Sejarah Indonesia

Sejarah Tangerang (34): Sejarah Ciampea, Surga di Cisadane; Bukit Kapur dan Situs Tarumanegara, Lokasi Kampus IPB Berada




false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Sementara land Dramaga tetap
dipertahankan oleh keluarga van Motman. Meski tiga bersaudara ini hanya
berstatus penyewa di land Tjiampea, land Tjiboengboelang dan land Sading atau Panjawoengan,
namun secara politis di bidang perdagangan cukup penting. Ini terlihat dari
pengangkatan mereka bertiga pada tahun 1861 sebagai anggota Nederlandsch
Indische Maatschappij vin Nijverheid (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant :
staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 14-04-1861). Disebutkan dalam
berita ini ketiga bersaudara ini beralamat di (land) Tjiampea.

Pada tahun 1866 land Tjiampea, land
Tjiboengboelan dan land Sading telah berakhir kontrak sewa yang dilakukan FHC
van Motman. Pemilik land, suatu kongsi yang terdiri dari Ament, van de Graaff
dan POW Amenaet akan menyewakan land Tjiampea, land Tjiboengboelan dan land
Sading (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 12-09-1866).
Lahan demang (1772) dan peta landhuis Dramaga lama (1906)

Sejauh
yang diketahui, land Tjiampea hanya dimiliki oleh dua keluarga. Yang pertama
adalah keluarga Riemsdijk dan yang kedua adalah keluarga Ament. Dua keluarga
ini terhubung karena perkawinan (menjadi berkerabat). Mengapa begitu penting
land Tjiampea begi kedua keluarga ini? Land Tjiampea termasuk land paling subur
di hulu sungai Tjisadane, lokasinya strategis. Tidak hanya itu, land Tjiampea
yang telah dimekarkan menjadi land Tjiboengboelan memiliki tambang yang
potensial yakni batu kapur yang diusahakan untuk menghasilkan produk kapur
untuk bahan bangunan. Keluarga Ament juga telah memperluas lahan dengan
mengakuisisi land Sadeng Oost sehingga tiga land yang berdekatan ini menjadi
satu kesatuan lahan yang sangat produktif, lanskap yang indah dan menyenangkan.
Tiga lahan inilah yang kemudian disewa oleh keluarga van Motman. Keutamaan lain
dari tiga lain ini adalah terdapat dua benteng: Fort Tjiampea dan fort Panjawoengan
(di land Sadeng Oost).

Peta 1906 dan peta satelit masa ini

Di tiga
land yang indah ini kelak diketahui terdapat sejumlah artefak dan tanda-tanda
jaman kuno, tanda jaman kuno yang mengindikasikan wilayah itu sebagai wilayah
yang makmur yang menjadi salah satu pusat kerajaan kuno (Taroemanagara).
Tanda-tanda jaman kuno itu ditemukan di Tjiampea, sungai Tjiaruteun dan sungai
Tjianten beruapa prasasti dan patung-patung, salah satu diantaranya patung
singa Tjiampea.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang kemudian menjadi penyewa land
Tjiampea, land Tjiboengboelang dan land Sading atau Panjawoengan. Yang jelas
land Dramaga masih tetap diusahakan oleh keluarga van Motman. Dalam
perkembangannya tigab land tersebut diketahui telah disewa oleh P te Cate
sebesar f200.000 (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-03-1870). Pusat land
(landhuis) Dramaga telah dipindahkan dari dekat jalan raya (sisi selatan) ke
lokasi yang sedikit jauh di utara jalan raya. Namun dalam perkembangannya
diketahui kembali keluarga van Motman menyewa tiga land tersebuit sejak tahun
1882 untuk lima belas tahun.  Namun
keluarga van Motman pada tahun 1886 melepaskan hak penyewaan tiga land ini
karena meningkatnya nilai verponding yang ditetapkan oleh pemerintah.

Area kampus IPB dan landhuis Dramaga baru (Peta 1906)

Berdasarkan
Peta 1906 landhuis Dramaga telah dipindahkan dari lokasi yang lama ke lokasi
yang baru. Lokasi yang lama berada di dekat jembatan (sungai Tjihideung).
Lokasi ini jika dibandingkan dengan lukisan Josh Rach tahun 1772 (milik demang
Jawiitra) persis apa yang dipetakan dalam Peta 1906. Jalan dari Buitenzorg melintas
di atas jembatan sungai dan lalu ke arah selatan menuju landhuis lama dan ke
arah utara menuju landhuis baru (dan seterusnya jalan itu menuju land
Tjiampea). Wujud jembatan di dekat landhuis lama ini dapat lihat pada foto yang
dibuat tahun 1910. Pada foto tampak di kejauhan gunung Salak. Foto ini diambil
dari sudut pandang landhuis yang baru (dari utara ke arah selatan). Posisi
lokasi landhuis yang baru ini berada di sekitar RS Medika yang sekarang.  

Lokasi landhuis Dramaga yang baru ini (masih
menurut Peta 1906) dapat diidentifikasi lokasinya kemungkinan besar berada di
dalam kampus IPB yang sekarang, kira-kira berada di lokasi dimana kini Teaching
Lab IPB dibangun (dekat asrama putri). Gedung Teaching Lab IPB mengambil bentuk
gedung IPB yang lama di Baranangsiang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top