Nama Lim Kok Liang sudah disebut
pada artikel sebelumnya. Namun tentu saja itu tidak cukup. Dalam hal ini nama
Lim Kok Liang terkait dengan sejarah surat kabar Sinar Sumatra di Padang dan
surat kabar Warna Warta di Semarang. Dua surat kabar legendraris pada era
Hindia Belanda ini dihubungkan oleh Lim Kok Liang. Tentu saja tidak hanya itu.
Lantas mengapa ada relasi kota Padang dan kota Semarang?
biasanya menggunakan nama-nama khas seperti Bintang, Pembrita, Tjahaja, Warta
dan Sinar. Surat kabar pertama menggunakan nama sinar adalah surat kabar Sinar
Terang di Solo (terbit pertama 1885).
Lalu kemudian pada tahun 1905 muncul nama surat kabar Sinar Sumatra di
Padang, Lalu pada tahun 1919 di Padang Sidempoean terbit surat kabar Sinar
Merdeka yang dipimpin oleh Parada Harahap. Nama surat kabar yang menggunakan
nama warta adalah surat kabar Warta Brita di Padang pada tahun 1895. Lalu
kemudian muncul surat kabar Warna Warta yang terbit di Semarang pada tahun
1902. Surat kabar Sinar Sumatra dan surat kabar Warna Warta terbilag dua surat
kabar yang masa hidupnya lama.
Lantas
bagaimana sejarah Lim Kok
Liang?
Seperti disebut di atas, Lim Kok Liang pernah menjadi editor surat kabar Sinar
Sumatra di Padang dan juga pernah menjadi editor surat kabar Warna Warta di
Semarang. Bagaimana itu bisa terjadi? Lalu bagaimana sejarah Lim Kok Liang?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Lim Kok
Liang; Surat Kabar Sinar Sumatra dan Warna Warta Semarang
Surat
kabar Warta Hindia di Sibolga dengan editor Lim Soen Hin yang juga (masih) editor
surat kabar Sinar Sumatra di Padang, tersandung delik pers. Lim Soen Hin dituntut
di pengadilan. Lim Soen Hin kelahiran Padang Sidempoean adalah editor surat
kabar Sinar Sumatra sejak kali pertama terbit tahun 1907. Sejak 1917 Lim Soen
Hin tidak lagi menjadi editor surat kabar Sinar Sumattra. Dalam kasus delik
pers yang dialami oleh Lim Soen Hin, seorang tokoh Cina terkenal di Padang
Sidempoean, Tjioe Tjeng Liong membelanya, banding di pengadilan daerah di
Padang. Tjioe Tjeng Liong adalah seorang peranakan Cina yang mana ibunya adalah
seorang wanita Padang Sidempoean. Darah ibunya mengalir di dalam semangat juang
Tjioe Tjeng Liong. Untuk meneruskan surat kabar Sinar Sumatra, sebagai penganti
Lim Soen Hin di surat kabar Sinar Sumatra adalah Lim Kok Liang. Lim Kok Liang yang
juga kerabat dekat Lim Soen Hin adalah kelahiran Padang Sidempoean.
Keberadaan orang Cina di Padang Sidempoean
sudah sejak masa lampau. Paling tidak keterangan itu dapat dibaca dalam catatan
hariam Kasteel Batavia Daghregister tanggal 1 Maret 1701. Di dalam catatan ini
dijelaskan bahwa seorang Tionghoa pada tahun 1691 berangkat dari Batavia ke
Malaka dan dari Malaka ke Panai (di muara sungai Baroemoen). Setelah membeli
garam untuk menambah dagangannya (mangkuk tembaga dan kain biru) pedagang tersebut
berangkat ke Angkola yang dibantu oleh beberapa kuli angkut dengan jalan darat
(melalui Kota Pinang, Goenoengtoea, Batangonang hingga Pijorkoling di Angkola).
Selama di dalam perjalanan dan di Angkola pedagang ini menukarkan barang
dagangannya dengan kemenyan (benzoin) dan bahan lilin. Setelah barang dagangan
yang dibawanya habis, pedagang ini kembali ke Panai untuk mendapatkan garam.
Perdagangan ulang-alik antara Panai dengan Angkola oleh pedagang Tionghoa itu
berlangsung selama 10 tahun. Setelah lima tahun di Angkola menikah dengan
seorang gadis dengan adat kebiasaan Angkola. Sang mertua memberikan bantuan
uang sebesar 50 ringgit. Pasangan ini memiliki seorang anak perempuan. Pada
tahun 1701, keluarga kecil ini meninggalkan daerah yang indah ini dimana
penduduk hidup dari bercocok tanam (sawah) dan mengumpulkan hasil-hasil hutan
(seperti kamper, kemenyan dan getah puli) hijrah ke Batavia (anak mereka sudah
berumur lima tahun). Pedagang Tionghoa ini menyebutkan di dalam catatan Batavia
tersebut, bahwa orang-orang di Angkola ramah terhadap orang asing, bahkan
terhadap orang-orang Eropa yang pernah berkunjung ke Angkola. Penduduk Angkola
disebutnya, meski sangat banyak jumlahnya tetapi juga surplus beras. Penduduk
laki-laki dan perempuan mengenakan sarung dan baju panjang. Penduduk kerap
menggunakan garam sebagai alat tukar bagaikan uang untuk berbelanja. Keluarga Tionghoa
ini ke Batavia ke Batavia pada tahun 1701 (melalui Barus). Pedagang Tionghoa
ini menyebut di dalam laporan tersebut, jarak antara Angkola dengan Barus
sekitar 10 hingga 11 kali hari perjalanan. Pernikahan awal Tionghoa-Angkola
yang terawal ini diduga yang menjadi hal yang menyebabkan orang-orang Tionghoa
pendatang ada yang melakukan pernikahan setempat. Boleh jadi Lim Kok Liang
adalah keturunan dari generasi Tionghoa pertama di Angkola.
Pada
tahun 1919 surat kabar Sinar Sumatra terkena lagi delik pers (lihat
Sumatra-bode, 26-02-1919). Editor Lim Kok Liang dituntut di pengadilan di
Padang. Penuntutan ini berawal pada bulan Agustus 1918 Sinar Sumatra menurunkan
artikel berita yang membuat seorang pejabat pemerintah keberatan dengan isinya
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-08-1918). Jaksa
penuntut menuntut satu bulan penjara bagi Lim Kong Liang.
Sampai sejauh ini kasus delik pers di Jawa
yang mendakwa jurnalis Cina tidak pernah terjadi. Selama ini yang menjadi
langganan delik pers adalah jurnalis pribumi seperti Dja Endar Moeda pada tahun
1905 di Padang. Tuntutan terhadap Lim Kok Liang tidak dapat dihalangi dan Lim
Kok Liang divonnis satu bulan penjara (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 04-04-1919).
Setelah
menyelesaikan hukuman penjara satu bulan di Padang, Lim Kok Liang merantau ke
Jawa dan berdonmisili di Semarang. Sebagai seorang jurnalis, Lim Kok Liang kemudian
menjadi editor surat kabar di Semarang Warna Warta.
Sementara itu pada bulan September 1919 di Padang
Sidempoean, seorang jurnalis muda yang baru pulang dari Medan, Parada Harahap
menerbitkan surat kabar yang diberi nama Sinar Merdeka. Motto surat kabar
Parada Harahap ini adalah Oentoek Menegakkan Keadilan dan Menoedjoe
Kemerdekaan. Parada Harahap jurnalis revolusioner di Medan, kini di kampongnya
di Padang Sidempoean menerbitkan surat kabar yang lebih revolusioner lagi. Lim
Soen Hin sudah lama tidak terdengar beritanya setelah kasus delik pers yang
menimpanya. Sementara Lim Kok Liang asal Padang Sidempoeanm sudah hijrah ke
Semarang. Lantas mengapa Tjioe Tjeng Liong dan Lim
Soen Hin menentang kehadiran kapitalisme di Angkola (Batang Toroe dan Padang
Sidempoean)? Apakah mereka mereka sudah menganggap Angkola sebagai kampong
halaman (lelihur) sendiri? Boleh jadi. Inilah yang membedakan Cina di Angkola
dibanding di tempat lain di Hindia Belanda. De
Nederlander, 06-05-1920 mencatat Lim Soen Hin menyebut Tapanoeli negara asalnya
(Lim Soen Hin noemt Tapanoeli zijn geooorteland)… Tjioe Tjeng Liong adalah peranakan
di Padang Sidempoean, lahir dari penduduk asli Padang Sidempoean (de Heer Tjioe
eveneens een peranakan is en te Padang Sidempoean, geboren uit een te Padang
Sidempoean geborene). Nama Lim Soen Hin sendiri
masih bergaung di Tapanoeli yang dalam beberapa artikelnya menentang
kapitalisme di surat kabar Warta Hindia, pengaruhnya sekarang masih terasa di
Tapanoeli dan ingin dilawan oleh masyarakat (lihat De Nederlander, 06-05-1920).
Di
Semarang, Lim Kok Liang kembali terkena delik pers karena sebuah artikelnya di
surat kabar Warna Warta (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 23-09-1919). Lim Kok Liang sempat tidak menghiraukan
panggilan pengadilan malah kembali ke Pantai Barat Sumatra dan berdiam di Poelo
Tello. Namun kemudian Lim Kok Liang berhasil dipaksa untuk dibawa ke Semarang
dan ditahan (selama satu bulan penjara).
Parada Harahap di Padang Sidempoean dengan
surat kabarnya Sinar Merdeka kerap terkena delik pers yang mana Parada Harahap
beberapa kali harus masuk bui. Pada tahun 1922 surat kabar Sinar Merdeka
dibreidel. Seperti halnya Lim Kok Liang hijrah dari Padang ke Semarang, Parada
Harahap dari Padang Sidempoean hijrah ke Batavia dan pada tahun 1923 mendirikan
surat kabar Bintang Hindia di Batavia. Pada tahun 1925 di Batavia, Parada
Harahap mendirikan kantor berita Alpena dengan editor WR Soeprratman.
Setelah
kasus delik pers yang menimpa Lim Kok Liang di surat kabar Warna Warta di
Semarang, selepas bebas hukuman penjara satu bulan, Lim Kok Liang tidak aktif
lagi di media. Lim Kok Liang bergeser haluan menjadi pebisnis. Namun itu tidak
mudah. Pada tahun 1925 diberitakan Lim Kok Liang di Depok Semarang sempat
pailit (lihat De locomotief, 17-04-1925).
De
Sumatra post, 29-09-1925: ‘Atas penangkapan editor Warna Warta, sebelumnya Keng Po, di Batavia, didirikan
Asosiasi wartawan pribumi. Pertemuan diadakan di gedung kantor berita Alpena
(pimpinan Parada Harahap) di Weltevreden, dipimpin oleh editor Hindia Baru
Tabrani. Hasil pertamuan ini mengusulkan dewan agar mengirimkan utusan ke Jaksa
Agung. Parada Harahap, redaktur Bintang HIndia meminta menahan diri karena kasusnya
masih dalam penyelidikan dan menunggu hingga pengadilan. Yang penting menurut
Parada Harahap kita menyusun manifesto dulu. Setelah pertemuan ditutup kemudian
dihasilkan manifesto, isinya: 1. Keluhan dari masyarakat pribumi dan China
terhadap aksi bagian dari Pejabat pemerintah di seluruh wartawan membuat,
termasuk sehubungan dengan penangkapan Mr Lauw Giok Lan, 2 Mengirim utusan
kepada Jaksa Ge Jenderal (dalam advokasi selama masa penahanan) ditambah untuk
lebih menahan diri dari tulisan-tulisan yang mengandung penuh kebencian)’.
Lim
Kok Liang kembali bangkit, masih tetap di bidang bsinis. Dunia media benar-benar
telah dilupakan Lim Kok Liang. Pada tahun 1927 kembali Lim Kok Liang pailit di
Kranggan Semarang (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 10-12-1927).
Nama Lim Kok Liang cukup lama tenggelam. Namun
upaya Lim Kok Liang di bidang bisnis tampaknya berhasil dan mungkin sudah
waktunya pulang kampung di Padang Sidempoean. Pada tahun 1937 diketahui Lim Kok
Liang dengan kapal ms Op ten Noort dari Batavia dengan tujuan akhir Belawan
Medan (lihat Deli courant, 22-09-1937). Dalam manifes kapal Lim Kok Liang
bersama dua orang anak. Moda transportasi dari Medan ke Padang Sidempoean
dengan bus sudah ada sejak lama. Boleh jadi Lim Kok Liang ingin memperkenalkan
kepada anak-anaknya tentang kampong halaman mereka di Padang Sidempoean. Lim
Kok Liang kembali dari Semarang via Batavia ke Medan dengan kapal ss Placius dengan
dua anak (lihat Deli courant, 23-11-1939).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Lim Kok Liang: Pengusaha di
Semarang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.









