Sejarah Indonesia

Sejarah Belanda di Indonesia (5): Nama Indo Diperkenalkan oleh Prof AA Fokker; Nama Indonesia Diperkenalkan RJ Logan

image001 16


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Balanda di Indonesia di blog ini Klik Disini

Jauh sebelum nama Indonesia muncul, sudah
eksis nama Nusantara, nama bahasa asli penduduk kepulauan yang digabungkan dari
dua kata: nusa (pulau) dan antara (di antara atau seberang). Secara harfiah bermakna
“pulau-pulau yang berada di antara” dua benua (Asia dan Australia)
atau gugusan pulau di luar daratan utama. Lalu orang Eropa melihat letak
Nusantara berada di timur India. Hal itu menyebabkan muncul sebutan kepulauan
India/Hindia Timur (Oost Indie Archipel/East India Archipelago). Kepulauan
sendiri dibedakan dengan semenanjung (peninsula) seperti Italia dan Malaya. Jadi
tidak pernah disebut Kepulauan Italia. Dalam konteks inilah muncul nama
Indonesia dan Kepulauan Indonesia (bukan The Malay Archipelago).
Deepublish

 

image001 16

Asal-usul kata “Indo” secara
etimologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu Indus (Ἰνδός) atau Indos, yang
berarti “India” atau “Hindia”. Dalam perkembangannya, kata
ini memiliki beberapa konteks penggunaan yang berbeda, mulai dari nama negara
hingga kategori identitas manusia. Dalam konteks nama negara kita,
“Indo” merupakan potongan dari kata “Indonesia”. Pada tahun
1850, dua ilmuwan Inggris bernama George Samuel Windsor Earl dan James
Richardson Logan mencari nama khas untuk wilayah kepulauan jajahan Belanda
(saat itu disebut Hindia Belanda) agar tidak tertukar dengan India. Kata
“Indonesia” diciptakan dengan menggabungkan dua kata Yunani:
“Indo” (Hindia/India) dan “Nesia” (dari kata Nesos yang
berarti pulau atau kepulauan). Secara harfiah, Indonesia berarti
“Kepulauan Hindia”. Dalam catatan sejarah kolonial, kata
“Indo” (berdiri sendiri) digunakan sebagai singkatan formal untuk
menyebut Orang Indo (Indo-Europeans). Sebutan ini merujuk pada kelompok orang
yang memiliki darah campuran (blasteran) antara leluhur Eropa (mayoritas
Belanda) dan pribumi Indonesia. Pada masa Hindia Belanda, komunitas ini
memiliki status sosial tersendiri yang berada di antara warga Eropa murni dan
masyarakat bumiputera. Dalam dunia linguistik dan sains internasional, kata
“Indo-” digunakan sebagai awalan untuk menunjukkan hubungan dengan
India atau Anak Benua India contohnya Indo-European (Indo-Eropa): Indo-China
(Indochina)
(AI Wikipedia) 

Lantas
bagaimana sejarah nama Indo diperkenalkan oleh Prof AA Fokker? Seperti disebut
di atas, nama Indonesia kemudian disingkat Indo, yang kemudian ditambahkan
Eropa menjadi Indo-Eropa bagi warga yang tingga di Indo-nesia. Dalam hal ini nama
Indonesia sendiri diperkenalkan Dr RJ Logan. Lalu bagaimana sejarah nama Indo diperkenalkan
oleh Prof AA Fokker? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Catur di Indonesia

image001 17

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Nama Indo Diperkenalkan oleh
Prof AA Fokker; Nama Indonesia Diperkenalkan RJ Logan

Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia
(JIAEA) terbit pertama kali di Singapura pada tahun 1847. Jurnal ini diasuh
oleh James Richardson Logan, seorang pengacara dan penulis berkebangsaan
Skotlandia di Penang. Jurnal/majalah berbahasa Inggris ini diterbitkan di
Singapoera. Nama jurnalnya adalah Te Indian Archipelago (Kepulauan Hindia) dan
ditambah wilayah Asia Timur (Eastern Asia).
 


image001 18

Jurnal/majalah pertama di Kepulauan Hindia (Te Indian Archipelago/Oost-Indischen
Archipel) adalah berbahasa Belanda Tijdschrift voor Neerland’s Indie yang
diasuh oleh Dr WR Baron van Hoevell yang terbit pertama tahun 1838 di Batavia
(baca: Jakarta). Diantara puluhan artikel dua diantarnya berjudul: “Iets over
het Koningrijk Jaccatra” dan “Iets over het Rijk en de Vorsten van Padjajaran”.
Dr WR Baron van Hoevell dalam pengantarnya pada edisi pertama tahun pertama
ini: “Dengan gembira atas keberhasilan awal yang menggembirakan dari usaha ini,
para Editor mempersembahkan edisi pertama Jurnal untuk Hindia Belanda ini
kepada para pelanggan. Keadaan yang tak terduga telah menunda penerbitan ini
hingga sekarang. Namun, untuk menempatkan para pembaca pada posisi yang tepat
untuk menilai karya ini, jurnal ini mengingatkan bahwa, selain
kesulitan-kesulitan umum yang selalu dihadapi oleh usaha semacam ini di awal,
jurnal ini juga harus menghadapi kesulitan-kesulitan lain. Karena dalam tujuh
bulan pertama, jurnal ini masih belum dapat menggunakan sumber daya yang telah
dikumpulkan dari Eropa, dan yang sangat dibutuhkan agar jurnal ini dapat
mencapai pentingnya yang diharapkan oleh para pelanggan. Oleh karena itu,
jurnal ini berharap bahwa keseluruhan karya di masa mendatang tidak akan
dinilai berdasarkan standar edisi pertama ini. Dalam edisi pertama ini, Anda
hanya akan menemukan tiga pengumuman singkat mengenai Hindia Belanda; Namun
demikian, para editor telah menerima jaminan dari berbagai sumber dan
memelihara harapan yang beralasan bahwa kontribusi dalam hal ini akan meningkat
secara signifikan, dan dalam hal ini, mereka sekali lagi mendesak kerja sama
dari semua pencinta sains dan pengetahuan’. 

Penamaan wilayah Indonesia masih beragam.
Jurnal/majalah pertama sendiri di Hindia Belanda dengan nama Neerland’s Indie. Lalu
kemudian jurnal/majalah berikutnya mulai mengerucut dengan nama yang seragam (Nederlandsch-Indie).
Nama Oost-Indischen Archipel adalah nama yang berasal dari era VOC. Orang-orang
Inggris di The Straits Settlement (Penang, Malaka dan Singapoera) yang bukan
orang Belanda, mulai memperkenalkan dengan sebutan sendiri Indian Archipelago
(karena basis utama Inggris berada di India dengan pusatnya di Calcutta).
 


image001 19

Satu hal yang perlu disampaikan disini, jurnal ini telah menjadi salah
satu sumber dalam penulisan berbagai artikel di dalam blog ini. Sumber-sumber
yang lebih awal yang digunakan adalah Daghregister (1624-1805); surat kabar
yang diterbitkan di Batavia sejak 1809 (plus surat kabar di Belanda dari tahun
1621) dan dokumen-dokoumen lain sejak era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda
seperti kontrak/perjanjian dengan kerajaan-kerajaan, Almanak tahunan, Staatsblad
dan sebagainya. Kehadiran Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia
dapat dikatakan sebagai penunjang atau pembanding. Tidak lama setelah terbit Journal
of the Indian Archipelago and Eastern Asia muncul jurnal baru di Batavia
seperti Het regt in Nederlandsch-Indië; regtskundig tijdschrift (sejak 1850); Natuurkundig
tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (sejak 1850); Bijdragen tot de taal-, land-
en volkenkunde van Nederlandsch-Indie (sejak 1853); dan sebagainya. 

Para penulis dan peneliti Inggris di The Straits
Settlement umumnya mendasarkan kajiannya tentang Indian Archipelago/Oost-Indischen
Archipel (sejak era Marsden/Raffles) yang justru kini berada di wilayah Neerland’s
Indie/Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda) lambat laun merasa risih atau terganggu
dengan nama Neerland’s Indie/Nederlandsch-Indie. Sebagaimana diketahui sejak
1824 (Traktak London) sudah ditarik garis pemisah yang tegas antara wilayah kekuasaan
Belanda (Nederlandsch-Indie) dan wilayah kekuasaan Inggris (The Straits
Settlement).
 


Garis pemisah sejak 1824 inilah yang secara defacto membedakan wilayah
Indonesia yang sekarang dengan negara-negara luar (Australia, Malaysia,
Singapoera dan Filipina). Semua itu bermula pada tahun 1605 dimana skuadron Belanda
menaklukkan benteng Portugis di Amboina; Pada tahun 1610 Belanda mengusir
Portugis di pantai Koromansel (India). Pada tahun 1612 pelaut Belanda berhasil
mengusir Portugis di Solor dan Koepang yang kemudian pemukim Portugis bergeser
ke bagian timur pulau Timor (kini Timor Leste). Pada tahun 1641 skuadron
Belanda menaklukkan Malaka. Pada tahun 1643 Belanda merintis penemuan (benua)
Australia. Pada tahun 1653 Belanda membuka koloni baru di Cape Town, Afrika
Selatan. Lalu kemudian Belanda mengusir Spanyol dari Maluku dan terakhir pada
tahun 1657 Belanda mengusir Spanyol dari Manado. Belanda mengusir Portugis Sri
Lanka tahun 1658 dan Malabar (India) tahun 1661. Belanda membuat koloni di
Pantai Barat Sumatra sejak 1665. Dalam perkembangannya Inggris muncul dan pada
tahun 1685 membuat koloni di Bengkulu. Lalu wilayah Belanda direbut Inggris di Natal,
Tapanuli tahun 1751; Sibolga tahun 1755. Dengan posisi tersebut, pada tahun
1775 Inggris membuat koloni di Australia (lambat laun orang Belanda terusir
dari Australia dan Selandia Baru). Pada tahun 1779 skuadron Inggris dipindahkan
dari Madras, India ke Bengkulu dan kemudian Inggris merebut Padang dari Belanda
tahun 1781 dan kemudian Inggris mendirikan koloni di Penang pada tahun 1785.
Saat Napoleon menguasai Belanda pada tahun 1795, menjadi kesempatan bagi
Inggris merebut wilayah Belanda di pantai Afrika Selatan dan Pantai Malabar
tahun 1795; Sri Lanka tahun 1796 dan Pantai Koromandel 1798. Selanjutnya, setelah
VOC/Belanda dibubarkan tahun 1799 (di bawah Napoleon), lalu pada tahun 1800 dibentuk
Pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Jawa. Lalu Inggris melakukan invasi
ke Jawa pada tahun 1811. Dengan kekalahan Prancis pada tahun 1815 (Perang
Waterloo), maka Pemerintah Hindia Belanda dipulihkan pada tahun 1816. Inggris
yang hanya tersisa di Bengkulu dan Penang, mulai membentuk koloni baru di
Singapoera pada tahun 1819. Terakhir pada tahun 1824 (Traktak London) terjadi
tukar guling antara Bengkulu (Inggris) dan Malaka (Belanda).
 

Dalam hal ini ada kesan, rasa risih dan iri
orang-orang Inggris tetapi ingin memilikinya, mulai mengutak-atik nama wilayah
Hindia Belanda yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal itulah diduga mengapa
RJ Logan memberi nama jurnalnya dengan nama “Indian Archipelago”, nama yang
sudah lama ditinggalkan oleh para penulis/peneliti Belanda (Indisch Archipel),
karena mereka semua orang Belanda sejak 1824 ingin fokus dan hanya membatasi kajiannya
di wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda) saja.
 


Orang-orang Inggris di wilayah The Straits Settlement yang berpusat di
Singapoera yang telah membangkitkan nama “Indian Archipelago” kembali, lalu George
Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan masing-masing mengusulkan nama
baru untuk Hindia Belanda yang dimuat di Journal of the Indian Archipelago and
Eastern Asia, 1850. George Samuel Windsor Earl mengusulkan nama Indunesia atau
Malayunesia sedangkan James Richardson Logan mengusulkan nama Indonesia. James
Richardson Logan membedakan nama Indunesia versi Earl dengan nama Indonesia
karena ingin merujuk pada asal-usul kata lama bahasa Yunani Indos (India) dan
Nesos (pulau). Dengan demikian sejak tahun 1850 untuk nama wilayah Kepulauan
Hindia Belanda telah muncul tiga nama: Indunesia, Malayunesia dan Indonesia. James
Richardson Logan sendiri tetap konsisten dengan nama Indonesia di dalam
artikelnya yang dimuat di Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Tentu
saja orang-orang Belanda di Hindia Belanda tidak mengubris usulan/pengadopsian
nama Indonesia oleh orang-(orang) Inggris tersebut. Lantas bagaimana dengan
orang-orang Inggris lainnya sendiri?
 

Sebagaimana lazimnya, setiap orang bisa melakukan
penelitian dimana saja. Sudah barang tentu, para peneliti Inggris jika
melakukan penelitian di wilayah Hindia Belanda harus mendapat izin pemerintah Hindia
Belanda. Akan tetapi apa yang ditulis dan nama apa yang diberikan di dalam
tulisan mereka adalah urusan masing-masing peneliti. Dalam hal inilah para
peneliti Inggris memilih nama wilayah sebagai nama politik (Hindia Belanda)
atau nama alamiah yang diusulkan oleh para ahli sebagai Indonesia. Para
penulis/peneliti Inggris utamanya, sudah tentu lebih nyaman menggunakan nama
Indonesia.
 


JC Ross seorang Inggrsi dalam artikelnya berjudul “Review of the Theory
of Coral Fomations’ yang dimuat dalam jurnal/majalah Belanda Natuurkundig
tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1855 menyebut nama Indonesia. Tampaknya
sebutan/nama Indonesia terus mengalir deras diantara para penulis/peneliti
Inggris. Lambat laun orang-orang Inggris lebih terbiasa nama Indonesia daripada
nama Nederlandsch-Indie. Seoramg aktivis Belanda, Edward Douwes Dekker memberi
nama Insulinde di dalam novelnya Max Havelaar yang terbit tahun 1860. Dalam hal
ini Insulinde diturunkan dari kata insula (pulau) dan Inde (Hindia). Nama
Indonesia kemudian sudah disebut dalam buku Cyclopædia of India and of Eastern
and Southern Asia, Commercial, Industrial and Scientific karya Edward Green
Balfour yang diterbitkan Scottish & Adelphi Presses, 1871.

Nama Indonesia dan nama Insulinde terus bersaing di
berbagai tempat dan kesempatan. Nama Indonesia berasal dari orang Inggris, nama
Insulinde dari orang Belanda. Lantas bagaimana perkembangan selanjutnya?

Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama Indonesia Diperkenalkan
RJ Logan: Mengapa Kemudian Muncul Singkatan Indon?

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top