*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Apakah sudah terbit buku
“Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” sebanyak
10 jilid dalam bentuk ebook? Tampaknya belum. Sebagaimana pernah dijanjikan Kementerian
Kebudayaan bahwa buku Sejarah Indonesia sebanyak 10 jilid akan dibuka akses ke
publik pada bulan Februari ini dalam bentuk ebook (gratis). Hari ini sudah
berada di hari-hari terakhir bulan Februari. Mengapa buku 10 jilid itu perlu kita
baca? Sejarah adalah narasi fakta dan data, narasi tentang yang benar-benar
terjadi dan ada buktinya. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan

Kecerdasan
Buatan (AI) memungkinkan sejarawan untuk memproses volume data yang sangat
besar dalam waktu singkat melalui teknik text-mining. Platform seperti
Transkribus menggunakan teknologi AI untuk membaca dan mentranskripsikan tulisan
tangan kuno (seperti Latin abad pertengahan atau Gotik) yang sulit dibaca mata
manusia. AI tidak hanya membantu dalam bentuk teks, tetapi juga dalam
menghidupkan kembali masa lalu secara visual. Alat seperti HyperWrite atau
Squibler dapat membantu menyusun draf narasi peristiwa sejarah atau fiksi
sejarah berdasarkan basis data yang luas. Meskipun efisien, penggunaan AI dalam
sejarah memiliki risiko yang signifikan. AI sering menghasilkan
“halusinasi” berupa referensi atau kutipan palsu dan dapat membawa
bias dari data pelatihan yang digunakan. Terdapat kekhawatiran bahwa AI dapat
menyederhanakan peristiwa kompleks secara berlebihan atau menciptakan narasi
sejarah palsu (deepfake). Menirukan tokoh sejarah dengan AI berisiko meremehkan
pengalaman hidup asli individu tersebut. Secara umum, AI dianggap sebagai alat
bantu, bukan rekan penulis. Untuk mendapatkan hak cipta penuh, kontribusi
kreatif manusia tetap menjadi syarat utama (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah
adalah narasi fakta dan data)? Seperti disebut di atas, Indonesia sekarang
telah memiliki buku sejarah terbaru sebanyak 10 jilid. Apakah isi buku itu
sesuai dengan dinamika kebangsaan dalam arus global? Itu satu hal. Lalu
bagaimana sejarah AI dan penulisan sejarah (sejarah adalah narasi fakta dan data)?
Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
AI dan
Penulisan Sejarah, Sejarah adalah Narasi Fakta dan Data; Tentang Buku Sejarah
Indonesia 10 Jilid
Apakah perlu mempercai sepenuhnya AI? Dalam urusan
data dan informasi sejarah, AI dapat dijadikan sebagai alat pemandu awal apa
yang sedang dipikirkan, namun dalam urusan memastikan dan menyimpulkan bukan
urusan AI lagi. Lalu urusan siapa? Tentu saja menjadi urusan setiap orang yang
berpikir. AI tetaplah sebagai alat bantu saja. Mari tanyakan AI siapa orang
Indonesia yang menjadi sarjana pertama. AI menjawab sebagai berikut:
“Mahasiswa Indonesia
pertama yang berhasil meraih gelar sarjana adalah Raden Mas Panji Sosrokartono
(sering disebut Sosrokartono). Beliau adalah kakak kandung dari pahlawan
nasional RA Kartini. Ia mulai menempuh pendidikan tinggi di Belanda pada tahun
1898, awalnya di Polytechnische School di Delft (jurusan teknik sipil) sebelum
pindah ke Universitas Leiden. Beliau lulus dari Fakultas Sastra Timur,
Universitas Leiden, dan meraih gelar sarjana (Doctorandus) pada tahun 1908.
Dijuluki “Si Jenius dari Timur”, ia dikenal menguasai puluhan bahasa
asing (sekitar 26 hingga 37 bahasa) dan pernah bekerja sebagai wartawan perang
untuk koran Amerika, The New York Herald Tribune. Hari Sarjana Nasional:
Sebagai bentuk penghormatan atas pencapaiannya, tanggal lahir Sosrokartono, 29
September, diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional di Indonesia”.
Lantas apakah jawaban AI menjadi kesimpulan yang
pasti? Yang jelas itu menjadi wilayah penyelidikan sejarah. Oleh karena itu
setiap orang harus memastikannya, setiap orang harus mengujinya apakah benar
atau tidak (valid) dengan kerangka berpikir yang sesuai (reliabel). Pertama:
apa definisinya Indonesia? Kedua, tunjukkan kejadian yang sebenarnya dan
berikan bukti yang dapat diverifikasi. Lalu yang ketiga: analisis dan simpulkan
apakah jawaban AI dapat diterima atau ditolak.

Pada tahun 1860 Sati
Nasoetion alias Willem Iskander lulus ujian sekolah guru di Amsterdam dengan
sertifikat (lihat Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de
opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk
der Nederlanden, voor den jare 1860, Volume 30, D. du Mortier en zoon). Ismangoen Danoe Winoto lulus akademi pemerintahan di
Delft tahun 1875 (lihat De standaard, 15-07-1875). Willem Iskander dan Ismangoen
Danoe Winoto bukan sarjana. Willem Iskander lulus setingkat sekolah menengah; Ismangoen
Danoe Winoto lulus akademi tiga tahun. Pada tahun 1880 Oei Jan Lee lulus ujian
naik dari kelas tiga ke kelas empat di sekolah menengah (HBS) K Willem III
School di Batavia (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 11-08-1880). Demikian juga Tan Tjoen Liang lulus tanpa
syarat. Nama-nama Raden Mas Notodirodjo, Moentadjieb dan Raden Mas Soemito
tidak ada dalam daftar yang lulus ujian. Apakah mereka bertiga gagal/menunda
studi? Pada kelas terendah yang naik ke kelas dua semuanya nama-nama
Eropa/Belanda. Praktis nama-nama non Eriopa/Belanda yang dinyatakan lulus pada
tahun 1880 hanya Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang. Dalam daftar kelulusan HBS di
K Willem III hanya terdapat nama Tan Tjoen Liang, naik dari kelas empat ke
kelas lima (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 07-11-1881). Nama Tan Tjoen Liang hanya satu-satunya non
Eropa/Belanda untuk semua kelas. Lalu bagaimana dengan Oei Jan Lee? Oei Jan Lee
melanjutkan studi HBS di Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1881). Tan Tjioen Liang kemudian terinformasikan sudah
berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883). Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen
Liang Tan, seorang Cina, putra kapten Cina di Buitenzorg (kini Bogor). Oei Jan Lee lulus ujian akhir HBS di Leiden (lihat
Het nieuws van den dag: kleine courant, 09-07-1884). Disebutkan di Leiden ujian (ujian masuk perguruan
tinggi) di Gymnasium diantaranya Oei Jan Lee afdeeling a (bidang hukum). Pada
tahun 1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di bidang hukum di
Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan mendapat gelar
sarjana hokum tahun 1888 (lihat Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage,
15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan studi ke
tingkat doktoral. Pada tanggal 16 Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar
doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889). Disertasi Oei Jan Lee lahir di Banda berjudul “Over
de aansprakelijkheid des Verkoopers voor de verborgen gebreken der verkochte
zaak” (Mengenai tanggung jawab Penjual atas cacat tersembunyi pada barang yang
dijual). Setelah sempat menunda kuliah, Tan Tjioen Liang akhirnya menyelesaikan
studinya di Delft dengan mendapat gelar insinyur mesin di tahun 1894.
Raden Kartono di HBS Semarang lulu pada tahun 1896 (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-06-1896).
Disebutkan diadakan ujian HBS di Batavia
dimana salah satu yang lulus adalah Reden Pandji Sosro Kartono. Raden Kartono berangkat ke
Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,
18-07-1896). Disebutkan kapal Prinses Marie dengan tujuan Nederland berangkat
tanggal 16 Juli. Dalam manifes kapal terdapat nama Raden Kartono. Seminggu
kemudian surat kabar di Bandoeng memberitakan Raden Kartono, anak dari Bupati
Djapara disebutkan akan kuliah di Polytechnische School di Delft (lihat De
Preanger-bode, 27-07-1896). Keberadaan Raden Kartono sebagai mahasiswa di
Belanda diberitakan tahun 1898 (lihat De Telegraaf, 10-08-1898). Disebutkan
Raden Mas Pandji Sosro Kartono, anak dari bupati Japara sebagai mahasiswa di
Delft.

De nieuwe
vorstenlanden, 03-10-1898: ‘Sosro Kartono, penerjemah terkemuka teks-teks Jawa
wajang-orang, seperti yang diketahui umum, adalah putra bupati Japara dan
hingga kini belajar di Sekolah Politeknik di Delft. Namun, ia menunjukkan
sedikit keinginan atau bakat dalam bidang teknik dan karena itu meminta izin
kepada ayahnya untuk meninggalkan Delft dan mempelajari bahasa-bahasa Oriental
di kepulauan kita di Universitas Leiden. Bupati Japara baru-baru ini
mengirimkan telegram persetujuannya atas permintaan ini. Ia juga sibuk mengajar
beberapa bait Melayu (pantun) kepada para penyanyi jalanan Italia. Tambahan
yang sangat disambut baik ini untuk repertoar jalanan Italia bagi pengunjung
Pameran di Den Haag akan dibuka dengan “Nina bobo” yang terkenal di
dunia, yang dengannya banyak wanita Indonesia di Den Haag ditidurkan oleh bayi
mereka. Demikianlah Insulinde’.
Lalu apakah Raden Kartono telah mengundurkan diri
sebagai mahasiswa teknik di Delft? Dalam rapat umum kongres bahasa dan sastra
ke-25 di Den Haag, diundang Raden Mas
Sosro Kartono untuk berbicara tentang pengaruh bahasa Belanda di Jawa (lihat
Soerabaijasch handelsblad, 28-09-1899). Raden Kartono menjadi begitu penting di
Belanda. Boleh jadi hal itu karena Raden Kartono dapat dikatakan pribumi
(paling) terpelajar di Belanda.
Dalam perkembangannya
nama Raden Kartono di Polytechnische School di Delft tidak terinformasikan
lagi. Mengapa? Apakah Raden Kartono gagal? Di Belanda sekolah tinggi teknik
(Polytechnische School) hanya satu-satunya di Delft. Satu yang pasti siswa asal
Hindia non Eropa/Belanda yang telah berhasil di kampus teknik tersebut adalah Tan
Tjioen Liang. Pada tahun 1901 diberitakan nama Raden Kartono di Delft, tetapi
tidak di Polytechnische School (lihat De nieuwe courant, 25-08-1901).
Disebutkan dalam ujian negara untuk universitas dari tanggal 22 hingga 24
Augustus yang mana terdapat 8 kandidat untuk faculteiten der godgeleerdheid der
rechtsgeleerdheid en der letteren en wijsbegeerte (fakultas fakultas teologi,
hukum, dan sastra dan filsafat). yang mana lima kandidat lulus diantaranya
Raden Mas Pandji Sosro Kartono.
Raden Kartono tampaknya tidak mencapai tujuan
awalnya untuk menjadi sarjana tekni (insinyur). Raden Kartono mulai lagi tahun
1901 dari awal untuk masuk universitas (dalam bidang ilmu-ilmu sosial).
Sementara itu, di Belanda terinformasikan Abdoel Rivai tengah mengikuti studi
kedokteran di Amsterdam. Abdoel Rivai kelahiran Bengkoelen tiba di Belanda
tahun 1899.

Pada tahun 1903 Raden
Kartono lulus ujian kandidat dalam bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia
Timur (lihat Algemeen Handelsblad, 30-06-1903). Disebutkan di Leiden, lulus
ujian kandidat in de taal en letterkunde van den Oost-lndischen Archipel, RM P
Sosrokartono’.
Pada tahun 1903 dua guru dari pantai barat Sumatra
berangkat ke Belanda. Kedua guru tersebut adalah Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan, guru di Padang Sidempoean alumni sekolah guru (kweekschool) di
Padang Sidempoean; Baginda Djamaloedin asisten redaksi majalah Insulinde di
Padang, alumni sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (kini Bukittinggi).

Sambil kuliah, Abdoel
Rivai juga adalah anggota redaksi majalah dwibulanan Bintang Hindia yang diterbitkan
di Amsterdam. Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin kemudian turut
bergabung. Pada tahun 1905, Soetan Casajangan menulis artikel di Bintang Hindia
yang pada intinya mengajak para putra-putri pribumi di Hindia untuk melanjutkan
studi di Belanda. Guru tetaplah guru. Soetan Casajangan di dalam artikel itu
juga mendeskripsikan universitas mana
yang bisa dipilih serta memberi tip bagaimana mempersiapkan diri di Hindia,
petunjuk selama pelayaran ke Belanda dan bagaimana beradaptasi di Belanda. Sirkusi
majalah Bintang Hindia dengan agen utama di Bandoeng. Sejak itulah tampaknya
jumlah pelajar pribumi di Hindia mengalir cepat untuk studi ke Belanda. Pada
tahun 1907 Soetan Casajangan lulus ujian akhir mendapat akta guru LO (akta guru
untuk mengajar di sekolah Eropa/ELS). Soetan Casajangan tidak segera kembali ke
tanah air, tetapi melanjutkan studi keguruannya untuk mendapatkan akta guru MO
(mengajar di sekolah menengah). Pada tahun 1908 Soetan Casajangan menginisiasi
pendirikan organisasi pelajar/mahasiswa pribumi yang diberi nama Indische
Vereeniging yang mana sebagai ketua adalah Soetan Casajangan dengan sekretaris
dijabat Raden Soemitro. Lalu di dalam rapat tersebut dibentuk komisi untuk
menyusun statuta (AD/ART) yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang
berdomisili di Leiden yakni Soetan Casajangan, RM Soemitro, Hoesein Djajadiningrat
dan Raden Mas Kartono. Pada tahun 1908 ini Soetan Casajangan dan Raden Kartono terinformasikan
tinggal di alamat yang sama di Leiden.
Lantas bagaimana dengan studi Raden Kartono? Yang
jelas pada tahun 1908 ini ada sejumlah mahasiswa pribumi yang telah menyelesaikan
studinya. Pada bulan Desember
1907 Asmaoen lulus ujian akhir di Amsterdam (lihat Het vaderland, 21-12-1907). Abdoel
Rivai lulus ujian dokter di Amsterdam pada bulan juni 1908 (lihat De Telegraaf,
13-06-1908).
Dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa Dr Asmaoen lahir di Malang adalah pribumi pertama yang studi di
Belanda yang berhasil meraih gelar sarjana (bidang kedokteran). Pada bulan Juni 1908 Dr Asmaoen kembali ke tanah air
dengan menumpang kapal ss Vogel berangkat dari Amsterdam (lihat Haagsche
courant, 01-06-1908). Indische Vereeniging didirikan di kediaman Soetan
Casajangan di Leiden pada tanggal 25 Oktober 1908. Abdoel Rivai belum puas
dengan studinya dan masih di Belanda untuk melanjutkan studi ke tingkat doktoral. Sementara itu salah satu mahasiswa pribumi JE
Tehupeiory meninggal dunia (lihat Algemeen Handelsblad, 27-12-1908).
Pada bulan Maret 1909 Raden
Kartono akhirnya berhasil menyelesaikan studinya (lihat De locomotief, 09-03-1909). Disebutkan pribumi lulus ujian sastra Raden
Sosrokartono di Leiden mendapat gelar sarjana in de talen en letterkunde van
den Oost-Indischen archipel. Bagaimana dengan Soetan Casajangan? Soetan Casajangan
juga lulus ujian akhir untuk mendapatkan akta guru MO pada tahun 1909 ini.
Seperti dikutip di
atas (AI) bahwa mahasiswa Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana
adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Narasi ini tampaknya tidak tepat. Fakta
bahwa mahasiswa asal Hindia (baca: Indonesia pada masa ini) pertama yang meraih
gelar sarjana adalah Oei Jan Lee (kelahiran Banda lulus tahun 1889), lalu
kemudian disusul Tan Tjioen Liang (kelahiran Bogor lulus tahun 1894), Raden
Asmaoen (kelahiran Malang lulus 1907); Abdoel Rivai (kelahiran Bengkulu tahun 1908);
dan kemudian Raden Mas Kartono (kelahiran Jepara lulus tahun 1909).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Tentang
Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid; Apakah Sesuai dengan Dinamika Kebangsaan dalam
Arus Global?
Sejarah adalah narasi fakta dan data, kejadian yang
pernah terjadi da nada buktinya. Narasi sejarah akan diwariskan. Namun narasi
sejarah adalah juga bidang perhatian riset, maka narasi sejarah juga senantiasi ada yang
mengujinya, apakah di masa lalu, pada masa ini maupun pada masa dating. Hal itu
juga nanti pada saat semua orang dapat mengakses buku Sejarah Indonesia 10
Jilid, apakah sesuai dengan dinamika riset dalam arus global yang semakin terbuka
dan bersifat digital. Dalam hal ini narasi sejarah berdasarkan AI juga perlu
diuji: siapa orang pribumi pertama yang menggunakan nama Indonesia..
AI menarasikan sebagai
berikut: “Orang pribumi pertama yang menggunakan nama “Indonesia”
adalah Ki Hajar Dewantara. Ia menggunakan istilah tersebut pada tahun 1913 saat
mendirikan biro pers di Belanda dengan nama Indonesisch Pers-bureau. Perhimpunan
Indonesia adalah organisasi pergerakan nasional pertama yang secara resmi
menggunakan nama “Indonesia” pada tahun 1925 (sebelumnya bernama
Indische Vereeniging). Mohammad Hatta merupakan tokoh yang gencar mempopulerkan
nama ini di forum internasional melalui aktivitas politiknya bersama
Perhimpunan Indonesia. M Tabrani adalah tokoh yang pertama kali mengusulkan
nama “Bahasa Indonesia” (menggantikan istilah Bahasa Melayu) pada
Kongres Pemuda I tanggal 2 Mei 1926. Secara historis, nama “Indonesia”
sendiri pertama kali dicetuskan oleh orang asing, yaitu James Richardson Logan
(seorang pengacara Skotlandia) dan George Samuel Windsor Earl (etnolog Inggris)
pada tahun 1850”.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog
ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen
dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya
memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri
bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah
dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog
ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku
sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi
Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola
di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah
Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres
Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










