*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini
Selat Bab el-Mandeb adalah selat
sempit ((chokepoint) yang menjadi jalur perairan strategis yang menghubungkan
Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat ini memisahkan dua
benua, yakni Asia (Semenanjung Arab) dan Afrika (Timur Laut Afrika). Pada masa
ini terletak di antara negara Yaman di sisi Asia, serta Djibouti dan Eritrea di
sisi Afrika memiliki lebar sekitar 32 km (20 mil). Pulau Perim membagi selat
ini menjadi dua saluran: saluran barat seluas 26 km dan saluran timur (Bab
Iskender) seluas 3 km. Dalam bahasa Arab, “Bab el-Mandeb” berarti
“Gerbang Air Mata” atau “Gerbang Duka Cita”. Pengantar Metode Riset Bisnis

Selat
Hormuz adalah jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menghubungkan
Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sejarah Selat Hormuz mencatat
transisi kawasan ini dari pusat perdagangan kuno yang makmur menjadi titik api
geopolitik paling strategis di dunia modern. Nama “Hormuz” diambil
dari Kerajaan Hormuz kuno yang menguasai wilayah tersebut antara abad ke-10
hingga ke-17. Sejak abad ke-10, selat ini telah menjadi gerbang utama
perdagangan dunia yang menghubungkan India dan Tiongkok dengan Timur Tengah
serta Eropa. Lokasinya yang strategis membuat kekuatan Eropa, terutama
Portugal, menduduki wilayah ini pada awal abad ke-16 untuk mengendalikan jalur
rempah-rempah sebelum akhirnya direbut kembali oleh kekuatan lokal (Persia)
dengan bantuan Inggris pada 1622. Sejak penemuan cadangan minyak besar di Timur
Tengah pada abad ke-20, Selat Hormuz bertransformasi menjadi “urat nadi
energi dunia”. Kini merupakan jalur bagi sekitar seperlima (20%) pasokan
minyak dunia dan lebih dari seperempat perdagangan minyak dan gas maritim
global. Secara hukum internasional, Selat Hormuz dikategorikan sebagai perairan
internasional yang terbuka bagi pelayaran global, namun secara geografis diapit
oleh Iran dan Oman (AI
Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Selat
Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan) Eropa? Seperti
disebut di atas, dua selat ini sejak dahulu telah menjadi jalur masuk ke Laut
Merah dan ke Teluk Persia dalam navigasi pelayaran perdagangan. Pada masa ini terdapat
kekuatan Arab di Laut Merah dan kekuatan Iran di Teluk Persia. Lalu bagaimana
sejarah Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan)
Eropa? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Selat
Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam Navigasi Pelayaran (Perdagangan) Eropa;
Arab vs Iran
Pelaut-pelaut Eropa pertama mencapai Selat Hormuz
dan Selat Bab el-Mandeb berasal dari Portugal. Bagaimana dengan pelaut Belanda?
Pada bulan April 1595 ekspedisi pertama Belanda berangkat dari Amsterdam menuju
Hindia Timur. Ekspedisi ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Saat ekspedisi
ini mencapai Hindia Timur di pantai barat Sumatra (pulau Enggano), buku Jan
Huyghen Linschoten berjudul “Beschrijvinge van de gantsche custe van Guinea,
Manicongo, Angola, Monomotapa, ende tegenover de Cabo de S. Augustijn in
Brasilien yang menyalin sebagian dari buku Portugis berjudul ” yang disalin
dari buku Portugis berjudul “Itinerario” terbit di Amstredan. Di dalam buku
Portugis inilah ditemukan nama Pulau Ormus, antara Persia dan Arabia, yang
kemudian menjadi asal usul nama Selat Hormuz.
Beschrijvinge van de
gantsche custe van Guinea, Manicongo, Angola, Monomotapa, ende tegenover de
Cabo de S. Augustijn in Brasilien …door Jan Huyghen Linschoten, 1596: ‘Benteng-benteng
Portugis di Afrika, atau Barbar, adalah, yaitu: Tangier, Zepta, Arzilla,
Eylandt van Madera, Flemish Eylanden, As Ilhas dos Açores, sebagaimana adanya:
Tercera, Sint Michiel, Santa Maria, Sint Iorgie, Pico, Fayael, Gratiosa;
d’Eylanden Flores dan Corvo; d’Eylanden van Cabo verde adalah, Sint Jacob, O Fogo
Mayo, Boa vista, Sant Antonio, dan Sant Nicolaes; Arguyn sebuah benteng di
negara Guinea; The Myne of Saint Iorgie, sebuah kastil yang berdekatan dengan
Custe of Aethiopiae yang sama; juga tidak di bagian depan Custe the Eyland del
Principe, Sant Thome, Atubon; Kerajaan Kongo dan Angola, dan Custe Ethiopia
yang sama, berada di bawah upeti Portugal; Eylandt Santa Helena; di sisi lain
Cabo de bona Esperança, benteng Soffala; Eylandeken dari Mozambik; Pulau Ormus,
antara Persia dan Arabia; kota dan benteng Diu; kota-kota dan benteng Daman,
Bacayn, Chaul, Goa, tempat tinggal para Viçeroy, semuanya terletak di pantai
India; Kota dan Benteng Kehormatan, Barcelor, Mangalor, Cananor, Cranganor,
Cochijn, Coulan, semuanya terletak bersama di Custe Indische yang sama, disebut
Malabar; Sebuah benteng di ‘t Eylandt van Seylon, disebut Columbo; Kota
Negapatan, dan Sant Thome, dan Custe of Choramandel; Kota dan Benteng Malaka;
d’Eylanden van Maluco, yaitu Tarnate, Tydor, Banda, dan Amboyna; Tanah dan
Pantai Brasilien, sepanjang 500 mil, dibagi menjadi delapan Kapten atau
pemerintahan, dari mana setiap tahunnya dibawa ke Portugal lebih dari 150 V
Duysent Arroben Suyckers, yaitu, setiap Arrobe terdiri dari 32 feri; Pelabuhan
tersebut bernama todos os Santos, atau Alderheylighen, tempat Gubernur
Brasilien melarangnya. Pendapatan tahunan biasa dari Mahkota Portugal berjumlah
lebih dari satu juta emas dan 100 ribu ducat setiap tahunnya’.
Lantas kapan nama Pulau Ormus dicatat menjadi nama
selat (Selat Hormuz)? Nama Ormus sebagai nama selat (Straat Ormus) paling tidak
sudah terinformasikan pada tahun 1826 (lihat Pieter Johannes Prinsen. “Geographische
oefeningen, of Leerboek der aardrijkskunde”. Uitgever
Johannes van der Hey en zoon, 1826). Pelaut Belanda
sendiri sudah mencapai pulau Ormus pada saat ekspedisi dipimpin P van den Broek
pada tahun 1616-1618. Saat itu Inggris ‘masih tidur’. Belanda sendiri sebelumnya
sudah menguasai Afrika Selatan sebelum melakukan ekspansi ke Arabia, Hindoestan
dan Suratte, Coromandel, Malabar.

Aktivitas perdagangan
Belanda (VOC) secara bertahap mulai dialihkan dari Maluku dan sekitarnya dan
dipusatkan di Batavia sejak 1619. Sebelumnya (1616-1618) ekspedisi di bawah
pimpinan P. van den Broek tiba di Arabia, Hindoestan dan Suratte. Kelak Pieter
van den Broecke, eerste Directeur van Suratte, Persien en Arabien. Sejak itu
berbagai tempat di jalur pelayaran menjadi wilayah-wilayah pengaruh kekuasaan
VOC termasuk Coromandel, Malabar, China hingga Jepang. Wilayah-wilayah
kekuasaan baru itu banyak diperoleh dari ‘pengusiran’ pelaut-pelaut Portugis.
Foto: P van den Broek, “Dubes “VOC di Jazirah Arab (lukisan 1720)
Pelaut-pelaut Belanda memulai kontak dengan Tanah
Arab yang diawali dengan ekspedisi yang dipimpin P. van den Broek tersebut. Pada
saat inilah pelaut-pelaut Belanda mengetahuai keberadaan pulau Ormus (pulau
yang berada di antara Persia dan Arabia. Surat kabar yang terbit di T’Antwerpen,
Nieuwe tijdingen, 15-11-1622 menyebutkan (pulau) Ormus di bawah (Raja/Kerajaan)
Persia (Coninck van Persien) yang menjadi wilayah Gouverneur van Ormus yang
berkedudukan di kota (Stadt) Ormus yang tengah berperang dengan Portugis.

Pada saat Belanda di
Arabia tersebut, Makkah dan Madinah sendiri berada di wilayah Yaman. Namun
dalam perkembangannya, wilayah Arabia dan Yaman saling menggantikan: Arabia
menjadi Yaman dan Yaman menjadi Arabia (lihat peta-peta Portugis). alam Peta
1689 (peta yang diterbitkan di Belanda buatan Portugis), di wilayah Laut Merah
yang sekarang sudah teridentifikasi nama Jeddah, suatu pelabuhan yang berada di
suatu teluk di sisi timur. Nama lainnya yang masih popular hingga kini antara
lain Suez. Nama-nama tempat di pedalaman seperti Mecca dan Medinah tidak
teridentifikasi dalam peta. Hal yang berbeda dengan pemahaman sekarang, jazirah
Arab yang sekarang kala itu, bagian utara adalah wilayah Yaman dan bagian
selatan adalah Arabia. Pada masa kini, bagian selatan dikenal sebagai wilayah
Yaman dan bagian utara adalah wilayah Saudi Arabia. Peta: Wilayah Laut Merah
(1689)
Portugis kembali merebut kota Ormus dari Persia dan
mengepung kastilnya sebagaimana dilaporkan surat kabar yang diterbitkan di
Amsterdam, Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 28-12-1624. Tampaknya yang
menjadi kekuatan Eropa di kawasan dari Laut Merah hingga Goa adalah Portugis.
Oprechte Haerlemsche
courant, 25-04-1669: ‘Berita berikut ini telah diterbitkan di Lisbon, Lisbon,
10 Maret. Baru-baru ini tiba sebuah kapal Prancis yang menyampaikan keluhan
khusus tentang perjanjian buruk yang diterimanya dari para perampok Aljazair,
yang telah berada di pantainya dan membawa sekitar 250 budak negro, senilai
50.000 mahkota, yang akan diampuni oleh Portugis. Kami telah menerima informasi
dari Goa, bahwa pada bulan April tahun sebelumnya, Wakil Raja Goa, yang
terpisah dari Goa, mengirimkan armada 14 kapal, masing-masing dengan 22 hingga
24 meriam, bersama dengan 14 kapal bersenjata yang lebih kecil, untuk
mengembalikan reputasi Portugis, yang sedang menyerang Pangeran Miscate sebagai
balas dendam, karena telah mengusir Portugis selama beberapa tahun. Namun
sebaliknya, Windt telah mencegahnya dua kali: meskipun demikian, sebagian dari
Armada ini, yang dikomandoi oleh saudara laki-laki Don Francisco di Melo, telah
memasuki pelabuhannya, dan telah membakar 80 kapal dari berbagai jenis bendera,
dan kemudian mengusainya dan menerima tunggakan setengah dari bea cukai Corigo.
Ia juga mengambil alih 4 kapal besar, yang dimuat dengan kuda Arab, sutra, dan
sejumlah besar mutiara, dengan 3 perahu layar, yang barang-barangnya dibagi di
antara para prajurit: sisa Armada ini mundur dan menangkap satu kapal berharga
lainnya, yang datang dari Monsellayatan dan dua kapal lainnya dari Banda, dekat
Bonvain, yang mana Pangeran kembali dijadikan upeti Portugal’.
Kerajaan Persia berpusat di kota Ispahan (lihat Oprechte
Haerlemsche courant, 05-01-1683): ”Ispahan, ibu kota Persia, 22 April 1682.
Melalui surat-surat dari Bender Abassi, melalui Ormus. Melalui surat-surat dari
Bender Abassi ini, juga telah dipahami bahwa Marquis de Tavora, Raja Muda
Hindia, telah tiba dari Lisbon ke Goa dengan 5 gallion; bahwa ia telah
mengumpulkan pasukan sebanyak 6.000 orang dan armada sebanyak 25 kapal dan 50
galliot, dibagi menjadi tiga skuadron; bahwa ia tidak lagi ingin mengeluarkan paspor
kepada orang Turki yang berdagang di Hindia Timur; dan bahwa ia telah menyita
semua surat berharga para perwira, bangsawan, dan tentara Portugis yang telah
mencoba bernegosiasi melawan perintahnya, dengan mengatakan bahwa mereka hanya
boleh berusaha mencari kekayaan melalui persenjataan demi kejayaan negara
mereka.
Dikatakan bahwa tiga
kapal dengan bendera Brandenburg, masing-masing membawa 300 orang dan
dilengkapi dengan 50 meriam, serta sebuah kapal perbekalan, telah tiba di
Samudra Hindia. Seorang duta besar dari Raja Siam telah tiba di Bender Abassi.
Beberapa duta besar masih berada di sana, yang telah dideportasi oleh Raja kita
atas biayanya sendiri selama masa tinggal mereka; di antara mereka ada beberapa
orang yang (tanpa ada urusan lain dengan istana ini) datang ke sini semata-mata
untuk menampilkan perdagangan mereka dengan prestise yang lebih besar. Seorang
Pangeran Siry (yang mengaku sebagai duta besar Polandia) telah tiba di sini
dengan rombongan 60 orang dari berbagai negara. Raja kita, setelah mendengar
kabar bahwa Abdel Aziz, Kan dari Usbeques, telah diusir dari Kerajaan Bocara
oleh saudaranya, dan telah mundur ke perbatasan Persia, memperkirakan hadiah
berupa kain sutra senilai 5.000 Toman, atau 225.000 Guilder, di samping jumlah
uang yang sama, yang dikirim kepadanya, dan dinyatakan bahwa Yang Mulia setiap
hari memerintahkan dan memberikan 100 Toman, atau 4.500 Guilder, untuk
pengusirannya: di sini juga, persiapan besar-besaran dilakukan untuk
menerimanya”.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Arab
vs Iran: Sejak Jan Huygen van Linschoten (1563-1611) dan Pieter van den Broecke
(1585-1640
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog
ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen
dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya
memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri
bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah
dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog
ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku
sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi
Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola
di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah
Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres
Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










