*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Dr Tjipto Mengoenkoesoemo
dan Dr Abdoel Hakim Nasoetion sama-sama lulus Docter Djawa School pada tahun
1905 dan kemudian sama-sama ditempatkan sebagai dokter pribumi di rumah sakit
kota Batavia (kini RSCM). Setelah sekian lama keduanya kembali bertemu di dalam
partai yang sama Nationaal-Indische Partij (NIP) yang didirikan tahun 1919. Dr
Abdoel Hakim Nasoetion menjadi ketua NIP cabang Pantai barat Sumatra. Pengurus
pusat Nationaal-Indische Partij (NIP) atau Sarekat Hindia (SH) dipimpin oleh
Soewardi Soerjaningrat. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sarekat Hindia (Nationaal Indische
Partij) adalah organisasi pergerakan nasional yang merupakan kelanjutan dari
Indische Partij (IP) setelah dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Sarekat Hindia memiliki fokus perjuangan politik yang berbeda dengan basis
massa yang sempat bertransformasi dari kelompok Indo-Eropa ke gerakan radikal
petani bumiputera. Setelah para tokohnya diasingkan dan IP dilarang, wadah
perjuangan ini sempat berganti nama menjadi Insulinde. Pada tahun 1919, nama
Insulinde secara resmi diubah menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Fokus
Perjuangan: Persatuan Multietnis: Menyerukan kerja sama antara kaum peranakan
(Indo) dan kaum bumiputera untuk kemerdekaan Hindia Belanda. Gerakan Radikal
Petani: Sarekat Hindia aktif mengorganisasi kaum petani di pedesaan untuk
melakukan perlawanan terhadap kebijakan eksploitatif rezim kolonial. Karena
corak politiknya yang radikal dan dianggap membahayakan keamanan umum, Sarekat
Hindia mendapat tekanan berat dari pemerintah kolonial Belanda. Pembatasan
ruang gerak dan penangkapan para tokohnya membuat organisasi ini tidak berumur
panjang dan akhirnya membubarkan diri pada awal tahun 1923 (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Indisch
Partij menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP)? Seperti disebut di atas, Indisch
Partij yang didirikan akhir tahun 1912 dilarang pada tahun 1913. Para aktivisnya
membentuk Insulinde yang kemudian menjadi NIP pada tahun 1919. Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo kembali bertemu kawan lama Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Lalu
bagaimana sejarah Indisch Partij menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP)? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Sejarah Pers di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Indisch
Partij Menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP); Kawan Lama Dr Abdoel Hakim
Nasoetion
Pada tahun 1917 Insulinde mengadakan Kongres Insulinde yang keenam di
Semarang (lihat De Indier, 26-05-1917). Kongres pertama sendiri diadakan pada
tahun 1913 di Semarang (lihat De expres, 20-01-1913). Dalam kongres ini juga
turut aktif Indische Partij cabang Semarang. Kongres Insulinde yang keenam ini
(1917). Asosiasi Insulinde yang didirikan di Bandung pada tanggal 2 September
1907 tersebut (tanggal 23 Oktober tahun yang sama, pengakuan sebagai badan
hukum menyusul untuk jangka waktu 29 tahun) kemudian relokasi ke Semarang pada
tahun 1910. Sepulang dari Belanda, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi anggota
Insulinde cabang Soerakarta yang mana kemudian majalah Modjopahit yang terbut
tahun 1915 dipimpin Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi organ dari Insulinde.
Dalam Kongres Insulinde yang keenam di Semarang tahun 1917 ini juga turut
dihadiri Dr Tjipto Mangoenkoesoemo.
Surat
kabar De Indier pertama kali terbit di Semarang pada tanggal 4 Januari 1917 di
bawah pemimpin redaksi JR Razoux Kuhr. Lantas mengapa namanya diberi De Indier?
Kata Indier berarti Orang Hindia (apapun ras dan suku bangsanya yang menjadi warga
Hindia Belanda). Nama De Indier sudah pernah digunakan di Belanda sebagai nama
majalah dimana dalam pendiriannya (1913) termasuk Dr Tjipto Mangoenkoeoseomo
(yang tengah diasingkan di Belanda). Namun kemudian Dr Tjipto mengundurkan
diri. Surat kabar De Indier yang diterbitkan di Semarang menjadi organ dari
Insulinde (berbahasa Belanda), yang mana organ dari Insulinde sebelumnya diberi
nama “Insulinde”. Sedangkan organ lainnya dari Insulinde berbahasa Melayu yang
diberi nama Modjopait. Surat kabar Modjopait ini diterbitkan pertama pada tahun
1915 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-09-1915).
Disebut majalah Doenia Bergerak (di Soerakarta) akan berhenti tanggal 1 Oktober
sehubungan dengan kasus delik pers pemimpin redaksinya Darmakoesoema (anggota
Persatuan Pegawai Kereta Api dan Trem). Darmakoesoema dituntut karena artikel
yang dimuat atas nama Djojobojo. Lalu kemudian diketahui penulis artikel
sebenarnya dengan nama alias Djojobojo adalah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo.
Sebagaimana diketahui, pada saat Dr Tjipto Mangoenkoesoemo masih di Belanda
turut menghadiri pertemuan umum ISDV atas nama Persatuan Pegawai Kereta Api dan
Trem di Hindia. Setelah majalah Doenia Begerak berhenti, lalu namanya diubah
menjadi Modjopait di bawah pimpinan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Perlu
ditambahkan disini, surat kabar De expres yang terbit di Bandoeng yang menjadi
organ dari Indische Partij telah menghilang sejak akhir Juli 1914. Sementara
organ berbahasa Melayu Hindia Moelia juga menghilang seiring dengan kepergian
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang mejadi pemimpin redaksinya diasingkan ke Belanda
pada tahun 1913. Catatan: nama Insulinde
pertama kali diperkenalkan oleh Edward Douwes Dekker di dalam novelnya Max
Havelaar (1869). Nama Insulinde ini kemudian pertama kali digunakan oleh Dja
Endar Moeda pada tahun 1901 sebagai nama organ Medan Perdamaian. Organisasi
kebangsaan Medan Perdamaian didirikan Dja Endar Moeda di Padang pada tahun
1900. Organ/majalah Insulinde ini menghilang seiring dengan delik pers yang dialami
Dja Endar Moeda yang dihukum cambuk dan diusir dari kota Padang pada tahun
1905.
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di dalam Kongres Insulinden keenam di Semarang menyatakan
keinginan agar Insulinde bergabung dengan apa yang disebut Komite Nasional,
yang telah bertemu di Jogja pada tanggal 20 lalu dalam kaitannya dengan
pemilihan Dewan Rakyat atau Volksraad yang akan dimulai tahun 1918 (lihat De
locomotief, 29-05-1917). Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memandanh Hindia berparlemen
ini juga sesuai dengan tujuan Indische Partij di masa lalu.
Indische
Bond didirikan tahun 1898 di Batavia, organisasi untuk menampung orang-orang
Indo Eropa. Oleh karena ada perbedaan diantara para anggota, lalu kemudian
membentuk organisasi pecahan tahun 1907 yang diberi nama Insulinde (di
Bandoeng). Seperti disebut sebelumnya, karena metode Indische Bond kurang
dinamis, lalu pada tahun 1912 suatu komite yang diberi nama Komite Indische
Partij dibentuk di Bandoeng yang kemudian pada bulan Agustus melakukan kudeta
di Indische Bond di Batavia yang menjadi sebab terbentuknya partai Indische
Partij, yang secara resmi didirikan di Bandoeng pada tanggal 25 Desember 1912.
Indische Partij mengusung metode perjuangan secara radikal, semantara sisa
Indische Bond hanya dapat bertahan seadanya di Batavia. Indische Bond dan
Indische Partij menjadi dua organisasi yang berbeda. Namun dalam perkembangan
yang singkat, gerakan radikal Indische Partij terhenti karena statutanya ditolak
pemerintah pada bulan April 1913. Agitasi yang dilancarkan para anggota
Indische Partij pada bulan Juli 1913 menyebabkan EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto
dan Soewwardi pada bulan Agustus ditangkap dan kemudian diasingkang ke Belanda
pada bulan September 1913. Ketiga pengasingan ini dihantar oleh Insulinde
cabang Batavia dan seiring dengan pelarangan Indische Partij lalu Insulinde
menampung para eks Indische Partij yang kemudian secara aktif Insulinde mendukung
pembiayaan ketiganya di Belanda melalui Tadofonds. Sementara itu Indische Bond
yang sebelumnya lesu darah kemudian didukung oleh para lawan-lawan politik
Indische Partij seperti Karel Wijbrand di Batavia. Dalam perkembangannya,
Insulinde yang awalnya berpusat di Bandoeng kemudian berpindah ke Semarang.
Ringkasnya: dinamika politik yang semakin kencang di Hindia, dan
sehubungan dengan telah terbentuk dan dimulainya Parlemen Hindia (Volksraad)
pada tahun 1918, organisasi Insulinde berganti nama menjadi Nationaal Indische
Partij (NIP) pada tahun 1919 yang mana sebagai ketuanya adalah Soewardi
Soerjaningrat (yang belum lama kembali dari Belanda). NIP ini dapat dikatakan
suksesi dari Iindische Partij sebelumnya.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kawan
Lama Dr Abdoel Hakim Nasoetion: Soewardi Soerjaningrat Adik Kelas Dr Tjipto Mengoenkoesoemo dan Dr Abdoel Hakim
Nasoetion di Docter Djawa School/Stovia
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










