*Untuk melihat semua artikel
Sejarah Papua dalam blog ini Klik Disini
Nama
Asmat di Papua sudah dikenal secara luas. Namun sayang sejarah (suku) Asmat di
Papua kurang terinforasikan selama ini. Mengapa? Tentu saja karena sulitnya menemukan data historis.
Namun demikian, sejarah Asmat seharusnya tetap dinarasikan. Upaya penggalian
data tetap diperlukan. Hal itulah mengapa sejarah Asmat ini ditulis.

nama kabupaten dimana penduduk suku Asmat berada. Kabupaten Asmat (tetangga
Kabupaten Mimika) awalnya merupakan bagian dari kabupaten Merauke yang terdiri
dari kecamatan Agats, Ayam, Atsj, Sawa Erma dan Pantai Kasuari. Pada saat ini
di Kabupaten Asmat terdiri dari 10 distrik yakni Agats, Atsj, Akat, Fayit,
Pantai Kasuari, Sawa Erma, Suator, Kolf Brasa, Unir Sirau dan Suru-suru. Berbeda
dengan penduduk Papua pedalaman yang umumnya makanan pokok adalah umbi umbian,
tetapi penduduk Asmat makanan pokoknya adalah sagu. Kawasan Asmat tidak hanya
enghasilkan sagu juga sejak lampau menghasilkan produks hutan seperti kayu besi
untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat, gaharu, kemiri, damar dan
rotan.
Lantas
bagaimana sejarah Asmat? Satu yang penting
orang Eropa pertama yang berkunjung ke wilayah pedalaman di tengah penduduk
Asmat adalah Pendeta Zegwaard. Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Asmat
Nama
Asmat sebelum nama Asmat dilaporkan di (pulau) Papua sudah umum digunakan di
(pulau) Jawa sebagai nama untuk laki-laki. Paling tidak nama Asmat dicatat pada
tahun 1852 (lihat Nederlandsche
staatscourant, 17-08-1852). Nama Asmat terus digunakan sebagai nama laki-laki.
Tentu saja nama Asmat di Papua bukanlah nama seseorang. Nama Asmat untuk
identifikasi penduduk di Papua merujuk pada sumber lain apakah bahasa Asmat
sendiri atau bahasa asing.
Terminoilogi ‘asmat’ ditermukan dalam berbagai
teks Sanskerta. Demikian juga kata asmat ditemukan pada kamus A
Sanskrit-English Dictionary yang ditulis oleh Monier Williams yang diterbitkan
tahun 1872. Lantas apakah nama Asmat di Papua sudah eksis sejak era
Hindoe-Boedha. Sebagaimana nama Papua berasal dari bahasa Melayu, lalu apakah
nama Asmat berasal dari bahasa Melayu (Sanskerta)?
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pendeta Zegwaard di Asmat
Tidak
ada orang asing (Eropa) yang pernah ke wilayah belakang pantai di pantai barat
daya Papua, karena itu tidak ada yang melaporkan tentang keberadaan penduduk
asli Asat. Juga tidak ada laporan dari penduduk asli di Maluku yang dikutip
oleh orang asing sehingga tidak satupun keterangan tentang orang Asmat di
pedalaman. Baru setelah kehadiran pendeta Zegwaard asal Jerman dari Limburg di
wilayah Asmat. Itu bermula dari suatu kebetulan (lihat Limburgsch dagblad, 19-02-1954).

waktu berada di Mimika sebagai misionaris
(catatan: sejarah provinsi Limburg di Belanda bermula pada tahun 1866
ketika Lmmburg dipisahkan dari Konfederasi Jerman). Di pedalaman pantai barat
daya Papua terjadi perang saudara, yang menyebabkan sebanyak tiga ribu orang Asmat
mengungsi ke wilayah Mimika (wilayah tetangga Asmat). ‘Pendeta Zegwaard belajar
bahasa Asmat dari mereka (di Mimika) yang lewat bahasa itu dia memegang kunci;
untuk masuk ke wilayah Asmat sendiri. Berbekal ilmu linguistik itu, ia berani
menembus habitat headhunter yang paling ditakuti ini. Akhirnya, kurang dari dua
tahun yang lalu, dia menetap di antara mereka di suatu tempat dimana pada tahun
1940 pernah menjadi tempat kedudukan cabang pemerintahan di Agats.
Di
Agats, Pendeta Katolik G. Zegwaard (dari Zandvoort) telah berhasil membangun
sebuah tepat tinggal yang tidak kecil ukurannya dengan bahan bangunan pedesaan
(yang diperoleh dari hutan sekitar). Pendeta Zegwaard sendiri di Agats tetapi
ditemani oleh pendeta Welling (dari Boxtel). Dua pendeta ini juga telah
menyelenggarakan pendidikan di sekolah gereja meski respon penduduk masih
pasang surut.

Merauke sejak 1905 pasca kasus Tugeru. Merauke dijadikan sebagai ibu kota
Onderfadeeling Zuidkust Nieuw Guinea (Afdeeling West en Zuidkust Nieuw Guinea
yang beribukota di Fakfak yang dibentuk tahun 1898). Pembentukan cabang
pemerintahan di Agats pada tahun 1940 adalah penempatan seorang Controleur di
Agats). Namun tidak lama kemudian pada tahun 1941 terjadi Perang Pasifik,
dimana angkatan udara Jepang mengebom kota Fakfak. Pejabat peerintah yang
ditempatkan di Agats boleh jadi belum mengetahui banyak tentang penduduk di
pedalaman (Asmat). Leeuwarder courant: hoofdblad van Friesland, 28-06-1956
Sejak
kehadiran Pendeta Gerad A Zegwaard di Agats, nama Asmat mulai dikenal luas.Dala
suatu pameran tentang Melanesia di Belanda pada tahun 1956 penemuan Asmat ikut
disertakan seperti barang produk ukiran dan benda khas Asmat dan foto-foro
penduduk Asmat (lihat Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland, 28-06-1956).
Gerad A Zegwaard sendiri menulis artikel yang berjudul Headhunting Practices of
the Asmat of Netherlands New Guinea yang dipublikasikan pada jurnal
antropologis tahun 1959 turut memperkaya pemahaman publik internasional tentang
keberadaan penduduk Asmat di Papua.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










