon dan muncul
nota kesepahaman, salah satunya untuk mendirikan stasiun radio. RRI akhirnya
disepakati berdiri dan akan meneruskan penyiaran dari delapan stasiun di Jawa. Sementara
itu, berdirinya RRI di Malang berawal dari stasiun pemancar milik Belanda yang
berada di gedung sekolah terletak di pertigaan Oro-oro Dowo dan Jalan Bandung
sekitar 1940-an
. (https://www.ayomalang.com/)

Lantas bagaimana sejarah radio di Malang sejak
kapan bermula? Seperti disebut di atas, radio sudah lama ada di Malang, yang
terhubungan masa era Pemerintah Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang dan era kemerdekaan
Indonesia. Semuanya bermula dari perkembangan teknologi radi dari gelombang SW hingga
era RRI yang kemudian muncul radio dalam kota dengan frekuensi FM. Lalu bagaimana
sejarah radio di Malang sejak kapan bermula?  Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Radio di Malang Sejak Kapan Bermula? Gelombang SW dan
Era RRI Muncul Radio Dalam Kota Frekuensi FM

Kapan radio bermula di Malang? Tentu saja itu
setelah perkembangan radio menjadi sangat massif di Batavia. Yang jelas di Soerabaja
sudah ada perhimpunan peminat radio yang diberi nama Soerabaiasche
Radio-Vereeniging (lihat De Indische courant, 30-01-1931). Para pendengar radio
juga sudah ada di berbagai kota termasuk di Malang. Para pendengar di Malang
ini ada juga yang berasosiasi dengan perhimpunan peminat radio yang telah
membentuk stasion pemancar di Batavia dengan iuran sebesar f1 per tahun.


Salah satu upaya yang dilakukan pada awal perkembangan radio di Indonesia
(baca: Hindia Belanda) adalah terbentuknya perhimpunan peminat radio (Bataviasche
Radio Vereeniging=BRV) di Batavia. Lalu dalam perkembangannya perhimpunan
peminat radio terbentuk di sejumlah tempat termasuk di Malang. Terbentuknya
wadah peminat radio, lalu berkembang pula para pendengar radi. Dua stakeholder
ini kemudian secara bersama-sama membangun komunitas radio di Hindia Belanda.
Dalam konteks inilah di Malang dibangun stasion pemancar radio Malang.
Kedudukan para pendengar radio juga sangat penting dalam hal ini, karena
merekalah pendukung eksistensi radio. Jika para peminat radio yang terlah
membangun stasion radio pemancar tetapi para pendengar radio tidak mendengar
stasion yang ada di kota dan sebaliknya lebih memilih (siaran) stasion pemancar
radio dari kota lain, akan memperlambat pertumbuhan radio local, karena dukung
para pendengar, termasuk dukungan finansial juga dibutuhkan untuk pengembangan
lebih lanjut. Untuk sekadar ditambahkan: di Malang sudah ada bioskop; para
pemilik pemutar piringan hitam (plate) juga sudah ditemukan dimana-mana..Tentu saja sudah ada konser music di Malang yang didatangkan dari luar
(termasuk dari luar negeri).

Bagaimana para pendengar radio di Malang dilaporkan
oleh
BRV di Batavia (lihat De
koerier, 05-07-1932). Disebutkan BRV
melaporkan laporan yang sangat menguntungkan dari
berbagai tempat
seperti
dari
Padang, Malang, Tegal, dll.,
yang mengindikasikan bahwa panjang gelombang 79 M ditransmisikan
dengan sangat baik.
Tentu
saja para pendengar radio di Malang juga ada yang tergabung dengan Soerabaiasche
Radio-Vereeniging (SRB) melalui 73 M. Dalam perkembangannya mulai timbul
permasalahan antara para pendengar di Malang dengan SRB. Minat para pendengar
SRB di Malang telah jauh menurun, jika tidak dapat dikatakan mati suri.


De Indische courant, 17-12-1932: ‘Soerabaiasche
Radio-Vereeniging harus memberi ultimatum kepada Malang. Diumumkan kemarin di
dalam penyiaran bahwa tidak mungkin lagi melanjutkan relay jika tidak ada lagi
anggota di Malang. Sambungan telepon ke Malang saja dikenakan biaya f125 per
bulan sementara jumlah anggota di Malang pun tidak cukup untuk menutupi jumlah
tersebut. Oleh karena itu tidak akan dapat melakukan itu dalam jangka panjang,
karena itu tergantung pada kontribusi anggota Surabaya, yang dianggap tidak
adil. Oleh karena itu seruan mendesak, melalui mikrofon, bagi para pendengar di
Malang untuk bergabung dengan 3AN. Kami mengajak dengan senang hati untuk
mendukung. Namun kita sendiri masih memiliki beberapa masalah yang belum
terpenuhi terkait 3AN ini yang tidak mengubah apresiasi kita terhadap semangat
dan energi Soerabaiasche Radio-Vereeniging yang telah kami saksikan lebih dari
satu kali. Kami khawatir pendengar Malang akan menyadari apa yang mereka dengar
saat ini melalui 3AN. diterima setiap hari, untuk musik, nyanyian, pengajian,
dll., jika mereka harus melewatkan ini lagi. Tidak ada yang perlu dikeluhkan
tentang kualitas siarannya, meski belum sempurna, yang tidak dipungkiri, tapi
itu bukan karena 3AN tetapi terdapat sambungan telepon sebagian di atas tanah
dan terkadang dapat menyebabkan kebisingan yang kurang diinginkan, terutama di
musim hujan seperti ini. Namun secara umum, 3AN sesuai bagi Malangers. Kami juga
agak heran dengan sikap menyendiri Malang, dimana kotamadya ini menunjukkan
dirinya begitu aktif di berbagai bidang, seperti yang ditunjukkan berkali-kali
oleh laporan koresponden kami. Tapi biarlah hanya masalah bagi Soerabaiasche
Radio-Vereeniging. Untuk menunjukkan minatnya, yang berlaku terutama bagi
pendengar yang mendapat manfaat dari 3AN meski bukan anggota. Tanggal deadline  oleh Soerabaiasche Radio-Vereeniging ditetapkan
sebelum berakhirnya masa ultimatum yaitu akhir bulan ini. Jadi masih ada waktu
tersisa bagi orang Malang untuk bergabung dengan SRV untuk menghubungkan. Jika
setiap anggota di Malang – mereka tahu resepnya – sekali membawa satu anggota
baru, maka mereka sudah dalam batas aman, dimana mereka bisa dipastikan dikirim
ke Malang’.

Sebab mengapa para pendengar radio SRB di Malang
telah menurun tidak diketahui secara pasti. Fakta bahwa jumlah pendengar SRB di
Malang hanya tinggal sedikit, bahkan iuran kolektif dari Malang tidak cukup
hanya sekadar menutupi biaya terlepon perbulannya. Seberapa besar iuran ke SRB
tersebut tidak terinformasikan. Bandingkan iuran ke BRV sebesar f1 per tahun.
Tentu saja paraa pendengar radio di Malang terafiliasi dengan perhimpunan radio
lain di tempat lain. Satu hal yang jelas pada akhir tahun 1932 telah terbentuk Malangsche
Radio Vereeniging (MRV) di Malang (lihat De Indische courant, 21-12-1932). Dalam
hal ini apakah rencana pembentukan MRV ioni diduga yang menjadi salah satu
sebab mengapa peminat siaran SRV telah berkurang atau justru sebaliknya?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Gelombang SW dan Era RRI Muncul Radio Dalam Kota
Frekuensi FM: Kilas Balik Dunia Radio di Malang

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top