*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Pada tahun
1905 Tjipto Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia. Dr
Tjipto (Mangoenkoesoemo) dan Dr Abdoel Hakim (Nasoetion) yang sama-sama lulus
keduanya ditempatkan di Stadsverband (rumah sakit kota) di
Batavia sebagai dokter pribumi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 01-12-1905). Saat ini sudah ada
organisasi-organisasi kebangsaan Indonesia (baca: pribumi) yang telah
terbentuk: Societeit Paroekoenan di Bandoeng (1897), Medan Perdamaian di Padang
(1900), Vereeniging Ambon di Ambon (1900) dan Sjarikat Tapanoeli di Medan
(1905). Sejarah Pers di Indonesia

Pada tahun 1907, Wahidin
Soedirohoesodo melakukan kunjungan ke Stovia dan bertemu para pelajar dan
menyerukan gagasan untuk membentuk organisasi yang dapat mengangkat derajat
bangsa. Selain itu, Sudirohusodo juga ingin mendirikan sebuah organisasi di
bidang pendidikan untuk bisa membantu biaya orang-orang pribumi yang
berprestasi dan mempunyai keinginan untuk bersekolah. Selanjutnya, Soetomo
bersama dengan Soeradji mengadakan pertemuan dengan para pelajar STOVIA yang
lain, untuk membicarakan gagasan organisasi yang disampaikan oleh Sudirohusodo.
Lalu diadakan pertemuan dan membentuk sebuah organisasi yang diberi nama
“Perkumpulan Boedi Oetomo” pada tanggal 20 Mei 1908 di Batavia. Tokoh
yang tercatat sebagai pendiri Boedi Oetomo terdiri dari 9 orang, yaitu Mohammad
Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Angka
Prodjosoedirdjo, Mohammad Saleh, Raden Mas Goembrek, Soetomo, Soeradji
Tirtonegoro, dan tentunya Wahidin Soedirohoesodo sebagai penggagasnya. Soetomo
menjadi ketua dan Soelaeman Affandi Kartadjoemena, sebagai wakilnya. Pengurus
lainnya terdiri dari Gondo Soewarno sebagai sekretaris I, dan Goenawan sebagai
sekretaris II, serta bendahara yang dijabat oleh Angka Prodjosoedirdjo. Sisa
pendiri lainnya menjabat sebagai komisaris (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah organisasi
kebangsaan Indonesia? Seperti disebut di atas, saat Tjipto
Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia 1905 sudah ada
sejumlah organisasi kebangsaan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah organisasi kebangsaan Indonesia? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Organisasi
Kebangsaan; Dari Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch
Vereeniging
Lulusan sekolah guru pribumi dan lulusan sekolah kedokteran pribumi telah
mencoba melangkah di depan dalam menerjemahkan situasi dan kondisi pribumi di
Hindia. Di luar pekerjaan utama mereka, memanfaatkan waktu untuk memberi
kontribusi terhadap kebutuhan pendudukan pribumi dengan cara-cara yang sesuai
untuk kemajuan bangsa ke depannya. Salah satu guru yang terbilang pionir dalam
urusan berbangsa ini adalah Dja Endar Moeda.
Pada
tahun 1893 Dja Endar Moeda pension sebagai guru di Singkil lalu berangkat haji
ke Mekah. Sepulang dari Mekah, Dja Endar Moeda memilih tinggal di Padang.
Naluri guru segera muncul ketika banyak penduduk usia sekolah tidak tertampung
di sekolah pemerintah, Dja Endar Moeda mendirikan sekolah swasta. Dalam hal
ini, Dja Endar Moeda, guru tetaplah guru. Pada tahun 1895 penerbit surat kabar
Pertja Barat menawarkannya untuk posisi redaktur, Dja Endar Moeda tidak
keberatan. Seorang jurnalis Belanda bertanya kepadanya mengapa seorang guru
terjun ke dunia jurnalistik. Dja Endar Moeda menjawab enteng: “pendidikan dan
jurnulistik sama pentingnya; sama-sama mencerdaskan bangsa”. Singkatnya, Dja
Endar Moeda pada tahun 1900 mengakuisisi surat kabar Perja Barat beserta
percetakannya. Dja Endar Moeda juga menerbitkan surat kabar baru Tapian Na
Oeli. Motto surat kabar Pertja Barat diubah menjadi: “Oentoek Sagala Bangsa”. Tidak
cukup sampai disitu, Dja Endar Moeda menginisiasi organisasi kebangsaan (multi
etnik) di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian dan sekaligus menjadi
direkturnya. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda menerbitkan majalah bulanan
Insulinde yang sekaligus menjadi organ dari Medan Perdamaian. Topik-topik yang
dimuat di Insulinde perihal pembangunan seperti pertanian dan industry kerajinan
rumah tangga dan social budaya termasuk peningkatan penduduk pribumi dan
mendorong terjadi perubahan ke arah kemajuan. Dja Endar Moeda “mengirim” salah
satu asistennya di majalah Insulinde, Baginda Djamaloedin pada tahun 1903 untuk
melanjutkan studi ke Belanda. Pada tahun 1904 Dja Endar Moeda kembali mengirim
adik kelasnya guru di Padang Sidempoean Soetan Casajangan untuk melanjutkan
studi ke Belanda. Di Belanda, Baginda Djamaloedin diterima di sekolah pertanian
di Wageningen dan Soetan Casajangan diterima di sekolah keguruan di Haarlem.
Baginda Djamaloedin lulus dari sekolah guru di Fort de Kock tahun 1899. Dja
Endar Moeda lulus sekolah guru di Padang Sidempoean tahun 1885 dan Soetan
Casajangan lulus dari sekolah guru Padang Sidempoean tahun 1889.
Pada saat Tjipto
Mangoenkoesoemo lulus sekolah Docter Djawa School di Batavia tahun 1905, Dja
Endar Moeda terkena delik pers di Padang dan dihukum. Dja Endar Moeda dihukum
dengan cambuk dan diusir dari kota Padang. Dja Endar Moeda meminta bantuan adiknya
(pensiun dini dari guru) untuk menggantikan posisinya di Padang (untuk mengurus
pendidikan dan pers). Dja Endar Moeda kemudian hijrah. Di Medan, Dja Endar
Moeda bersama pengusaha Hadji Ibrahim mendirikan organisasi kebangsaan baru
Sjarikat Tapanoeli. Satu-satunya surat kabar berbahasa Melayu di Medan adalah
Pertja Timor di bawah penerbit surat kabar Sumatra Post. Pemimpin redaksi surat
kabar Pertja Timor di Medan adalah Mangaradja Salamboewe sejak 1902 (juga
lulusan sekolah guru di Padang Sidempoean).

Tjipto Mangoenkoesoemo dan Abdoel
Hakim (Nasoetion) beruntung lulus sekolah kedokteran Docter Djawa School karena
langsung ditempatkan keduanya sebagai dokter pribumi di rumah sakit kota (Stadsverband). Disebut beruntung karena pendidikan di sekolah Docter
Djawa School sangat ketat dan banyak yang gagal sebelum menyelesaikan studinya
menjadi dokter. Beberapa siswa yang gagal di Docter Djawa School yang juga
menjadi kolega Dr Tjipto semasih kuliah, tidak patah arah, lalu kemudian terjun
ke dunia jurnalistik. Dua yang terpenting dalam hal ini adalah Tirto Adi Soerjo
dan Abdoel Moeis. Pada
tahun 1900 Raden Mas Tirto Adisoerjo lulus ujian transisi naik dari kelas tiga
ke kelas empat tingkat medik (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1900). Untuk
lulus menjadi dokter harus lulus kelas enam medik. Sementara itu di kelas satu
tingkat persiapan terdapat nama Abdoel Moeis. Pada tahun 1902 nama Tirto Adhi
Soerjo di Batavia terinformasikan sebagai redaktur surat kabar berbahasa Melayu
Pembrita Betawi di bawah kepala redaktur Wijbrand (lihat Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 17-05-1902). Abdoel Moeis pada tahun 1903
terinformasikan lulus ujian pegawai pemerintah (klein ambtenaar) di Fort de
Kock (lihat Sumatra-bode, 20-01-1903). De locomotief, 07-11-1903: ‘Menurut surat
kabar Mataram, RM Soewardi dan RM Soero di Poero, di antara yang lain, sedang
mengikuti ujian tertulis yang diadakan di Djokja untuk para calon yang ingin
dilatih sebagai dokter Djawa di sekolah terkait di Batavia’. RM Soewardi pada
tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat
persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Daftar dokter pribumi di
Hindia berdasarkan penempatan menurut beslit pengangkatan tahun 1905 (lihat Regerings-almanak
voor Nederlandsch-Indie, 1906).
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo harus berpisah dengan kawan
lamanya Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Pada tahun 1906 Tjipto Mangoenkoesoemo oleh
Geneeskundigen Dienst (Jawatan Layanan Medis) dipindahkan dari Batavia ke
Amoentai (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-09-1906). Dengan kapal ss GG
Daendels Dr Tjipto berangkat menuju Bandjar (lihat De locomotief, 24-10-1906). Dr Abdoel
Hakim Nasoetion dipindahkan ke kampong halaman di Padang Sidempoean.
Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 07-11-1906: ‘Oleh Jawatan Pelayanan
Medis Sipil, ditempatkan dari Batavia ke Padang Sidempoeau, dokter pribumi Abdoel
Hakim’. Dr
Abdoel Hakim Nasoetion cukup lama di Padang Sidempoean. Het nieuws van
den dag voor Nederlandsch-Indië, 25-04-1910: ‘dokter pribumi ke Bindjei
(pantai timur Sumatera), Abdoel Hakim’.
Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo tidak lama di Amoentai, Zuid Borneo (lihat Soerabaijasch handelsblad, 22-04-1907). Disebutkan kapal ss GG Daendels
berangkat dari Bandjarmasing dimana Dr Tjipto salah satu penumpangnya. Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo kemudian ditempatkan di Demak (dekat dengan kampong
halamannya).
Pada tahun 1907 di sekolah kedokteran Batavia
(STOVIA) RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu
tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM
Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden
Soesilo.
Pada bulan
Juli 1908 terinformasikan organisasi kebangsaan Boedi Oetomo telah didirikan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-07-1908). Penjelasan yang lebih rinci
dapat dibaca surat sekretaris Boedia Oetomo Soewarno yang dimuat pada surat
kabar yang terbit di Semarang (lihat De locomotief, 24-07-1908).
Disebutkan
antara lain:…berapa banyak yang sudah mencoba membuat perkumpulan, perkumpulan
dengan tujuan untuk memajukan perkembangan orang Jawa, orang-orang yang cerdas,
penuh inisiatif, penuh energi, orang-orang seperti Soediro Husodho, yang telah
melakukan perjalanan setengah (pulau) Jawa, telah memohon tujuan suci di hampir
setiap priyayi,…sayangnya, semua orang itu merasa sangat kecewa tanpa ada
harapan. Kini, apakah kami ragu-ragu untuk mengulangnya? Kami pikir sebaiknya
tidak menyebarkan ide-ide kami kepada orang tua, tetapi untuk mengarahkan
langkah kami ke arah yang lebih muda, orang-orang yang hidup di bawah urgensi
keadaan yang sama seperti kami. berpikiran sama, di antara kawan-kawan kami di
sekolah pertanian dan kedokteran hewan di Buitenzorg, di sekolah-sekolah kepala
di Bandoeng, Magelang dan Probolinggo, di sekolah guru di Bandung, Djokja dan Probolinggo,
dan PPKn di Surjbayn, yang diharapkan dapat lebih memahami kami…Memang benar
bahwa perkumpulan kami Boedi-Utomo melihat cahaya hari pada tanggal 20 Mei 1908
dan keanggotaannya sekarang sekitar. 650 orang….Bagaimana kita harus mencapai
tujuan kita akan ditentukan lebih rinci oleh Badan Pusat yang akan dibentuk
pada bulan Poeasa berikutnya di Djokja. Sampai sidang umum disana kami menuntut
bahwa setiap asosiasi, mengejar tujuan yang sama, dikirim dari antara
delegasinya. Anggaran dasar asosiasi juga belum diadopsi….Dalam beberapa hari
terakhir beberapa surat kabar mencurahkan artikel-artikel menarik untuk upaya
sungguh-sungguh dari beberapa Jawa tiga Raden Adjeng Japara, bupati Demak.
Temanggoeng, Karanganjar, Koetoardjo dll, yang usaha-usaha pers kita lihat
untungnya diapresiasi hampir secara universal. Dengan gembira kami mengetahui
hal ini; untuk saat ini kesulitan besar untuk tidak dipahami oleh para pemimpin
rakyat yang ditunjuk dihilangkan dan kita dapat melepaskan sikap spekulatif
kita. Para pemimpin itu sekarang tampaknya memiliki gagasan yang sama seperti
kita; mereka ingin menempuh jalan yang sama seperti yang kita lakukan…kami
segera memberitahukan kepada ketiga adjeng dewan Japara tentang keberadaan dan
tujuan perkumpulan kami Boedi Oetomo, dengan permintaan untuk mendirikan suatu
perkumpulan lokal, dan juga menyatakan keinginan kami bahwa kami dengan senang
hati akan bergabung dengannya…Kami berharap kerjasama ini akan menghasilkan
organisasi yang kuat. Benar saja, dorongan ini seharusnya tidak datang dari
kita anak-anak muda; namun, kami tidak menuduh siapa pun telah gagal dalam
tugasnya. Ternyata waktu untuk beraksi belum tiba, hari kehidupan baru bagi
orang Jawa mungkin baru menyingsing, tetapi masa kebodohan pasti sudah berakhir’.
Dari keterangan sekretaris Soewarno ini banyak yang diketahui tentang
latar belakang pembentukan Boedi Oetomo di Batavia. Terinformasikan Boedi
Oetomo didirikan para mahasiswa di Batavia tanggal 20 Mei 1908. Dari informasi
tersebut juga sudah terinformasukan sejauh apa yang dilakukan dan apa yang akan
diagendakan segera (untuk mencapai masa depan). Tampaknya gerakan Boedi Oetomo
yang dimotori oleh Soetomo, Soewarno dkk ini yang didukung di dalam tempat
dimana mahasiswa kuliah telah memicu golongan senior untuk melihat perspektif
baru tidak hanya membentuk organisasi yang akan bersinergi dengan Boedi Oetomo.
Salah satu pembentukan organisasi senior ini (Algeeenen Javaanschen Bond) berada
di Djogjakarta yang besar kemungkinan diinisiasi oleh Dr MB Wahidin Soediro Hoesodo.
Bataviaasch
nieuwsblad, 01-09-1908: ‘De Javanenbond.—Dari Djokja kabar baik telah diterima
bahwa divisi terorganisir pertama dari Algeeenen Javaanschen Bond telah
dibentuk disana. Pimpinan Departemen terdiri dari MB Soediro Hoesodo, Presiden,
RM Pandji Broto Atmodjo, Wakil Presiden, HK Yang Mulia Pangeran Hario
Notodirodjo, Bendahara Pertama, M. Ng. Soemo di Sastro, Bendahara, M.Ng. D.
Widjo Bisnojo, Sekretaris Pertama, R. Ng. Sosro Soegondo. Sangat menyenangkan
melihat bersatu dalam pemerintahan ini seorang pria seperti Pangeran
Notodirodjo, wakil bangsawan tertinggi Jawa, dan putra-putra sejati rakyat
seperti presiden, bendahara dan sekretaris pertama. Dipahami bahwa pengurus
divisi ini bukanlah pengurus organisasi Boedi Oetomo di Djokja, melainkan pengurus
divisi pertama Algemeenen Javaanschen Bond. Bukan tidak mungkin sebagian
pengurus ini akan diangkat menjadi pengurus pusat yang akan dibentuk dalam
kongres nasional, sehingga jabatan mereka di dewan departemen harus terisi.
Pengurus di Djokja telah menunjuk Pangeran Hario Notodirodjo, Raden
Toemenggoeng Poerbokoesoemo dan RM Toemenggoeng Djajeng Irawan sebagai anggota
kehormatan’. Dalam berita ini juga terdapat berita bahwa dari Djokja juga
mendapat pesan bahwa sekolah guru (kweekschool) disana akan disediakan sebagai
akomodasi menginap bagi anggota Asosiasi Boedi Oetomo yang datang dari luar
untuk menghadiri kongres selama liburan poeasa. Jadi mereka tidak perlu
khawatir tentang akomodasi bermalam’.
Dari berita ini De Javanenbond adalah satu hal, sedangkan Boedi Oetomo
yang terbentuk yang juga telah memiliki cabang termasuk di Djokjakarta yang
akan melakukan kongres pada bulan puasa adalah hal lain lagi. Boedi Oetomo
umumnya adalaj junior, sedangkan organisasi yang dibentuk baru di Djogjakarta
(De Javanenbond) adalah golongan senior. Lantas apakah golonga junior (Boedi
Oetomo) akan merangkul senior di Djogja atau sebeliknya golongan senior di
Djogja ini akan bergabung dengan Boedi Oetomo? Ini akan dapat dilihat pada
Kongres Boedi Oetomo di Djokjakarta yang akan diadakan tanggal 4,5 dan 6
Oktober 1908.
Bataviaasch
nieuwsblad, 05-10-1908: ‘Djokja, 4 Oktober. Asisten residen Djokja menghadiri
sesi kemarin malam; residen tidak hadir. Siang ini, pada pembukaan kongres,
tampak bahwa ketua telah bekerja lembur dan sedang sakit. Ketua saat ini, RM
Broiowidjojo, membuka sesi. Saya pribadi mengetahui bahwa para bupati yang
hadir kemarin malam tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan Radjiman; hal yang
sama berlaku untuk para pangeran Pakoe Alam. Hari ini residen juga tidak hadir;
begitu pula bupati Magelang, meskipun bupati Kotoardjo hadir. Agendanya adalah
pembacaan rancangan anggaran dasar dan peraturan internal, yang akan diadopsi
secara definitif setelah berkonsultasi dengan penasihat hukum. Masa berlaku
asosiasi ditetapkan selama 29 tahun dalam Anggaran Dasar. Tujuannya adalah
untuk berkontribusi pada pembangunan masyarakat Jawa, perjuangan mereka untuk
bertahan hidup diselesaikan dengan cara yang diperbolehkan dan sah. Dewan utama
dan dewan cabang akan sepenuhnya berada di tangan orang Jawa. Dewan utama
diangkat untuk tiga tahun dan langsung berhak untuk dipilih kembali. Non-Jawa
dapat diterima sebagai anggota serikat. Para anggota membayar iuran minimum,
yang akan ditentukan oleh masing-masing cabang. Pertemuan tahunan akan diadakan
antara tanggal 15 Ramadan dan 15 Sawal (poeasa). Bahasa organ resmi adalah Melayu
yang mudah dipahami. Terjadi pertukaran ide yang hidup tentang berbagai hal, di
mana Bupati Temanggoeng juga ikut serta. Diputuskan bahwa semua sub-asosiasi
dan cabang harus menyandang nama Boedi Oetomo. Sekretaris pertama, seorang
pembicara yang hebat dan pendebat yang terampil, memperjuangkan kekuatan
persatuan dalam pidato yang halus dan menggugah, yang disambut dengan tepuk
tangan. Ini diikuti oleh Boediardjo, menteri pendidikan pribumi, yang, dalam
sumpah yang pantas, mendesak agar tidak ada perubahan mendadak yang diharapkan;
pertumbuhan bertahap menjamin umur panjang. Pada pukul seperempat sepuluh,
diadakan pertemuan, di mana fotografer Cephas mengambil foto. Setelah dewan
dibuka kembali, pemilihan pengurus utama berlangsung, di mana cabang-cabang
Batavia, Buitenzorg, Bandung, Magelang, Djogja I dan II, Probollingo, dan
Surabaya mencalonkan kandidat. Berikut ini adalah kandidat yang dicalonkan
untuk jabatan presiden (seperti yang telah disebutkan beberapa kali): RM.
Atmodirono, anggota dewan di Semarang, Mas Wahidln Soedirohoesodo, Mas Tjipto
Mangoenkoesoemo, dokter di Damak, bupati Karanganjer, Mas Mangoenkoesoemo, guru
di Semarang, Mas Boediardjo (yang, dengan rasa terima kasih, dianggap kurang
mampu untuk bertugas di pengurus utama): Mas Dwidjosewojo, guru di Djocja, R
Kamil, inspektur pendidikan pribumi, Pangoran Notodirodjo, bupati Probolinggo,
bupati Sitoebondo dan bupati Serang. Setelah pemungutan suara, bupati Karangaanjar
terpilih diangkat menjadi presiden, maka orang lain akan ditunjuk. Perwakilan
Bupati Karanganjar mengucapkan terima kasih atas dukungannya dalam hal ini dan
akan menyampaikan keputusannya; ia berharap bupati akan menerima mandat
tersebut. Berikut ini kemudian diangkat: Wahidin dan Atmodirono sebagai wakil.
Para pengurus lainnya Dwidjosewojo, guru Bahasa Jawa di perguruan tinggi
keguruan di Djocja, seorang orator yang baik, jujur dan semangat; Mas
Sasrosoagauda, guru Bahasa Melayu di Djocja; Mas Tjipto Mangoenkoesoemo, dokter di Demak,
seorang demokrat yang independen dan bersemangat; Mas Wahidin Soedirohoesodho,
seorang dokter Jawa yang populer di Djokja, seorang pria yang sangat populer;
Raden Mas Ario Soenadiepoetra, kepala djaksa Bondowoso, seorang pria demokratis
yang energik dan independen, Raden Adipatl Dauoekoesoema, bupati Magelang, dikenal
sangat progresif, RM Pandi Gonda Atmadja, janda Pakoe Alaman RM. Pandi Gonda Soemaris,
kepala djaksa Soerakarta. Kepala djaksa Bondowoso adalah seorang Madoera,
selainnya Javanese. Kesan terhadap para wakil rakyat terpilih sangat baik;
semua yang terpilih adalah orang-orang progresif. Nama-nama wakil rakyat
terpilih disambut dengan tepuk tangan. Pada pukul dua belas siang, hari kedua
kongres ditutup. Kesan keseluruhannya adalah bahwa ini bukanlah urusan Timur,
melainkan sebuah kongres, di mana hal-hal berikut dapat disorot sebagai
pencapaian yang menggembirakan: keberanian, ekspresi pemikiran yang tegas,
bahkan kepada para pemimpin, argumentasi yang termotivasi dalam membela
keyakinan, dan yang terpenting, ekspresi terbuka dari suasana hati dan perasaan
yang sampai sekarang tetap tak terucapkan. Oleh karena itu, kongres ini
merupakan keberhasilan yang tak terbayangkan, dan dapat dianggap sebagai titik
balik dalam perselisihan kolonial kita. Semua yang terpilih hadir, kecuali
presiden. Bupati Magelang telah diberitahu melalui telegram
tentang hasil deklarasi tersebut. Saya memahami bahwa ada rencana untuk mencari
berbagai bupati untuk bertindak sebagai penasihat bagi dewan utama’. ‘Penutupan
Kongres. Djokja, 5 Oktober. Setelah beberapa diskusi lebih lanjut mengenai
badan resmi, kontribusi untuk badan tersebut telah ditetapkan sementara sebesar
tiga gulden setahun; akan dikurangi seiring meningkatnya sirkulasi. Sekretaris
Pertama menyampaikan pidato penutup, di mana beliau memohon kelonggaran dari
para hadirin dalam penilaian kongres pertama ini. Pukul 11 pagi kongres
ditutup diiringi tepuk tangan meriah. Dapat dipastikan bahwa kongres nasional
Jawa pertama ini sukses besar’.
Dalam Kongres Boedi Oetomo yang pertama ini juga turut dihadiri oleh Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo bahkan ayahnya juga Mangoenkoesoemo guru di Semarang hadir.
Uniknya ayah dan anak ini juga menjadi kandidat dalam pemilihan presiden.
Presiden terpilih adalah bupati Karanganjar. Dalam kepengurusan oleh presiden
juga disertakan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Namun satu hal yang terkesan bahwa
organisasi kebangsaan Boedi Oetomo yang didirikan para mahasiswa di Batavia
bulan Mei telah terkooptasi oleh para senior di Djogjakarta. Kantor Pusat Boedi
Oetomo di Djogjakarta, sementara di Batavia hanya menjadi salah satu cabang
saja. Apakah para mahasiswa kecewa dengan situasi dan kondisi yang terjadi?
Soerabaijasch handelsblad,
20-10-1908: ‘Kongres pertama Boedi Oetomo diadakan di Djokdjakarta. Pada
pertemuan asosiasi Boedi Oetomo, yang diselenggarakan di Djokdjakarta 3 Oktober
1908 (Kongres pertama Boedi Oetiomo, red) pemerintah menanggapi pertanyaan dari
Bupati Temanggoeng bahwa di luar Djawa sudah ada asosiasi sejenis, (seperti
cabang) Medan Perdamaian di Fort de Kock yang didirikan 17 Oktober 1907.
Organisasi Medan Perdamaian (sebagaimanai) diketahui bertujuan untuk mewakili
kepentingan anggota dan populasi dalam satu kata: kemajuan. Untuk mencapai
tujuan, organisasi Medan Perdamaian telah diputuskan menerbitkan majalah
(maandelijksch) yang akan dicetak dan diterbitkan oleh penerbit pribumi Dja
Endar Moeda di Padang yang akan berisi ilmu sehari-hari yang berguna dan yang
diperlukan di bidang pertanian, peternakan, industri, pendidikan, kesehatan di
kampung, keadilan, dll. Organisasi (cabang) Fort de Kock ini sudah memiliki
anggota 700 orang’.
Satu yang
jelas bahwa peserta kongres pertama Boedi Oetomo sudah mengetahui adanya Medan
Perdamaian. Organisasi kebangsaan Medan Perdamaian didirikan tahun 1900 di
Padang. Medan Perdamaian adalah organisasi yang tidak eksklusif bagi dirinya
sendiri. Medan Perdamaian ketika masih dipimpin oleh direktur (ketua) Dja Endar
Moeda pada tahun 1902 sebagaimana dilaporkan De Locomotief (edisi 21-08-1902)
bahkan telah memberi sumbangan bagi peningkatan pendidikan di Semarang sebesar
f144.90 yang diserahkan melalui Charles Adrian van Ophuijsen yang saat itu
menjabat sebagai Direktur Pendidikan Province Sumatra;s Westkust (Pantai Barat
Sumatra). Ini dengan sendirinya menunjukkan bahwa Medan Perdamaian, organisasi
sosial pribumi pertama di Indonesia membuktikan sifatnya yang Hindia Belanda.
Ada persamaan dan ada perbedaan antara
Medan Perdamaian dengan Boedi Oetomo. Platform organisasi (baru) Boedi Oetomo
sesungguhnya persis sama dengan organisasi (lama) Medan Perdamaian. Yang
membedakan adalah Medan Perdamaian tetap cenderung bersifat multi etnik
(nasional), sedangkan Boedi Oetomo cenderung bersifat kedaerahan yang didalam
statutanya hanya dibatasi Jawa dan Madoera. Medan Perdamaian adalah organisasi
kebangsaan para senior sedangkan Boedi Oetomo dibentuk oleh para junior
(mahasiswa) lalu terkooptasi oleh para senior yang menyebabkan organisasi
kebangsaan Boedi Oetomo untuk semua lapisan mulai dari golongan junior
(mahasiswa) hingga para senior (para pejabat).
Pada bulan
Oktober 1908 ini, nun jauh disana, di Belanda, Soetan Casajangan menginisiasi
pembentukan organisasi mahasiswa Indonesia. Pada tanggal 25 Oktober 1908 di
kediamanan Soetan Casajangan berkumpul sebanyak 15 mahasiswa Indonesia dan
sepakat mendirikan organisasi mahasiswa di Belanda yang diberi nama Indisch Vereeniging.
Dalam pertemuan ini disepakati prinsip statuta dan kepengurusan secara aklamasi
menunjuk Soetan Casajangan sebagai presiden dan Raden Mas Soemitro sebagai
sekretaris bendahara. Dari statuta dapat dipahami Indische Vereeniging bersifat
nasional yang juga sesuai namanya Hindia (baca: Indonesia). Lalu bagaimana
reaksi Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dengan berdirinya organisasi mahasiswa
Indonesia di Belanda? Yang jelas berita Kongres Boedi Oetomo baru diberitakan
di Belanda pada minggu kedua bulan November 1908 (dan menjadi viral). Sementara
pembentukan Indische Vereeniging baru terinformasikan di Belanda pada akhir
bulan Desember 1908.
Het
koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 8, 1908, No. 52,
24-12-1908: ‘Indische Vereeniging. Di Belanda, telah dibentuk persatuan
orang-orang Hindia yang belajar disana, R Soetan Casajangan menulis tentang hal
ini di Koloniaal Weekblad sebagai berikut: Tiga tahun lalu saya sudah
merencanakan untuk membentuk sebuah sarikat untuk orang-orang Hindia di Belanda.
Karena saya terlalu sibuk pada saat itu, saya tidak dapat melaksanakan rencana
saya segera. Pada bulan Juni tahun ini [Juni 1908, red], Mr. JH Abendanon
datang mengunjungi saya dan bertanya apakah saya pernah berpikir untuk
memberikan bantuan kepada orang Hindia. Saya menjawab pertanyaan ini dalam
persetujuan dan kemudian dia mendorong saya untuk melanjutkan rencana saya yang
bermanfaat itn. Mengenai hal ini langkah pertama yang saya lakukan meminta
salah satu orang mahasiswa pribumi dari Hindia sebagai staf saya, namanya R
Soemitro. Lalu kami mengirim undangan ke semua orang pribumi Hindia yang
belajar di Belanda untuk menghadiri pertemuan. Pada tanggal 25 Oktober, kami,
sebanyak lima belas orang Hindia, berkumpul di tempat saya, di Leiden, dan pertemuan
pertama diadakan. Saya meminta Soemitro untuk memimpin pertemuan, R Hussein
Djajadiningrat ditunjuk sebagai sekretaris sementara. Statuta sementara
disetujui yang pada prinsipnya berisi dasar Indische Vereeniging yang
diputuskan secara prinsip. Kemudian kami melanjutkan untuk memilih pengurus.
Pemimpin terpilih: R. Soetan Casajangan Soripada, Sekretaris dan merangkap
bendahara RM Soemitro. Komite terdiri
dari R. Soetan CS, RM Soemitro, RMP Sosro Kartono dan R. Hoesain Djajadiningrat
yang diangkat untuk menyusun AD dan peraturan lebih lanjut (ART). Pada tanggal
15 November pertemuan kedua diadakan di Den Haag. Kita dapat membaca AD
tersebut sebagaimana diwartakan surat kabar Bat. Nbld yang menulis, antara
lain, bahwa Vereeniging pribumi menyandang nama Indische Vereeniging dan
berkedudukan di Den Haag. Tujuannya adalah untuk mempromosikan kepentingan
bersama orang Hindia di Belanda dan untuk tetap berhubungan dengan Hindia.
Orang Hindia sebagai penduduk asli Hindia Belanda. Vereeniging berusaha mencapai
tujuan ini dengan: mempromosikan asosiasi antara orang Hindia di Belanda,
mendorong orang siswa Hindia untuk belajar di Belanda. Untuk menjelaskan yang
terakhir, peraturan internal (ART) menyatakan: Asosiasi berusaha mendorong
orang Hindia untuk belajar di Belanda dengan melakukan hal berikut: dengan
memberikan informasi untuk memberikan informasi tentang studi dan tinggal di
Belanda, dengan membantu orang-orang Hindia yang baru tiba dan dengan
memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda berdasarkan permintaan.
Anggota biasa hanya bisa orang Hindia yang tinggal di Belanda. Kami berharap
asosiasi pemuda ini berhasil. Leiden,
22 Desember 1908’.
Sudah
barang tentu antara Boedi Oetomo dengan Indische Vereeniging di Belanda tidak
bisa diperbandingkan karena berbeda skala. Boedi Oetomo hanya bisa dibandingkan
dengan Medan Perdamaian di Padang dan Sjarikat Tapanoeli di Medan. Mungkin yang
bisa dibandingkan adalah antara Indische Vereeniging di Belanda dengan Boedi
Oetomo afdeeling (cabang) Batavia yang para pengusunya adalah mahasiswa (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 19-01-1909). Namun keduanya memiliki visi yang berbeda: Indische
Vereeniging di Belanda bersifat nasional, sementara Boedi Oetomo cabang Batavia
sesuai induknya di Djogjakarta hanya sebatas kedaerahan (Jawa dan Madoera).
Bataviaasch nieuwsblad, 19-01-1909:
‘Pertemuan propaganda pada Sabtu malam dan Minggu pagi. Pada hari Minggu pagi
pertemuan besar pertama perkumpulan Boedi Oetomo, cabang Weltevreden (Batavia),
berlangsung di Kebun Binatang (Tjikinie). Ringkasannya sebagai berikut:
Pertemuan dibuka oleh wakil ketua Raden Soewarno. Dalam pertemuan Miggu pagi
hadir sekitar 300 orang termasuk juga turut diundang sejumlah orang Belanda.
Lalu kemudian forum dipimpin oleh ketua Raden Soetomo. Sekitar empat puluh
orang yang hadir memberikan pidato singkat yang kuat dalam bahasa Belanda atas
permintaan beberapa orang yang hadir, termasuk terjemahan singkat pidato yang
disampaikan oleh Pak Soewarno yang disampaikan dalam bahasa Melayu. Ketua Soetomo
menyampaikan keinginan agar pihak Eropa juga ikut serta dalam perdebatan
tersebut. Permintaan ini dipenuhi oleh Tuan Charles Miyll. Beberapa mahasiswa
juga berbicara seperti Goenawan (Mangoenkosoemo) dan Mas Soeradji. Yang juga
berbicara adalah Ernest Douwes Dekker dan W van der Sluit, guru di sekolah KW
III Batavia. Secara keseluruhan ada 40 orang yang berbicara. Pesan telegraf
ucapan selamat telah tiba dari pengurus utama, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo,
dokter di Demak, sesaat sebelum pertemuan ditutup’.
Pada bulan
Agustus 1909, terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah mengundurkan diri
sebagai dokter pemerintah (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 09-08-1909). Disebutkan terhitung sejak 15 Agustus 1909,
atas permintaan sendiri, diberhentikan dengan hormat dari dinas pemerintahan,
dokter pribumi di Demak (Semarang), Mas Tjipto. Lantas apa yang terjadi dengan
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Apa yang terjadi dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo?
Namun tidak lama kemudian terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengajukan
izin ke Jawatan Pelayanan Medis (lihat De locomotief, 26-08-1909). Disebutkan
Jawatan Pelayanan Medis. Diterima untuk praktik kedokteran, bedah, dan
kebidanan di tempat-tempat yang tidak memiliki dokter atau apoteker, mantan
dokter pribumi Mas Tjipto. Tidak lama kemudian lagi, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo
mengundurkan diri dari Boedi Oetomo.
De locomotief, 12-10-1909: ‘Boedi
Oetomo. Koresponden kami di Yogyakarta menulis kepada kami pada tanggal 11
Oktober: Setelah rapat umum diadakan pada hari Sabtu oleh anggota asosiasi
Boedi Oelomo, rapat umum pertama dari kongres dua hari tersebut dilanjutkan
pada Minggu malam. Rapat ini dihadiri oleh banyak penduduk asli, termasuk
beberapa wanita, serta beberapa orang Eropa dan Cina. Aula besar gedung
perkumpulan cukup penuh, tetapi orang mendapat kesan bahwa suasana sakral tahun
sebelumnya agak memudar. Presiden RTA Tirtokesoemo, Bupati Karanganjar,
menyampaikan pidato pembukaan, menyambut para hadirin, menyampaikan rasa terima
kasih atas minat yang terlihat dari banyaknya peserta, dan mengapresiasi bahwa
penduduk Yogyakarta telah memberikan izin untuk mengadakan kongres ini di Kota
Sultan sekali lagi. Beliau selanjutnya mengumumkan bahwa, dengan menyesal, dua
anggota dewan telah meminta untuk mengundurkan diri dari jabatannya, yaitu Mas
Tjipto, pensiunan dokter-djawa dari Demak, dan RM Soeriodipoetro (seorang
Madoera), kepala djaksa di Bondowoso. Sebagai gantinya, Bupati Japara dan
Bupati Magelang telah terpilih pada rapat umum sehari sebelumnya (yang terakhir
telah memberitahukan penerimaannya atas pemilihan tersebut). Akhirnya, ia
menunjukkan bahwa tujuan kongres ini terutama untuk mempromosikan Boedi Oetomo
dan untuk sekali lagi menjelaskan dengan jelas apa tujuan sebenarnya dari
asosiasi tersebut. Setelah itu, sekretaris, Mas Dwidjosewojo, seorang guru di
perguruan tinggi pelatihan guru pribumi di Djokja, menyampaikan laporan tentang
apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir dan, pada saat yang sama,
untuk sekali lagi menyoroti tujuan asosiasi tersebut. Ia menunjukkan bahwa
belum banyak hasil nyata yang dapat ditunjukkan, dan menjelaskan alasan
utamanya. Dewan utama pada awalnya secara efektif ditugaskan untuk melakukan
semuanya, dan ini tidak layak; mereka tidak dapat melaksanakan semua pekerjaan.
Lagipula, anggota dewan utama masing-masing memiliki pekerjaan khusus untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka, sehingga mereka tidak
dapat mencurahkan banyak waktu untuk kepentingan asosiasi dan tidak dapat
sering bertemu untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, telah diputuskan
untuk mengambil jalan yang berbeda dan memberikan lebih banyak kemandirian
kepada dewan cabang, sementara dewan utama sendiri akan memiliki kepemimpinan
umum. Cabang-cabang sekarang dapat menyusun peraturan internal mereka sendiri,
tentu saja sesuai dengan anggaran dasar asosiasi, dan tunduk pada persetujuan
lebih lanjut dari dewan utama. Lebih lanjut, mereka juga akan mempertahankan
kendali atas 90 persen dari kontribusi seksi mereka sendiri, untuk menggunakannya
demi kepentingan seksi tersebut, atau sesuai keinginan seksi tersebut,
sementara hanya 10 persen dari kontribusi yang akan disalurkan ke dewan utama
untuk menjaga kepentingan umum. Pengaturan ini juga akan mencegah seksi mana
pun mudah tersinggung, seperti yang telah terjadi beberapa kali, karena mereka
tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan terkait proposal yang diajukan
kepada dewan utama, atau percaya bahwa dewan utama tidak cukup memperhatikan
proposal tersebut. Pembicara mencatat bahwa dewan utama selalu memberikan
perhatian semaksimal mungkin pada semua proposal, tetapi dalam melakukannya
selalu harus mempertimbangkan secara serius pro dan kontra untuk akhirnya
memilih apa yang dianggap terbaik. Namun, ia mengakui bahwa dewan-dewan seksi
seringkali lebih mampu daripada dewan utama untuk menilai apa yang berguna atau
diperlukan di bidang keahlian mereka, dan oleh karena itu ia menyatakan harapan
bahwa pengaturan baru ini akan memuaskan. Pembicara lebih lanjut menunjukkan
bahwa ketika mengevaluasi pekerjaan, seseorang harus selalu ingat bahwa tidak
ada yang sempurna, dan bahwa setiap orang cenderung berpikir bahwa ia tahu
lebih baik. Selanjutnya, Dwidjosewojo berbagi beberapa informasi mengenai
penyusunan anggaran dasar dan permohonan badan hukum. Semua ini membutuhkan
banyak waktu. Badan hukum yang diminta belum diberikan, tetapi kemungkinan akan
segera diberikan. Setelah itu, ia menyebutkan 17 cabang Boedi Oetomo. Keadaan
keuangan tidak cemerlang karena masih terlalu sedikit anggota. Karena alasan
ini, propaganda harus dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak anggota.
Selanjutnya, sekretaris menyampaikan beberapa informasi mengenai kegiatan
cabang-cabang, dan khususnya cabang Kiaten, di mana pekerjaan dilakukan dengan
tekun dan giat. Beberapa ceramah telah diadakan di sana yang menarik banyak
minat, dan kursus bahasa Belanda telah dibuka di sana yang dapat diakses oleh
semua orang secara gratis. Di Kiaten, orang-orang telah berulang kali bekerja
dengan giat. Mereka bersikeras agar tidak mengeluarkan biaya di luar kemampuan
saat merayakan pesta, dan dengan tegas memperingatkan agar tidak berjudi dan
mengonsumsi minuman keras. Sebelumnya, mereka telah mengikat diri secara
kontrak untuk menahan diri dari perjudian dan minuman keras. dengan ancaman
denda, yang akan diberikan kepada pejabat cabang dan kepada orang yang
menangkap pelanggar. Di Kiaten, upaya dilakukan untuk memberikan anggota
pemahaman yang benar tentang perdagangan dengan mengumpulkan uang dalam bentuk
saham satu guilder, memperdagangkannya, dan membagikan dividen kepada pemegang
saham. Tujuannya di sini bukanlah keuntungan moneter kecil, melainkan untuk
memberikan pemahaman yang baik tentang kerja sama, dan sebagainya. Dewan cabang
Kiaten juga memperoleh persetujuan dari kepala administrasi setempat bahwa
festival Ongkowijoe (sejenis festival) di mana orang kecil selalu menghabiskan
banyak uang, telah dihapuskan. Pembicara menjadikan cabang Kiaten sebagai
contoh dan mencatat bahwa banyak hal dapat dicapai dengan cara ini. Selanjutnya,
giliran Mohammed Talm’, asisten guru di Batavia, yang berbicara kurang jelas.
Ia menekankan pentingnya pendidikan dan menyatakan pendapatnya bahwa banyak hal
dapat dilakukan di bidang ini jika dana dari dana misi digunakan untuk tujuan
tersebut. Ia mencatat bahwa uang ini saat ini sebagian besar disimpan dan
ditumpuk tanpa guna di panti asuhan, sementara hanya digunakan untuk
memperbaiki misi sesekali, dan untuk membantu haji ini atau itu, dll., yang
tidak lagi melihat cara mudah lain untuk mencari nafkah. Ia mendesak agar
beberapa individu swasta di antara orang Eropa juga mendirikan sekolah dan
memungut biaya sekolah yang hampir tidak lebih dari yang diperlukan untuk
pemeliharaan bangunan, penerangan, dll. Ia percaya bahwa banyak hal dapat
dilakukan untuk penduduk asli di bidang pendidikan tanpa banyak biaya. Ia
secara khusus menunjuk ke Batavia; ia menyebut kota ini besar dan indah, tetapi
menambahkan bahwa sebagian besar penduduk asli di sana sama bodohnya dengan
hampir di mana pun di Hindia Belanda. Ia lebih lanjut menunjukkan bahwa tempat
sangat jarang tersedia untuk penduduk asli di sekolah-sekolah Eropa. Seorang
kepala distrik Tionghoa dari Kiaten menyatakan persetujuan penuh dengan apa
yang dikatakan Muhammad Tahir, dan bertanya kepada dewan utama apakah, secara
umum, uang dari dana misi tidak dapat digunakan untuk tujuan pendidikan demi
kepentingan penduduk asli. Presiden menjawab bahwa ia pikir ide itu sangat
bagus, tetapi tidak tahu apakah itu dapat dengan mudah diimplementasikan.
Selanjutnya, sebuah ceramah yang menarik disampaikan oleh R. Sastrowidjono,
djaksa dari Sragen. Beliau memulai dengan doa berkat untuk Buda Utomo dan
mendoakan agar perkumpulan tersebut berumur panjang. Beliau menyatakan bahwa
kita tidak boleh terlalu berharap banyak dari perkumpulan tersebut di beberapa
tahun pertama. Beliau membandingkan Buda Utomo dengan jmi yang belum selesai,
tetapi terus berkembang, perlahan namun pasti. Beliau menekankan bahwa setiap
permulaan itu sulit, tetapi dengan ketekunan banyak hal yang dapat dicapai.
Pembicara kemudian membandingkan anggota perkumpulan dengan semut, yang
meskipun makhluk yang sangat kecil, mencapai banyak hal melalui upaya
bersama—sesuatu yang tidak akan kita harapkan dari mereka, jika
mempertimbangkan setiap makhluk secara individual. Lebih lanjut, beliau
membandingkan Boedi Oetomo dengan pohon muda yang belum dapat diharapkan
berbuah. Kita tidak dapat memaksa pohon muda tersebut untuk berbuah, tetapi
jika kita bersabar, pohon muda itu akan tumbuh besar dan kemudian pasti berbuah.
Beliau mengatakan bahwa BO didirikan oleh kaum muda, tetapi karena alasan itu,
para tetua tidak boleh acuh tak acuh terhadap perkumpulan tersebut. Tidak,
mereka harus mendukung kaum muda dan bekerja sama dengan mereka. R
Sastrowidjono kemudian menunjukkan bahwa di kalangan penduduk asli tidak ada
kelas menengah, terutama kelas menengah pedagang. Meskipun demikian, menurut
para pembicara, hal ini dapat berjalan dengan sangat baik, tetapi semangat
perdagangan harus terlebih dahulu dibangkitkan. Masyarakat harus diajari untuk
berdagang. Lebih lanjut, ia menganjurkan kesederhanaan dalam kehidupan rumah
tangga. Ketika ditanya apakah penduduk asli umumnya hidup terlalu boros, ia
menjawab negatif, tetapi mereka tentu dapat menghemat banyak uang dengan memberikan
berbagai macam salad. Ia juga memperingatkan terhadap perjudian dan minuman
keras dan sangat mendesak perekrutan anggota untuk Budi Utomo. Ia menunjukkan
bahwa banyak yang masih memiliki gagasan yang salah tentang perkumpulan
tersebut, tetapi karena alasan itu, mereka yang memahami upaya tersebut dengan
baik harus berusaha untuk menjelaskannya kepada orang lain. Pembicara ini
menyimpulkan dengan mengatakan bahwa kekayaan suatu negara tidak terletak pada
pendapatan moneter, atau pada kepemilikan bangunan besar, dll., tetapi pada
kepemilikan warga negara yang terdidik, beradab, dan kuat. Saya dapat
menambahkan bahwa berbagai pembicara mendapat tepuk tangan meriah setelah
pidato mereka selesai. Dengan ucapan terima kasih terakhir atas minat yang
ditunjukkan, presiden menutup malam pertama kongres ini’.
Apa yang
terjadi dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo? Tidak lama setelah mengundurkan diri
dari dokter pemerintah, lalu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga
mengundurkan diri dari organisasi kebangsaan Boedi Oetomo. Praktis Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo hanya menjadi anggota Boedi Oetomo di tahun pertama.
Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 14-10-1909: ‘Turun gunung! Reporter dari Bat. Nbl.
Selanjutnya dinyatakan: “Kesimpulan keseluruhan dari pertemuan kedua ini,
terutama sehubungan dengan keberhasilan besar kongres pertama, tidaklah baik.
Banyak yang berpendapat bahwa Boedi Oetomo sedang mengalami kerugian besar,
namun cara untuk mengatasinya tentu dapat ditemukan. (*) Dengan demikian,
menjadi lebih jelas dari sebelumnya bahwa seorang presiden yang digaji dan
independen sangat diperlukan, (**) sementara penguatan unsur bupati di dewan
utama justru patut disayangkan. Oposisi yang sehat dan kuat dari minoritas di
dewan utama, yang diperlukan sebagai insentif untuk bertindak, masih hampir
sepenuhnya kurang, sementara minoritas yang terdiri dari dua anggota (Tjipto
dan Soeria di Poetra), yang tidak diragukan lagi dua orang yang sangat
menyadari konsekuensi dari upaya Boedi Oeiorno, merasa terpaksa meninggalkan
arena politik di bawah tekanan dari otoritas yang lebih tinggi. Kepemimpinan
kongres juga kurang terpuji; tampaknya pendapat yang keliru berlaku bahwa
penyelenggaraan kuliah (beberapa di antaranya bahkan hampir tidak terkendali)
dapat dianggap sebagai sarana propaganda yang cukup, sementara keputusan atau
resolusi gagal terwujud. Akibatnya, semua pekerjaan terus berlanjut untuk
menanggung cap ketidakjelasan. (§) Namun, tidak perlu langsung sependapat
dengan pendapat yang diungkapkan di sana-sini bahwa keberadaan Boedi Oetomo
sudah dalam bahaya akibat degenerasi; selama prinsip-prinsip demokrasi masih
dijunjung tinggi, kita dapat dengan tenang menunggu apa yang akan dicapai pada
tahun asosiasi mendatang”. * Yang mana? ** Dibayar? Dan atau tidak ada uang!
§ Persis seperti ide saya. Omong kosong. (§§) “Tunggu saja dan
lihat!” kata dokter kepada penderita tuberkulosis.
Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo tampaknya tidak nyaman di Boedi Oetomo. Lantas bagaimana
pandangannya terhadap Indisch Vereeniging di Belanda? Dan bagaimana pula
pandangannya terhadap Boedi Oetomo cabang Batavia? Yang jelas di Boedi Oetomo
cabang Batavia ada adiknya Goenawan Mangoenkoesoemo yang masih kuliah di
STOVIA. Pada bulan November terinformasikan melalui iklan sudah tinggal di
Poerwosoekarjo (lihat De nieuwe vorstenlanden, 01-11-1909). Disebutkan Mas
Tjipto, seorang dokter swasta pribumi, menetap di sini. Batangan, kediaman
Dokter Djawa, Poerwosoekarjo’. Catatan: Batangan berada diantara kota Pati dan
kota Rembang.
Provinciale Geldersche en
Nijmeegsche courant, 01-01-1910: ‘Pembicaraan Hindia. Saya masih jauh dari
selesai berbicara tentang “Boedi-Oetomo,” dan, saya harap, para
pembaca saya juga belum selesai mendengarkan tentang subjek itu. Sebuah
pengalihan dari “selesai mendengarkan”! Sebuah obrolan didengarkan,
dan kebalikan dari “selesai berbicara” adalah “selesai
mendengarkan”; berhenti berbicara, kebalikan dari berhenti mendengarkan! Bukankah
itu seni kata-kata yang paling murni? Dalam Pembicaraan saya yang terakhir,
saya mengutip, antara lain, pidato Mas Tjipto pada rapat umum
“Boedi-Oetomo” di Djokja, di mana ia menyarankan untuk menjembatani
kesenjangan antara penindas dan yang tertindas, agar dapat bekerja sama untuk
kepentingan rakyat. Seorang kepala suku di Semarang, yang menghadiri pertemuan
tersebut, ketika ditanya oleh seorang jurnalis tentang kesannya, menganggap
usulan menjembatani kesenjangan antara kulit putih dan cokelat sebagai tugas
yang mustahil. Seorang Mas Tjipto, menurut kepala suku tersebut, mengusulkan
untuk menerima orang Eropa ke dalam persatuan juga; dengan demikian kesenjangan
antara kulit putih dan cokelat akan dipersempit. Di sini saya harus mencatat
secara singkat bahwa Mas Tjipto berbicara tentang menjembatani, yang tidak sama
dengan mempersempit; yang terakhir lebih radikal. Sekarang kembali ke kepala
yang diwawancarai. Mas Tjipto yang baik ingin mempersempit kesenjangan — maaf,
menjembataninya — tetapi kesenjangan itu kemungkinan akan tetap ada selamanya —
seperti halnya dengan menjembatani. Perbedaan sifat, pandangan, dan gagasan
antara orang Eropa dan penduduk asli begitu besar sehingga tidak akan pernah
ada pertanyaan tentang menjembataninya, sesuatu yang, terlebih lagi, tidak
diinginkan atau diharapkan oleh siapa pun. Seperti yang kita lihat, si pesimis yang
dimaksud menggunakan ungkapan “meredam” di satu waktu dan
“menghancurkan” di waktu lain, sehingga ia menganggap tidak hanya
peredaman—yang kita setujui dengannya—tetapi juga menjembatani itu tidak
mungkin—yang tidak mudah kita setujui—sementara ia juga meramalkan kematian
dini bagi “Boedi-Oetomo”. Secara lokal, perkumpulan orang Jawa dapat
bermanfaat di bidang sosial, tetapi penduduk asli belum siap untuk persatuan
umum. Jumlah anggota semakin berkurang, dan beberapa tidak membayar iuran,
sebuah kelemahan dari penduduk asli. Tidak ada debat yang diadakan, dan dewan
utama tidak dapat menunjukkan telah mencapai apa pun hingga saat ini. Dorongan
untuk pendirian lebih banyak muncul dari bawah, dan dewan saat ini memiliki
jumlah Bupati yang dipertanyakan. Kami telah menunjukkan aspek yang
dipertanyakan ini, menurut pandangan beberapa anggota, sebelumnya: Bupati dan
“Boedi-Oetomo” tidak berima! Secara lokal, perkumpulan orang Jawa
dapat memberikan manfaat sosial, menurut pendapat kepala, yang pandangannya
tampaknya disetujui oleh dewan utama “BO”, sesuai dengan keputusannya
untuk memberikan kemandirian yang lebih besar kepada cabang-cabang. Bahwa ini
adalah penilaian yang tepat dibuktikan oleh cabang Klaten, yang telah mencapai
banyak kebaikan dalam waktu singkat keberadaannya. Tidak heran jika djaksa di
Srageni, yang mendirikan cabang itu sebagai wakil djaksa di Klaten, menunjukkan
hal ini pada kongres dengan puas, dan pidatonya karenanya agak bernuansa
optimis. “Saya bersyukur kepada Tuhan”, kata Raden Sastro Widiono,
“bahwa ‘BO’ kini telah berdiri selama satu tahun. Meskipun usianya masih
muda, Serikat ini telah bekerja dengan baik. Ia berharap ini akan membuat
banyak orang yang saat ini menolak karena iri kepada para pesulap, karena
mereka sendiri belum mampu mengambil inisiatif, untuk merenung. Itu sangat
disayangkan, tetapi juga disayangkan bahwa di kalangan anak muda, banyak yang
begitu sombong dan meremehkan para tetua, seolah-olah mereka tidak bisa belajar
apa pun dari mereka. Baik jika tua dan muda bekerja bersama secara harmonis.
Pertama dan terpenting, Serikat membutuhkan uang; meskipun beberapa orang Jawa
mengklaim bahwa bahkan kontribusi 0,25 gulden pun terlalu banyak bagi mereka,
uang harus dikumpulkan. Uang itu dapat dihemat dengan menahan diri dari hal-hal
tertentu, sebagai persembahan “BO”, misalnya, bermain, minum,
berpesta, bermain game, anggur dan minuman keras, dll. Pembicara mendesak untuk
mempraktikkan penghematan, belajar dalam skala sederhana, menahan diri dari
mengadakan pesta besar, atau dari mendukung parasit di antara anggota keluarga;
Kecanduan judi dan penyalahgunaan alkohol harus diperangi. Divisi Klaten
memberikan bukti bahwa “BO” dapat mencapai kemajuan yang cukup besar
dalam hal ini. Di masa lalu, perjudian sangat marak di sana, tetapi sekarang
tidak lagi; di masa lalu juga banyak minum-minuman keras, tetapi sekarang hanya
kopi dan teh yang dikonsumsi di pesta-pesta. Pembicara mengakhiri pidatonya
yang sangat dipuji dengan menunjukkan bahwa pembangunan dan karakter merupakan
kebesaran sejati suatu bangsa. Tidak heran jika ketua kongres memberikan pujian
kepada Klaten dan menjadikan aktivitas ajudan tersebut sebagai contoh bagi
divisi-divisi lain, yang kini telah menjadi lebih mandiri. Bahwa Raden Sastro
Widjono dihargai baik oleh divisi Klaten, yang didirikan oleh para anggota,
maupun oleh atasannya, terbukti dari fakta bahwa, bahkan setelah promosi dan
transfernya, ia tetap menjabat sebagai presiden di Klaten atas permintaan
terhormat presiden, sementara ia menerima cuti setiap bulan untuk pergi ke sana
mewakili kepentingan “BO” penuh semangat. Dalam Causerie selanjutnya,
kita akan kembali ke bagian model Klaten, yang kemudian akan kita gunakan untuk
mengakhiri seri Boedi-Oetomo ini. CAUSEUR’. Catatan: Penulis dengan nama
inisial Z de B yang diduga adalah singkatan dari Zacharias de Beer.
Nun jauh di
sana, di Belanda, Soetan Casajangan lulus ujian akta guru kepala (MO) pada
bulan Agustus 1910. Pada ulang tahun kedua Indische Vereeniging, posisinya
sebagai ketua kemudian diestafetkan kepada Dr Ph Laoh. Namun begitu, Soetan
Casajangan belum segera kembali ke tanah air. Hal itu boleh jadi karena Soetan
Casajangan sudah bekerja sebagai guru di sekolah perdagangan (Handelschool) di
Haarlem dan Rotterdam. Setelah lebih leluasa, Soetan Casajangan kemudian
merintis pembentukan Studiefond (dana pendidikan). Soetan Casajangan diundang
untuk berbicara di forum Vereeniging Moederland en Kolonien (wadah bagi
orang-orang Belanda pencinta Hindia di Belanda). Dalam kesempatan yang diadakan
pada tanggal 28 Maret 1911, Soetan Casajangan membawakan makalah berjudul
‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut
beberapa petikan penting isi pidatonya:
Geachte Dames en Heeren! (Dear
Ladies and Gentlemen).
‘…saya selalu berpikir tentang
pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah
luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung
mengemukakan yang seharusnya…saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir
dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku
untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang
indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan
yang lebih tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam berpidato ini
ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan
dalam pendidikan pribumi)’.
Dalam
menerjemahkan situasi dan kondisi penduduk pribumi tampaknya Soetan Casajangan
dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memiliki cara berpikir yang kurang lebih sama. Dr
Tjipto Mangoenkoesoemo di satu sisi mengusulkan untuk menerima orang Eropa/Belanda
ke dalam persatuan yang dengan demikian kesenjangan antara kulit putih dan
cokelat akan dipersempit. Sementara Soetan Casajangan melihat dari sisi lainnya
jika tidak akan tetap ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaannya.
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sendiri
tampaknya tidak lama di Batangan yang kemudian pindah ke Soerakarta. Namun
terinformasikan kembali Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan pindah ke Malang (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 24-04-1911). Disebutkan oleh Pejabat Sementara Kepala Inspektur,
Kepala Dinas Dokter Sipil: Dengan persetujuan lebih lanjut dari Pemerintah,
untuk sementara ditempatkan di bawah wewenang Residen Pasoernean, untuk secara
aktif dikerahkan demi kepentingan memerangi wabah di Afdeeling Malang, yaitu
Residentie Pasoernean, Bapak Tjipto, Dokter Swasta Lokal di Soerakarta’.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Dari
Medan Perdamaian, Sjarikat Tapanoeli, Boedi Oetomo dan Indisch Vereeniging;
Mengapa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Keluar dari Boedi Oetomo dan Mengapa Bersedia
Masuk Indisch Partij?
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










